GOPOS.ID, JEMBER – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bukan sekadar instrumen proteksi finansial saat sakit, melainkan sebuah perwujudan nyata dari semangat gotong royong berskala nasional.
Hal ini dirasakan langsung oleh Benny Satria Indra Cahyadi (34), seorang warga dari Desa Banjarsengon, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember.
Sebagai peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri, Benny membuktikan sendiri bagaimana iuran rutin yang dibayarkannya memberikan dampak perlindungan yang masif, baik bagi keluarganya maupun orang lain.
Ketenangan itu teruji saat buah hatinya harus dilarikan ke Puskesmas Sukorambi akibat menderita diare dan dehidrasi.
Meski harus menjalani rawat inap selama lima hari, seluruh proses administrasi berjalan mulus tanpa kendala, dan mutu pelayanan yang diberikan petugas medis tetap setara dengan pasien umum lainnya tanpa ada biaya tambahan.
“Program JKN memberikan rasa tenang bagi saya dan keluarga. Saat membutuhkan pelayanan kesehatan, kami tidak lagi cemas memikirkan biaya pengobatan karena sudah dijamin oleh BPJS Kesehatan. Yang terpenting, peserta memastikan kepesertaannya aktif dan mengikuti prosedur pelayanan yang berlaku,” ungkap Benny.
Pengalaman berobat tanpa hambatan birokrasi dan biaya ini memantapkan keyakinan Benny bahwa menjaga status kepesertaan tetap aktif adalah kewajiban moral sekaligus bentuk kepedulian sosial antarsesama warga negara.
“Saya berharap masyarakat dapat terus menjaga kepesertaan JKN tetap aktif dengan membayar iuran secara rutin. Program JKN bukan hanya memberikan perlindungan bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga menjadi wujud gotong royong. Ketika kita sehat, iuran yang kita bayarkan membantu peserta lain yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan. Sebaliknya, ketika kita sakit, kita juga akan mendapatkan perlindungan yang sama,” pungkas Benny. (adv)








