GOPOS.ID, GORONTALO – Lonjakan temuan kasus HIV-AIDS terjadi di Provinsi Gorontalo pada awal tahun 2026. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) mencatat peningkatan signifikan berdasarkan hasil validasi terbaru, yang menunjukkan kecenderungan peningkatan dalam upaya penemuan kasus di masyarakat.

Pada periode November hingga Desember 2025, tercatat 31 kasus baru yang terdiri dari 22 kasus HIV dan 9 kasus AIDS. Angka tersebut meningkat pada periode Januari hingga Maret 2026 menjadi 52 kasus, dengan rincian 41 kasus HIV dan 11 kasus AIDS. Secara keseluruhan, total temuan kasus baru dalam dua periode tersebut mencapai 83 kasus.
Sebaran kasus paling banyak ditemukan di Kota Gorontalo dengan jumlah 37 kasus. Jika dilihat dari kelompok usia, kasus HIV-AIDS didominasi oleh usia produktif 25–49 tahun sebanyak 45 kasus. Selanjutnya, kelompok usia 15–24 tahun tercatat sebanyak 34 kasus, sementara usia di atas 50 tahun sebanyak 4 kasus.
Dari sisi pekerjaan, kasus paling banyak ditemukan pada pegawai atau karyawan swasta sebanyak 22 kasus, diikuti oleh anak sekolah dan mahasiswa sebanyak 15 kasus. Secara kumulatif, sejak tahun 2001 hingga Maret 2026, jumlah kasus HIV-AIDS di Provinsi Gorontalo mencapai 1.538 kasus, terdiri dari 913 kasus HIV dan 625 kasus AIDS. Dari total tersebut, 510 orang dilaporkan meninggal dunia, 1 kasus pindah keluar (drop out), serta 53 kasus lost contact atau tidak diketahui keberadaannya.
Hingga saat ini, sebanyak 739 orang sedang menjalani pengobatan antiretroviral (ARV), sementara 39 lainnya belum memulai pengobatan. Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, menegaskan bahwa dominasi temuan kasus HIV menunjukkan semakin optimalnya deteksi dini.
“Kami terus memperkuat skrining dan edukasi agar kasus dapat ditemukan lebih cepat, sehingga penanganan bisa segera dilakukan dan penularan dapat ditekan,” ujar Anang
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan dan menghapus stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV), karena kesadaran, pemeriksaan dini, dan kepatuhan menjalani pengobatan menjadi kunci utama dalam menekan penularan serta menjaga kualitas hidup penderita.
“Kunci pengendalian HIV-AIDS ada pada kesadaran bersama. Pemeriksaan sejak dini dan kepatuhan menjalani pengobatan ARV sangat penting untuk menjaga kualitas hidup penderita sekaligus mencegah penularan lebih luas,” Tutupnya. (Winang-mg)








