GOPOS.ID, KOTAMOBAGU – Upaya serius Pemerintah Kota Kotamobagu dalam menekan angka stunting terus diperkuat, tak hanya lewat kebijakan, tetapi juga melalui pendekatan edukatif kepada generasi muda. Hal ini diwujudkan melalui peran aktif Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) yang mendorong keterlibatan remaja sebagai ujung tombak perubahan.

Dalam ajang tersebut, Kotamobagu mengandalkan dua wakil terbaiknya, yakni Chrismart Imanuel Jourdan Palenewen dan Megrisa Hidayat Lesena. Keduanya merupakan pemenang seleksi tingkat kota dan kini dipercaya membawa nama daerah di kompetisi tingkat provinsi.
Menurut Ny. Rindah, keterlibatan TP-PKK dalam kegiatan ini bukan sekadar menghadiri agenda formal, tetapi menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kesadaran remaja terhadap bahaya stunting. Ia menilai generasi muda memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam memutus rantai permasalahan gizi tersebut.
“Kami ingin memastikan anak-anak kita mendapatkan dukungan penuh. Harapannya, mereka bisa tampil maksimal di grand final dan mengharumkan nama Kotamobagu. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan yang terbaik,” ujarnya penuh harap.
Hal senada disampaikan Ny. Resty Mangkat Somba. Ia mengajak masyarakat untuk turut memberikan dukungan melalui platform digital, mengingat aspek popularitas di media sosial menjadi salah satu penilaian penting dalam ajang tersebut.
“Mari kita bersama-sama memberikan dukungan dengan mengunjungi akun resmi Bapelkes Sulut di Instagram dan Facebook. Berikan like, komentar positif, serta bagikan konten mereka. Dukungan kecil dari kita sangat berarti bagi perjuangan mereka,” ajaknya.
Pemilihan Duta Remaja Cegah Stunting ini merupakan program strategis TP-PKK Provinsi Sulawesi Utara yang bertujuan mencetak generasi muda yang peduli terhadap isu kesehatan. Para peserta diharapkan mampu mengedukasi remaja lain tentang pentingnya pola hidup sehat, pemenuhan gizi seimbang, serta pencegahan pernikahan dini.
Dengan pembinaan intensif dari Pokja IV PKK Kotamobagu, kedua perwakilan tersebut diharapkan tidak hanya tampil percaya diri di atas panggung, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam terkait isu stunting, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat setelah kembali ke daerah. (**/End)








