GOPOS.ID, GORONTALO – Dewan Racana Universitas Bina Taruna (UNBITA) Gorontalo menggelar Perkemahan Pramuka CAKRA UNBITA 2026 di kawasan Wisata Botumotolioluwo, Desa Longalo, pada 15–17 Oktober 2026.
Kegiatan yang diikuti 35 peserta, terdiri dari 25 mahasiswa UNBITA dan 10 siswa SMK, ini mengintegrasikan pendidikan kepramukaan dengan pelatihan pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR), edukasi mitigasi bencana, serta aksi kepedulian lingkungan.
Mengusung tema “Membentuk Pramuka yang Tangguh, Tanggap Darurat, dan Berjiwa Kemanusiaan Melalui Integrasi Kepramukaan dan Kesiapsiagaan Bencana”, kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk generasi muda yang disiplin, peduli, dan memiliki kesiapan menghadapi situasi darurat.
Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus) UNBITA, Dr. Ellys Rachman, S.Sos., M.Si., secara resmi membuka kegiatan melalui upacara pembukaan.
Dalam arahannya, Ellys menekankan bahwa pendidikan kepramukaan tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter, tetapi juga harus membekali peserta dengan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia berharap CAKRA UNBITA 2026 menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kedisiplinan, kepedulian sosial, dan keberanian mengambil peran dalam membantu masyarakat ketika menghadapi keadaan darurat.
“ Keterampilan yang diperoleh harus menjadi bekal untuk membantu sesama, bukan sekadar pengalaman selama berkemah,” ungkap Ellys.
Salah satu agenda utama dalam perkemahan ini adalah pembekalan materi dasar SAR yang melibatkan Kantor Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) Kelas B Gorontalo.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI dan BASARNAS Kelas B Gorontalo.
Melalui pembekalan ini, peserta mendapatkan pengetahuan dasar mengenai kesiapsiagaan, prosedur keselamatan, serta teknik dasar evakuasi dalam menghadapi kondisi darurat.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo, Heriyanto, S.Adm., mengatakan edukasi SAR penting diberikan kepada generasi muda sejak dini untuk membangun kesadaran tentang keselamatan dan tanggung jawab terhadap sesama.
Menurutnya, tindakan pertolongan harus dilakukan secara terukur, sesuai kemampuan, serta tetap memperhatikan keselamatan diri dan orang lain.
“Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti UNBITA membuka ruang bagi edukasi kebencanaan yang lebih dekat dengan generasi muda,” ujar Heriyanto.
Selain pelatihan SAR, rangkaian CAKRA UNBITA 2026 juga diisi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat materi konstruksi rumah tahan gempa dan mitigasi bencana. Melalui edukasi ini, peserta diajak memahami prinsip dasar bangunan yang lebih aman, mengenali potensi ancaman bencana, serta mengetahui langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi risiko.
Ellys menilai, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan di perguruan tinggi.
Ia berharap mahasiswa mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus berkontribusi dalam menyebarluaskan informasi yang bermanfaat di lingkungan masing-masing.
“Mahasiswa harus hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” tuturnya.
Aspek kepedulian lingkungan juga menjadi bagian dari kegiatan melalui materi bertajuk Eco-Scout Action: Bakti Nyata Merawat Detak Bumi.
Pemilihan kawasan Wisata Botumotolioluwo sebagai lokasi perkemahan memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar di alam terbuka sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui perpaduan pendidikan kepramukaan, kesiapsiagaan bencana, dan kepedulian ekologis, peserta diajak memahami bahwa ketangguhan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi keadaan darurat, tetapi juga kesanggupan mencegah risiko dan menjaga lingkungan secara bertanggung jawab.
Heriyanto berharap pengetahuan yang diperoleh peserta selama kegiatan dapat diterapkan dan dibagikan kepada lingkungan sekitar dengan tetap mengutamakan prosedur keselamatan yang benar.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis dalam membangun budaya sadar bencana melalui pengetahuan, latihan, dan kepedulian yang berkelanjutan.
Penyelenggaraan CAKRA UNBITA 2026 menjadi salah satu upaya UNBITA Gorontalo dalam mengembangkan kegiatan kepramukaan yang tidak hanya berfokus pada pembentukan karakter, tetapi juga peningkatan keterampilan dasar SAR, edukasi mitigasi bencana, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui sinergi perguruan tinggi, gerakan Pramuka, dan BASARNAS, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman generasi muda mengenai pentingnya kesiapsiagaan serta mendorong tumbuhnya semangat pengabdian kepada masyarakat.
Ellys menegaskan, keberhasilan perkemahan tidak hanya diukur dari terlaksananya seluruh agenda, tetapi juga dari perubahan sikap dan kesiapan peserta untuk menerapkan hasil pembelajaran setelah kembali ke kampus dan sekolah.
Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama CAKRA UNBITA 2026 terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga peserta menjadi generasi yang tangguh, peduli lingkungan, memahami keselamatan, dan siap membantu masyarakat secara bertanggung jawab. (Rama/Gopos)








