GOPOS.ID, GORONTALO – Upaya memperkuat daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Gorontalo terus didorong melalui penyelenggaraan Gebyar UMKM Provinsi Gorontalo 2026 yang digelar pada 24–26 April di Grand Palace Convention Center, Kota Gorontalo.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Gorontalo, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Dekranasda, serta Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Fokus utamanya memperluas akses pasar, mendorong digitalisasi, serta meningkatkan kualitas dan inovasi produk UMKM lokal.
Mengusung tema “Akselerasi UMKM Naik Kelas dan Berdaya Saing untuk Ekonomi Gorontalo yang Tangguh dan Mandiri”, kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan yang dirangkaikan dengan penandatanganan business matching pembiayaan dan penjualan. Agenda lainnya meliputi pengukuhan pengurus Dekranasda Provinsi Gorontalo, kick off Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) 2026, serta Road to PENAS KTNA yang akan digelar pada Juni mendatang.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, kegiatan ini juga meluncurkan pilot project Gorontalo-20 (G-20) yang difokuskan pada kurasi produk, pendampingan intensif, serta akselerasi kapasitas usaha. “Program ini diharapkan mampu menyiapkan UMKM lokal agar lebih siap bersaing di pasar nasional hingga global,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo, Bambang Setya Permana, saat memberikan sambutan pada pembukaan Gebyar UMKM.
Bambang mengungkapkan, sebanyak 235 UMKM binaan Bank Indonesia dan mitra turut ambil bagian pada pameran produk unggulan dalam tiga hari pelaksanaan. Penyelenggara menargetkan nilai transaksi penjualan mencapai Rp1,5 miliar serta realisasi pembiayaan UMKM sebesar Rp2 miliar melalui skema business matching dan perluasan akses ke lembaga keuangan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup festival kuliner khas Gorontalo, peragaan busana berbasis kearifan lokal, lomba inovasi produk pangan, hingga ajang pencarian bakat. Selain itu, disediakan pula seminar nasional, layanan konsultasi keuangan dan digitalisasi, serta fasilitasi perizinan usaha seperti sertifikasi halal, izin edar, dan Nomor Induk Berusaha.
Bambang berharap, melalui Gebyar UMKM penguatan UMKM tidak hanya difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada perluasan akses pasar dan dukungan regulasi, sebagai fondasi menuju ekonomi daerah yang lebih tangguh dan mandiri.(*/hasan/gopos)








