No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Malam Suro: Menyimak Jejak Tradisi dan Dialog Peradaban

Hasan by Hasan
Selasa 16 Juni 2026
in Menyapa Nusantara
0
Sejumlah peserta membawa obor saat mengikuti tradisi Lampah Ratri Obor Sewu di Telaga Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur, Senin (15/6/2026). Tradisi mengelilingi Telaga Ngebel dengan berjalan kaki dalam keheningan pada malam 1 Suro itu untuk memperingati Tahun Baru Islam. (ANTARA FOTO/Muhammad Mada/nz)

Sejumlah peserta membawa obor saat mengikuti tradisi Lampah Ratri Obor Sewu di Telaga Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur, Senin (15/6/2026). Tradisi mengelilingi Telaga Ngebel dengan berjalan kaki dalam keheningan pada malam 1 Suro itu untuk memperingati Tahun Baru Islam. (ANTARA FOTO/Muhammad Mada/nz)

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Ada malam-malam tertentu yang tidak hanya menandai pergantian tanggal, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang waktu. Di Jawa Timur, malam 1 Suro adalah salah satunya.

Ketika kalender Jawa memasuki tahun baru yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah, ruang-ruang publik berubah menjadi panggung budaya yang hidup. Obor dinyalakan, pusaka dijamas, gunungan berisi hasil bumi diarak, wayang dipentaskan, dan ribuan orang berjalan dalam keheningan.

Di Ponorogo, ribuan warga memadati jalur kirab pusaka peninggalan Batarakathong yang menjadi simbol sejarah berdirinya daerah tersebut. Di Telaga Ngebel, masyarakat mengelilingi danau melalui tradisi Lampah Ratri Obor Sewu.

Di Lumajang, warga kaki Gunung Semeru menggelar Grebeg Suro dengan arak-arakan gunungan dan ritual syukur atas melimpahnya sumber air. Sementara di Kediri, kawasan petilasan Sri Aji Jayabaya kembali menjadi pusat kirab budaya dan ziarah yang menarik wisatawan, termasuk dari mancanegara.

Fenomena itu menunjukkan bahwa Suro bukan sekadar penanggalan. Ia adalah ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, budaya, dan identitas lokal.

Di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat, tradisi Suro menghadirkan jeda. Masyarakat diajak menengok kembali akar budaya, sekaligus melakukan refleksi tentang perjalanan hidup dan masa depan. Tidak mengherankan jika berbagai daerah di Jawa Timur masih mempertahankan tradisi tersebut dengan antusiasme tinggi.

Namun, di balik kemeriahan ritual dan keramaian wisata budaya, terdapat pertanyaan yang lebih penting. Apa makna Suro bagi masyarakat masa kini, dan bagaimana tradisi itu dapat terus relevan di tengah perubahan zaman?

Warisan Hidup

Suro memiliki posisi istimewa dalam kebudayaan Jawa. Bulan ini sering dipahami sebagai momentum introspeksi, pengendalian diri, serta upaya mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta dan alam sekitarnya.

Karena itu, banyak ritual Suro tidak berorientasi pada pesta atau perayaan meriah. Sebaliknya, yang menonjol adalah simbol penyucian, perenungan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi jamasan pusaka di Ponorogo, misalnya, bukan semata membersihkan benda bersejarah. Prosesi itu menyiratkan pesan tentang merawat nilai-nilai yang diwariskan generasi terdahulu.

Hal serupa tampak pada tradisi Grebeg Suro di Lumajang. Ritual memendam kepala sapi di kawasan mata air bukan sekadar upacara adat, melainkan simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan yang menopang masyarakat sekitar Gunung Semeru. Dalam konteks krisis lingkungan yang semakin nyata, pesan itu justru menjadi semakin relevan.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Lantik 11 Menteri, Wamen, Kepala Badan/Lembaga

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui berbagai laporan lingkungan global berulang kali mengingatkan bahwa keberlanjutan sumber daya air menjadi salah satu tantangan terbesar abad ini. Menariknya, masyarakat lokal Jawa telah lama menyimpan kesadaran ekologis tersebut dalam bentuk tradisi.

Di sinilah kekuatan budaya bekerja. Ia tidak menggurui melalui teori panjang, tetapi menanamkan nilai melalui simbol dan praktik yang diwariskan turun-temurun.

Tradisi Suro juga memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi penggerak ekonomi. Grebeg Suro Ponorogo setiap tahun menarik ribuan pengunjung dan menghidupkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Festival Nasional Reog Ponorogo yang tahun ini kembali digelar dengan puluhan grup peserta menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak bertentangan dengan pertumbuhan ekonomi.

Pengakuan UNESCO terhadap Reog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda dunia semakin memperkuat posisi budaya lokal sebagai aset pembangunan yang bernilai tinggi. Budaya tidak lagi sekadar dipandang sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sumber daya strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik wisatawan, dan memperkuat identitas daerah.

Persimpangan Zaman

Meski demikian, tradisi Suro juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Modernisasi telah mengubah cara generasi muda memandang budaya. Tidak sedikit yang mengenal tradisi hanya sebagai tontonan media sosial, tanpa memahami makna di baliknya. Ritual berisiko berubah menjadi sekadar atraksi apabila nilai filosofisnya tidak diwariskan secara utuh.

Tantangan lain muncul dari kecenderungan sebagian masyarakat yang masih mengaitkan bulan Suro dengan berbagai mitos yang tidak selalu memiliki dasar historis maupun keagamaan yang kuat. Akibatnya, substansi refleksi dan pembelajaran yang seharusnya menjadi inti peringatan sering kali tertutupi oleh berbagai narasi yang kurang produktif.

Di sisi lain, peringatan 1 Suro di beberapa wilayah Jawa Timur juga kerap menuntut perhatian serius dari aspek keamanan. Kepolisian Daerah Jawa Timur bahkan memperkuat pengamanan di sejumlah daerah untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketenteraman publik.

Baca Juga :  Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah

Tantangan tersebut sebenarnya membuka peluang baru. Pemerintah daerah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, hingga pelaku industri kreatif dapat bekerja sama menjadikan tradisi Suro sebagai media edukasi yang lebih menarik.

Digitalisasi budaya menjadi salah satu jalan yang patut diperkuat. Dokumentasi kirab, sejarah pusaka, filosofi wayang, hingga kisah tokoh-tokoh lokal dapat dikemas dalam bentuk film pendek, podcast, pameran virtual, maupun platform pembelajaran digital yang mudah diakses generasi muda.

Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat memanfaatkan momentum Suro sebagai sarana pendidikan karakter. Nilai introspeksi, penghormatan terhadap alam, gotong royong, dan pelestarian warisan budaya merupakan modal sosial yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.

Menjaga Nyala

Keistimewaan Suro terletak pada kemampuannya menjembatani masa lalu dan masa depan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus dibangun dengan meninggalkan akar budaya. Justru bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu melangkah ke depan sambil memahami dari mana ia berasal.

Jawa Timur memberikan contoh menarik tentang bagaimana tradisi tetap hidup dalam berbagai bentuk. Dari kirab pusaka di Ponorogo, ziarah di Gunung Lawu, ritual syukur di kaki Semeru, hingga pentas wayang di Kediri, semuanya menunjukkan bahwa budaya masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Yang perlu dijaga bukan hanya ritualnya, melainkan nilai yang dikandungnya. Sebab pusaka sejati bukanlah tombak, keris, atau payung yang dikirab setiap tahun. Pusaka terbesar adalah kesadaran kolektif untuk merawat identitas, menjaga harmoni dengan alam, dan memperkuat kebersamaan.

Ketika obor-obor menyala pada malam 1 Suro, yang sesungguhnya sedang diterangi bukan hanya jalan yang dilalui para peserta kirab. Cahaya itu juga menerangi ingatan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana arah perjalanan yang hendak dituju.

Dalam nyala itulah Jawa Timur terus menulis kisahnya, satu Suro demi satu Suro, di tengah arus zaman yang tak pernah berhenti bergerak.(Antara/gopos)

Tags: Menyapa Nusantara
Previous Post

Pengawasan Imigrasi di Gorontalo Diperkuat Melalui Sinergi dengan DPRD Pohuwato

Next Post

Infografik: Rp3,2 Triliun untuk Majukan Pertanian Papua

Related Posts

Pendiri Republikorp Group Holding Norman Joesoef (kiri) dan Thierry Renaudin selaku Presiden Arquus menandatangani perjanjian kerja sama produksi kendaraan taktis dalam ajang Eurosatory 2026 di Paris, Prancis. ANTARA/HO-Republikorp
Menyapa Nusantara

Indonesia Perkuat Industri Pertahanan Lewat Pengembangan Kendaraan Taktis

Rabu 17 Juni 2026
Menyapa Nusantara

Infografik: Rp3,2 Triliun untuk Majukan Pertanian Papua

Selasa 16 Juni 2026
Tangkapan layar - Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam peresmian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kiai Haji Muhammad Thohir di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, Rabu (10/9/2026). ANTARA/YouTube Sekretariat Presiden/Aditya Ramadhan
Menyapa Nusantara

Komitmen Presiden Prabowo: Sektor Kesehatan Harus Bebas dari Korupsi

Rabu 10 Juni 2026
Menyapa Nusantara

Infografik: Membawa Produk Kreatif Nusantara ke Kancah Internasional

Selasa 9 Juni 2026
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan April 2024 yang diikuti secara virtual di Jakarta, Rabu (24/4/2024). ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak/aa.
Menyapa Nusantara

Gubernur BI Pastikan Cadangan Devisa Tetap Kuat

Selasa 9 Juni 2026
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid (tengah), dan Direktorat Jendral Komunikasi Publik dan Media Kemenkomdigi, Fifi Aleyda Yahya (ketiga kanan), berpose bersama Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar (keempat kiri) dan jajaran Dewan Pengawas dan direksi ANTARA dalam Rakernas Perum LKBN ANTARA 2026 di Yogyakarta, Jumat (5/6/2026). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/nym
Menyapa Nusantara

Menkomdigi Tegaskan LKBN ANTARA Garda Terdepan Jaga Integritas Informasi

Senin 8 Juni 2026
Next Post

Infografik: Rp3,2 Triliun untuk Majukan Pertanian Papua

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • 15 Rekomendasi Laptop Terbaik 2026: Spek Dewa & Fitur AI Terbaru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kedatangan Dirut Bulog ke Gorontalo Jadi Momentum Penguatan Ketahanan Pangan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pentadio Resort-Menara Limboto Dibenahi, Wajah Baru Kabupaten Gorontalo Sambut Kontingen di Penas KTNA XVII 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rahmat Gobel Kembali Memimpin NasDem Gorontalo, Bidik Gorontalo Masuk Jajaran Provinsi Termakmur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Merek Parfum Wanita Lokal yang Populer di Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.