GOPOS.ID, GORONTALO – Program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang digagas Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Gorontalo terbukti berdampak signifikan terhadap peningkatan performa UMKM di Gorontalo. Hal ini terungkap dalam laporan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang Dampak Program Pemberdayaan UMKM KPw BI Gorontalo terhadap performa UMKM.
Hasil riset disampaikan peneliti Ekonomi Pusat Riset Makro Ekonomi dan Finansial BRIN, Bahtiar Rifai, PhD, pada kegiatan Gorontalo Economic Outlook 2025 di Ballroom KPw BI Gorontalo, Selasa (4/11/2025).
Riset melibatkan 102 UMKM Binaan BI, dan 18 di antaranya dilakukan pengujian lebih mendalam (depth interview) untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Riset mengkaji enam aspek: dampak ekonomi pemberdayaan UMKM, dampak kelembagaan, dampak sosial, faktor penentu, penilaian program, serta kebutuhan pengembangan.
Bahtiar menjelaskan, dampak ekonomi menunjukkan peningkatan modal usaha dari para UMKM binaan. Secara rata-rata peningkatan terjadi sebesar 165 persen.
“Begitu pula untuk omset naik rata-rata 182 persen,” terang Bahtiar. Peningkatan nilai omset dibarengi dengan peningkatan keuntungan. Secara rata-rata keuntungan UMKM sebelum pemberdayaan berkisar Rp3,6 juta per bulan, dan setelah pembinaan mengalami kenaikan menjadi Rp10,7 juta per bulan. “Rata-rata kenaikan sebesar 194 persen.”
Masih terkait dampak ekonomi, pemberdayaan UMKM yang dilakukan BI Gorontalo menunjukkan adanya peningkatan tambahan kerja di luar keluarga inti. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan skala produksi dan perluasan usaha. Peningkatan ini terjadi pada lebih dari separuh UMKM binaan.
“Program BI tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga mendorong transformasi kelembagaan dan kewirausahaan pelaku UMKM,” ujar Bahtiar
Peningkatan transformasi kelembagaan ditandai dengan meningkatkan pengukuran pada enam indikator: legalitas usaha, administrasi keuangan dan bisnis, pemanfaatan teknologi digital, pembayaran digital, pemasaran digital, serta jangkauan pemasaran.
“Rata-rata 46,38% UMKM mengalami peningkatan legalitas usaha, sementara 49,49% telah menggunakan software administrasi. Pemanfaatan teknologi digital juga meningkat, dengan 75,76% UMKM beralih ke sistem pembayaran cashless,” urai Bahtiar.
Dalam aspek kewirausahaan, UMKM menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, semangat kompetitif, dan kemampuan berinovasi. Rata-rata kepuasan pelaku usaha terhadap program BI mencapai skor 4,79 dari skala 5.
Bahtiar menambahkan, faktor internal seperti usia, pendidikan, dan lama usaha turut memengaruhi efektivitas program. Sementara itu, intervensi BI melalui pelatihan, eksibisi, dan modernisasi alat produksi menjadi variabel signifikan dalam peningkatan performa UMKM.
Meski demikian, tantangan masih ada, seperti biaya logistik tinggi, regenerasi pelaku usaha, dan minimnya industri penyuplai bahan baku. Untuk itu, Bahtiar merekomendasikan penguatan kolaborasi lintas sektor, fasilitasi kompetisi, dan pengembangan model alumni binaan sebagai agen perubahan.
Program ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo dan mitra strategis melalui pelatihan teknis, legalitas ekspor, festival daerah, dan business matching.
“UMKM Gorontalo kini tak hanya tumbuh, tapi juga berdaya saing. Ini investasi sosial-ekonomi yang nyata,” tutup Bahtiar.(hasan/gopos)








