GOPOS.ID, GORONTALO – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dr. Anang S. Otoluwa, MPPM, menegaskan pentingnya menghadirkan inovasi dalam setiap kegiatan kesehatan, tidak sekadar berhenti pada koordinasi dan validasi data. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pertemuan Evaluasi dan Validasi Data Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) tingkat provinsi yang digelar di Hotel Aston, Kota Gorontalo, Kamis (16/4/2026). Ia menekankan bahwa pertemuan semacam ini harus menghasilkan langkah konkret untuk mendorong pencapaian indikator kinerja program kesehatan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo serta perwakilan kabupaten/kota, antara lain dari Kota Gorontalo, Gorontalo Utara, Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, Boalemo, dan Pohuwato. Anang menilai luasnya cakupan kerja bidang P2P menuntut adanya pembagian peran yang jelas dan spesifik di setiap tingkatan. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi yang efektif agar data dari kabupaten/kota dapat terintegrasi dan selaras dengan data di tingkat provinsi hingga pusat.
Dalam arahannya, Anang meminta agar setiap pertemuan mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan pada program-program yang belum mencapai target. Menurutnya, koordinasi dan validasi data sebenarnya dapat dilakukan secara daring melalui berbagai platform, sehingga pertemuan tatap muka harus dimanfaatkan untuk merumuskan solusi dan terobosan baru dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Salah satu inovasi yang didorong adalah pengembangan Desa Siaga Tuberkulosis (TB). Ia mengungkapkan bahwa di Kabupaten Gorontalo saat ini baru terdapat satu desa yang menerapkan program tersebut, padahal idealnya seluruh desa dapat menjadi Desa Siaga TB. Anang mencontohkan praktik baik dari Desa Malambe yang menghadirkan narasumber Rahmat Bowo, yang berhasil menggerakkan peran masyarakat melalui kader dalam penemuan kasus TB, mulai dari skrining, rujukan ke puskesmas, hingga pendampingan pasien dalam menjalani pengobatan sampai sembuh.
Selain TB, Anang juga menyoroti capaian program HIV/AIDS yang masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam memenuhi target global triple 95. Target tersebut meliputi 95 persen orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui statusnya, 95 persen mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV), dan 95 persen mencapai supresi viral load. Ia menegaskan bahwa di Gorontalo, tantangan terbesar masih berada pada kepatuhan pengobatan, di mana masih banyak ODHIV yang belum memulai atau tidak rutin menjalani terapi sehingga virus belum tersupresi.
“Kalau virus sudah tersupresi, maka risiko penularan menjadi sangat kecil. Ini yang harus kita kejar bersama,” tegas Anang. Ia juga mengingatkan bahwa validasi data yang akurat menjadi kunci dalam perencanaan dan evaluasi program kesehatan. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak untuk menyinkronkan data antara kabupaten/kota, provinsi, dan pusat dengan memanfaatkan aplikasi yang tersedia secara optimal. Pertemuan ini pun secara resmi dibuka dengan harapan mampu meningkatkan efektivitas program dan derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Gorontalo. (Laila-Mg)








