GOPOS.ID, GORONTALO – Komunitas Literasi Sampul Belakang Gorontalo menggelar Nonton Bareng (Nonton Bareng) Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Rabu malam (29-4-2026).
film dokumenter karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono mengangkat isu perampasan tanah adat, penebangan hutan, dan konflik sumber daya di bawah bayang-bayang militerisasi.
Selain itu film ini Mengkritisi proyek raksasa yang berkedok “ketahanan pangan” atau “transisi energi” (sawit/biofuel) yang merugikan rakyat Papua.
Pesta babi atau Joewò sebenarnya adalah tradisi sosial-budaya penting di Papua, namun film ini menggunakannya sebagai metafora kolonialisme modern.
Koordinator Sampul Belakang, Fikar Buntuan, menyampaikan film ini menceritakan realitas perjuangan masyarakat adat Papua untuk mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka dari ancaman Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Kita melihat bagaimana masyarakat adat Papua berupaya bertahan di tengah tekanan pembangunan proyek strategis yang digaungkan untuk menjadi bagian besar lumbung pangan Indonesia,” ucap Fikar diwawancarai.
Menurutnya, film ini memperlihatkan masyarakat adat Papua yang selama ini hidup berdampingan dengan alam, mengandalkan pangan lokal, harus menerima kenyataan pahit dengan menerima kondisi pembukaan lahan dalam skala besar mulai dilakukan di sejumlah wilayah yang ada di Papua oleh pemerintah.
“Yang terjadi di Papua merupakan bentuk penyerobotan yang semena-mena dan tidak demokratis, serta berpotensi memperpanjang konflik,” tegas pemuda yang akrab disapa Ikay itu.
Sementara itu yang terjadi hari ini ialah mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Tanah yang sudah dijaga turun-temurun seolah diperlakukan sebagai ruang kosong yang bebas dimanfaatkan. Seolah-olah Papua diperlakukan sebagai ruang kosong yang bebas dimanfaatkan tanpa mempertimbangkan masyarakat yang telah lama hidup di dalamnya.
Dengan pemutaran film “pesta babi” ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk memahami bagaimana kolonialisme bertransformasi dalam kehidupan hari ini.
“Harapannya, muncul kesadaran kolektif yang lebih kritis serta keberpihakan terhadap masyarakat yang terdampak,” tandasnya. (Putra/Gopos)







