GOPOS.ID, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat untuk menghadapi berbagai tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Karena itu, masyarakat diminta tidak khawatir terhadap risiko pelemahan mata uang nasional.
“Jadi jangan khawatir, jumlah cadangan devisa lebih dari cukup,” kata Perry dalam wawancara cegat di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa.
Perry menjelaskan, kecukupan cadangan devisa diukur menggunakan indikator reserve adequacy yang diterbitkan Dana Moneter Internasional (IMF). Melalui indikator tersebut, Bank Indonesia menghitung kebutuhan cadangan devisa untuk mengantisipasi berbagai risiko, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Kami ukur-ukur itu, dan sekarang masih lebih dari 115 persen. Jadi masih lebih dari cukup itu. Di samping setara sekitar 6 bulan impor,” kata Perry.
Sebagai informasi, di tengah pelemahan nilai tukar, cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan sejak akhir Desember 2025.
Dalam lima bulan terakhir, cadangan devisa telah menyusut sebesar 11,6 miliar dolar AS atau sekitar 7,4 persen dari posisi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.
Pada akhir Mei 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS atau menurun 1,3 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya, seiring dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Penurunan tersebut terjadi meski terdapat tambahan devisa yang berasal penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.
Menurut BI, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat atau setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Pada Selasa melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan, BI memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) sehingga kini berada pada level 5,5 persen.
Adapun BI belum lama ini menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 bps pada RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026. Kenaikan BI-Rate pada Mei 2026 menjadi langkah penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI sebelumnya telah memangkas bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 bps. BI dijadwalkan kembali melaksanakan RDG Bulanan pada 17-18 Juni 2026.(Antara/gopos)








