GOPOS.ID, GORONTALO — Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA) melalui Program Studi Promosi Kesehatan, Fakultas Teknik dan Ilmu Kesehatan (FTKES), menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Edukasi Konseling HIV/AIDS bagi Konselor Muda pada Rabu (21/10/2026). Kegiatan yang diikuti seluruh mahasiswa Program Studi Promosi Kesehatan semester 5 ini merupakan implementasi mata kuliah Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan untuk memperkuat kompetensi mahasiswa dalam edukasi, komunikasi, dan konseling HIV/AIDS.
Ketua Program Studi Promosi Kesehatan, Sry Ade Muhtya Gobel, S.I.Kom., M.I.Kom., menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan yang tidak cukup diperoleh melalui pembelajaran teoritis di ruang kelas.
“Mahasiswa Promosi Kesehatan perlu memiliki kemampuan menyampaikan informasi kesehatan secara benar sekaligus memahami bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Melalui pelatihan ini, kami ingin mereka mulai mengembangkan kompetensi tersebut sebagai bekal ketika terjun ke lapangan,” ungkap Sry Ade.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Dekan FTKES UNBITA, Nini A. Kiayi Demak, S.T., M.Si. Pelatihan ini juga diselenggarakan oleh Nanda Labado, S.Tr.Keb., M.K.M., dan Siti Maryam L.Z. Nngabito, S.KM., M.K.M., yang bertindak sebagai pelaksana sekaligus dosen pengampu mata kuliah Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan. Keterlibatan dosen pengampu menjadi bagian penting dalam memastikan pelatihan terintegrasi dengan capaian pembelajaran mahasiswa semester 5.
Pelatihan menghadirkan Ns. Vica Octavia, perawat di RSUD M.M. Dunda Limboto sekaligus konselor HIV, sebagai narasumber. Kehadiran praktisi memberikan perspektif langsung mengenai pentingnya ketepatan informasi, empati, serta etika dalam memberikan konseling kepada individu yang membutuhkan informasi atau pendampingan terkait HIV/AIDS.
“Dalam konseling HIV, pengetahuan saja tidak cukup. Konselor juga harus mampu mendengarkan, menjaga kerahasiaan, dan memberikan informasi tanpa menghakimi. Sikap tersebut penting agar individu merasa aman dan dihargai ketika membutuhkan layanan konseling,” demikian draf pernyataan Ns. Vica yang perlu dikonfirmasi sebelum dipublikasikan sebagai kutipan langsung.
Materi pelatihan juga relevan dengan tantangan edukasi HIV/AIDS di masyarakat, terutama masih adanya informasi keliru dan stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV. Mahasiswa sebagai calon promotor kesehatan perlu memahami bahwa pendekatan komunikasi yang tidak tepat dapat memperkuat prasangka, sedangkan edukasi berbasis fakta dan empati dapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik.
Sry Ade menjelaskan bahwa kemampuan mengedukasi masyarakat harus berjalan seiring dengan pemahaman terhadap kondisi sosial dan psikologis sasaran. Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan prinsip komunikasi yang menghargai individu, menjaga kerahasiaan, serta tidak menggunakan bahasa yang berpotensi menimbulkan diskriminasi.
“Kami berharap mahasiswa dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi HIV/AIDS di masyarakat. Informasi harus disampaikan dengan benar, tetapi juga dengan cara yang menghargai orang lain, sehingga edukasi kesehatan dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong masyarakat lebih terbuka terhadap layanan kesehatan,” lanjut Sry Ade. (Isno/rls/gopos)








