GOPOS.ID, KOTAMOBAGU – Upaya peningkatan kualitas hidup bagi penderita diabetes melitus terus diperkuat melalui pendekatan keluarga serta pemanfaatan pangan lokal. Hal ini tercermin dalam kegiatan penelitian terapan unggulan perguruan tinggi (PTUPT) yang digelar Kementerian Kesehatan melalui Poltekkes Manado di Puskesmas Motoboi Kecil, Kota Kotamobagu, pada Selasa (21/4/2026).
Penelitian tersebut mengangkat konsep pemberdayaan keluarga sebagai strategi utama dalam membantu pasien diabetes melitus, khususnya untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pola makan. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan perubahan gaya hidup yang lebih praktis dan berkelanjutan di lingkungan rumah tangga.
Selama tiga hari pelaksanaan, yakni 20 hingga 22 April 2026, tim peneliti memberikan pelatihan terkait modifikasi diet berbasis bahan pangan lokal. Tidak hanya teori, kegiatan ini juga dilengkapi dengan praktik langsung, mulai dari penyusunan menu hingga teknik pengolahan makanan sehat yang sesuai bagi penderita diabetes.
Kegiatan ini diikuti oleh keluarga pasien diabetes melitus dari wilayah Kotamobagu Selatan. Para peserta terlihat antusias dalam mengikuti setiap sesi, sekaligus mendapatkan pemahaman tentang pentingnya pengaturan pola makan, pemilihan bahan makanan yang tepat, serta cara memasak yang tetap menjaga kandungan gizi tanpa meningkatkan kadar gula darah.
Ketua tim peneliti, Vera T. Harikedua, SST., MPH, menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan diabetes sangat bergantung pada peran keluarga dalam kehidupan sehari-hari pasien.
Menurutnya, program pelatihan ini dirancang untuk membekali keluarga dengan kemampuan mengatur kebutuhan energi, porsi makan, serta komposisi gizi sesuai prinsip diet diabetes. Ia berharap, melalui program ini, penderita dapat menjalani pola hidup yang lebih sehat layaknya individu tanpa diabetes.
Lebih lanjut, Vera menyampaikan bahwa hasil pelatihan akan dievaluasi dalam dua minggu ke depan guna melihat sejauh mana penerapannya dalam kehidupan keluarga peserta. Evaluasi ini penting untuk mengukur efektivitas program yang didanai oleh Kementerian Kesehatan tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa program ini akan berlanjut hingga tahun 2027 dan 2028 melalui berbagai pelatihan lanjutan yang lebih komprehensif, sebagai upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes melitus.
Jika program ini berjalan optimal, hasil penelitian tersebut diharapkan dapat membantu Pemerintah Kota Kotamobagu dalam menekan beban pembiayaan kesehatan, khususnya melalui BPJS.
Di akhir program penelitian yang direncanakan hingga tahun 2030, tim peneliti menargetkan Kota Kotamobagu dapat menjadi wilayah yang bebas dari diabetes melitus melalui penerapan konsep KOPDIA. Jika berhasil, Kotamobagu berpeluang menjadi salah satu daerah di Indonesia yang berhasil menggerakkan program pencegahan diabetes secara masif. (End/Gopos)








