GOPOS.ID, GORONTALO – Penurunan produksi akibat musim kemarau panjang belum sepenuhnya menggerus nilai ekonomi jagung di Gorontalo. Hingga Oktober 2026, nilai perdagangan komoditas unggulan daerah tersebut telah mencapai Rp 2,805 triliun, mendekati capaian sepanjang 2025 sebesar Rp 2,89 triliun.
Data Asosiasi Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo) Perwakilan Gorontalo mencatat, volume perdagangan jagung selama Januari-Oktober 2026 mencapai 346.366 ton. Sementara total perdagangan sepanjang 2025 mencapai 521.662 ton.
Ketua Pejagindo Perwakilan Gorontalo, Jasin Mohammad, mengatakan meskipun volume perdagangan mengalami penurunan, nilai transaksi tahun ini relatif mampu menyamai capaian tahun sebelumnya. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga jual jagung di tingkat perdagangan.
“Namun dari sisi nilai transaksi, perdagangan jagung Gorontalo pada tahun ini relatif menyamai dengan tahun sebelumnya. Pada 2025 nilai transaksi jagung Gorontalo sebesar Rp 2,89 triliun, sedangkan pada 2026 sampai dengan Oktober sudah mencapai Rp 2,805 triliun,” ujar Jasin seusai menghadiri rilis data BPS Provinsi Gorontalo, Kamis (6/11/2026).
Menurut Jasin, harga jagung saat ini berada pada kisaran Rp 7.200-Rp 7.300 per kilogram dengan kadar air 16-14 persen. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang masih berada di kisaran Rp 6.000 per kilogram.
Kenaikan harga dipengaruhi tingginya kebutuhan industri pakan ternak terhadap pasokan jagung. Sementara itu, ketersediaan komoditas tersebut mengalami tekanan akibat musim kemarau yang memengaruhi produksi di tingkat petani.
“Tahun lalu harga jagung di kisaran Rp 6.000 per kilogram. Harga jagung saat ini cukup tinggi karena permintaan dari produsen pakan ternak membutuhkan pasokan yang banyak, sementara ketersediaan jagung menurun akibat faktor musim kemarau,” kata Jasin yang juga Direktur Utama PT Gorontalo Pangan Sejahtera.
Dengan kondisi tersebut, Pejagindo memperkirakan nilai perdagangan jagung Gorontalo masih berpeluang melampaui capaian tahun lalu. Jasin menyebutkan, stok jagung masih tersedia di sejumlah gudang dan menunggu jadwal pengiriman ke daerah tujuan.
“Insya Allah kita optimistis sampai dengan akhir tahun ada tambahan nilai transaksi perdagangan jagung Gorontalo,” ujar pria yang punya pengalaman panjang dalam perdagangan jagung.
Di sisi lain, Pejagindo kembali menekankan pentingnya penguatan produksi jagung di tingkat petani. Jasin mengatakan, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Gorontalo menjadi sinyal positif bagi petani untuk kembali melakukan penanaman. Meski intensitas dan sebaran hujan belum merata, momentum tersebut perlu diikuti dukungan terhadap ketersediaan benih.
Pejagindo berharap pemerintah daerah dapat mengupayakan tambahan bantuan benih jagung melalui Kementerian Pertanian. Kebutuhan tambahan benih tersebut diusulkan untuk mendukung perluasan areal tanam hingga minimal 50.000 hektar.
“Dari beberapa waktu lalu kami sudah menyuarakan untuk penambahan benih jagung. Kami berharap Bapak Gubernur dan DPRD Provinsi Gorontalo bisa melobi Kementerian Pertanian agar alokasi benih bantuan untuk Gorontalo bisa ditambah minimal sebanyak 50.000 hektar,” kata Jasin.
Hal ini penting karena hujan mulai turun di wilayah Gorontalo. Meski hujan belum merata, situasi tersebut menjadi sinyal positif untuk penanaman jagung di tingkat petani.
“Dari beberapa waktu lalu kami sudah menyuarakan untuk penambahan benih jagung. Kami berharap Bapak Gubernur dan DPRD Provinsi Gorontalo bisa melobi Kementerian Pertanian agar alokasi benih bantuan untuk Gorontalo bisa ditambah minimal sebanyak 50.000 hektar. Dengan begitu Maret-April 2027 produksi kita akan naik,” kata Jasin.(hasan/gopos)







