GOPOS.ID, PINOGU – Duka kadang tidak berhenti pada kehilangan orang yang dicintai. Bagi keluarga almarhum Bambang Pahantua, perjalanan mengantar kepergiannya justru menjadi kisah pilu yang menyentuh hati banyak orang.
Di balik sunyinya pegunungan Pinogu, sebuah momen haru terekam dan kemudian menyebar luas di media sosial. Kisah itu bukan sekadar tentang seorang warga yang meninggal dunia, tetapi tentang bagaimana keluarga harus berjuang keras mengantarkan jenazahnya keluar dari wilayah yang terpencil dan sulit dijangkau.
Bambang Pahantua meninggal dunia dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga serta kerabatnya. Namun di tengah suasana duka itu, keluarga dihadapkan pada persoalan yang tidak mudah bagaimana membawa jenazah keluar dari kawasan pegunungan menuju tempat pemakaman keluarga.
Wilayah Kecamatan Pinogu di Kabupaten Bone Bolango memang dikenal sebagai daerah yang memiliki akses transportasi terbatas. Jalanan yang terjal, jalur berbatu, serta minimnya kendaraan membuat perjalanan menuju daerah lain membutuhkan tenaga dan kesabaran.
Di masa lalu, warga masih bisa membawa jenazah menggunakan sepeda motor dengan cara diboncengkan secara khusus. Namun kali ini, kondisi medan membuat cara itu tidak memungkinkan.
Keluarga akhirnya memilih cara yang sederhana, tetapi penuh perjuangan. Jenazah almarhum diletakkan di atas sebuah papan kayu, kemudian dibungkus rapat dan diikat kuat agar tidak bergeser selama perjalanan. Papan tersebut lalu diikat pada sepeda motor dan digulirkan perlahan menuruni jalur pegunungan yang curam dan berliku.
Di sepanjang perjalanan, suasana haru begitu terasa. Beberapa kerabat berjalan di samping motor, memastikan papan yang membawa jenazah tetap stabil di jalur sempit berbatu. Setiap meter perjalanan seolah menjadi ujian kesabaran sekaligus bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang mereka cintai.
Bagi warga setempat, pemandangan itu menjadi sesuatu yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Sebagian warga bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “sejarah baru” cara membawa jenazah dari wilayah Pinogu, sebuah kisah yang menggambarkan betapa beratnya kehidupan masyarakat di daerah terpencil.
Tak sedikit yang menyaksikan perjalanan tersebut menahan air mata. Di tengah kesunyian pegunungan, rombongan keluarga terus melangkah, mengawal perjalanan terakhir almarhum menuju rumah duka.
Kisah ini kemudian menyebar luas di media sosial dan mengundang beragam reaksi publik. Banyak yang merasa terharu melihat keteguhan keluarga, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan bagaimana masyarakat di wilayah terpencil masih harus menghadapi perjuangan sebesar ini, bahkan untuk mengantarkan orang yang telah meninggal dunia.
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, jenazah Bambang Pahantua akhirnya tiba di rumah duka sebelum dimakamkan di Desa Pangi, wilayah Kecamatan Suwawa Timur.
Perjalanan terakhir itu mungkin sederhana, namun bagi keluarga, itu adalah bentuk cinta dan penghormatan yang paling tulus.
Bagi banyak orang yang menyaksikan kisah ini, peristiwa tersebut meninggalkan satu pertanyaan besar sampai kapan perjuangan seperti ini harus terus menjadi kenyataan bagi masyarakat di daerah terpencil? (Isno/gopos)








