No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Kerangka Diplomasi NU Menghadapi Multipolaritas Dunia

Hasan by Hasan
Jumat 28 Agustus 2026
in Menyapa Nusantara
0
Dok.NU Online

Dok.NU Online

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Ngasiman Djoyonegoro

Peradaban kontemporer sedang menyaksikan retaknya sistem tunggal geopolitik. Dunia bergeser cepat menuju tatanan multipolar, di mana persaingan hegemonik antara Amerika Serikat dan China tidak lagi menjadi satu-satunya kompas determinan.

Di luar kedua raksasa tersebut, kekuatan regional seperti India, Rusia, hingga artikulasi politik kelompok Global South melalui perluasan aliansi BRICS mengonfirmasi bangkitnya otonomi strategis di berbagai penjuru bumi.

Dalam lanskap yang terfragmentasi ini, negara-negara menengah bertindak realistis. Indonesia, misalnya, menerapkan kalkulasi multi-alignment untuk menjaga kedaulatannya di tengah ketidakpastian tatanan global (Setiyaningsih dkk, 2026).

Penyeimbangan kemitraan ekonomi dengan China yang berjalan beriringan dengan perimbangan kerja sama keamanan bersama Amerika Serikat dan Jepang pada pertengahan 2026 memperlihatkan filosofi diplomasi yang tak lagi bertumpu pada loyalitas blok tunggal.

Ketika realitas kekuasaan formal terkunci dalam kalkulasi rasionalitas negara, diplomasi internasional menemukan ruang baru yang diakselerasi oleh aktor non-negara.

Di titik perpotongan inilah Nahdlatul Ulama (NU) menemukan panggilan historisnya. Sebagai entitas sosial-keagamaan yang menaungi lebih dari 100 juta jiwa, NU tidak hanya memiliki legitimasi demografis, tetapi juga modal moral dan tradisi keilmuan pesantren yang mengakar mendalam.

Otoritas keagamaan ini bertindak sebagai soft power yang melampaui logika akumulasi kekuasaan formal. Tanpa beban geopolitik teritorial atau doktrin militer, NU memiliki keleluasaan organik untuk melintasi sekat-sekat ideologi dunia.

Kerentanan multipolaritas makin nyata ketika krisis konvensional memuncak, seperti eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah pada 2026.

Di saat diplomasi formal antarnegara kerap menemui jalan buntu akibat klaim kedaulatan, Nahdlatul Ulama mengambil jalan second-track diplomacy.

Melalui respons proaktif PBNU ke sejumlah perwakilan diplomatik serta seruan moral pada pertengahan 2026 untuk meredam kekerasan di Teheran dan Washington, NU menguji efektivitas dan keberaniannya sebagai penyambung dialog di tengah pekatnya rivalitas kekuatan-kekuatan besar yang sedang bertarung.

Baca Juga :  Infografik: Tiga Pesawat Rafale Siap Jaga Langit Indonesia

Praktik diplomasi ini sesungguhnya merupakan bagian dari kesadaran sejarah yang telah teruji. Pada 31 Januari 1926, pendirian Komite Hijaz –sebuah kepanitiaan kecil diketuai oleh KH Abdul Wahab Chasbullah yang bertugas menemui Raja Ibn Saud di Hijaz, Arab Saudi– menandai lahirnya diplomasi non-negara pertama oleh para ulama Nusantara demi memperjuangkan kebebasan bermazhab kepada Raja Ibn Saud.

Rekam Jejak

Rekam jejak tersebut berlanjut pada periode revolusi kemerdekaan 1945–1949 melalui penggalangan dukungan internasional dari negara-negara Arab (Fogg, 2015) untuk kemerdekaan Indonesia.

Pengalaman multilateral NU semakin matang ketika KH Idham Chalid memimpin kepanitiaan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) di Bandung pada Maret 1965, yang tidak hanya mengonsolidasikan gagasan antikolonialisme, tetapi juga melahirkan konsensus bersama bagi kemerdekaan Palestina (Bigofik, 2024).

Dalam satu dekade terakhir, pergerakan tersebut bertransformasi menjadi diplomasi peradaban. Inisiasi forum Religion of Twenty (R20) pada 2022 serta Konferensi Internasional Humanitarian Islam pada 2024 menegaskan peran NU sebagai perumus etika global.

Gagasan yang ditawarkan melampaui retorika toleransi dan menyentuh akar persoalan manusia seperti krisis ekologi, etika kecerdasan buatan, migrasi, dan fragmentasi sosial di berbagai belahan dunia.

Rekomendasi Dokumen Kumpulan Materi Muktamar ke-35 NU memberikan arah institusional yang semakin kokoh bagi kiprah ini. Dokumen tersebut menetapkan kepemimpinan global NU dalam tatanan multipolar sebagai agenda strategis, sembari memposisikan organisasi ini sebagai simpul aktor keagamaan transnasional (Religious Transnational Actors).

Baca Juga :  Gus Yahya Dorong NU Bertindak Strategis Hadapi Perubahan

Pelembagaan platform R20 dan Humanitarian Islam serta internasionalisasi pesantren melalui jejaring ASEAN merupakan langkah sistematis untuk menerjemahkan nilai keagamaan menjadi kerangka kerja kelembagaan.

Namun, permenungan mendalam di abad kedua NU menuntut transformasi fundamental yaitu menggeser diplomasi berbasis figur (figure-based diplomacy) menjadi diplomasi berbasis institusi (institution-based diplomacy).

NU membutuhkan infrastruktur pengetahuan yang solid, mulai dari pemetaan diaspora santri hingga konsolidasi jaringan akademik di berbagai belahan dunia. Tanpa tata kelola data dan riset kebijakan yang presisi, gerak diplomasinya berisiko menguap sebagai romantisme seremonial.

Di saat yang sama, dimensi internasional ini harus senantiasa memantulkan manfaatnya ke tingkat paling dasar. Diplomasi peradaban hanya akan memiliki daya hidup jika isu-isu global seperti krisis iklim, alih teknologi, dan jaringan ekonomi mampu diterjemahkan menjadi program aksi di pondok pesantren dan madrasah di tingkat ranting.

Diplomasi luar negeri NU yang sejati adalah diplomasi yang mengakar kuat pada khidmah keumatan di dalam negeri.

Tatanan dunia yang multipolar tidak memerlukan tambahan kutub baru yang memperuncing kontestasi, melainkan membutuhkan jembatan peradaban yang merajut kemanusiaan.

Dari Komite Hijaz 1926, KIAA 1965, respons atas krisis Iran-AS 2026, hingga muktamar yang sedang berlangsung, NU telah membuktikan kapasitasnya sebagai global religious middle power.

Dengan integritas nilai, kedaulatan pengetahuan, dan kelembagaan yang matang, diplomasi non-negara NU tidak hanya memperluas khidmah bagi perdamaian dunia, tetapi juga menjadi pilar moral yang memperkuat visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

*) Ngasiman Djoyonegoro, Analis intelijen, pertahanan dan keamanan; Penulis buku Sketsa Diplomasi dan Pertahanan Nasional Dalam Menghadapi Tatanan Dunia Baru

Sumber: Antara

Tags: Menyapa NusantaraNU
Previous Post

Enam Pelajar Kotamobagu Bawa Nama Daerah ke Cibubur

Next Post

Kapolres Boltim Tegas: Tambang Diduga Ilegal di Mintu Jangan Coba-Coba!

Related Posts

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Rycko Menoza pada kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Evaluasi Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan Penguatan Kelembagaan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Penyelenggaraan Sistem Statistik Nasional (SSN) di Bandarlampung, Jumat (11/9/2026). (ANTARA/HO)
Menyapa Nusantara

DPR Dorong Perbaikan DTSEN untuk PIP dan KIP

Sabtu 12 September 2026
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari memberikan sambutan pada acara peluncuran buku "Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi" di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat (11/9/2026). (ANTARA/Livia Kristianti)
Menyapa Nusantara

Qodari: Negara Harus Hadir dengan Data, Bukan Diam

Sabtu 12 September 2026
Gubernur Kaltim Seno Aji (kelima dari kiri), Kepala BI Kaltim (keenam dari kiri) dan sejumlah pihak terkait saat panen padi di Desa Sidomulyo, Anggana, Kutai Kartanegara, Kaltim, Kamis (10/9/2026) (ANTARA/ HO- BI Kaltim)
Menyapa Nusantara

Tatkala Emas Hijau dan Teknologi Menyatu di Timur Kalimantan

Jumat 11 September 2026
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan pada penutupan Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden
Menyapa Nusantara

Prabowo Tutup 290 BUMN Rugi

Senin 31 Agustus 2026
Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti sidang pleno voting opsi mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026) dini hari. Peserta Muktamar ke-35 NU menyetujui perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dari sistem 'one man one vote' (satu orang, satu suara) menjadi mekanisme 'Ahlul Halli wal Aqdi' (AHWA) dan pemilihan akan berlanjut pada Minggu (30/8) pagi. ANTARA FOTO/Syaiful Arifngasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, K.H Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. ANTARA FOTO/Syaiful Arif
Menyapa Nusantara

Gus Kikin Terpilih Ketua Umum PBNU 2026-2031

Senin 31 Agustus 2026
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam wawancara cegat di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Sabtu (28/8/2026). (ANTARA/Livia Kristianti)
Menyapa Nusantara

Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Seluler Wajib Beri Pilihan

Sabtu 29 Agustus 2026
Next Post

Kapolres Boltim Tegas: Tambang Diduga Ilegal di Mintu Jangan Coba-Coba!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Rekaman CCTV.

    Tak Hanya Aniaya Dokter, Aksi Jefry Taha Rusak Fasilitas Rumah Sakit Sitti Khadijah Terekam CCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lelaki Asal Gorontalo Utara Meninggal Usai Berhubungan di Warung Remang-remang Pohuwato

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penjelasan BMKG Terkait Fenomena Kilatan Cahaya dan Dentuman di Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PWI Gorontalo Soroti Dugaan Arogansi Oknum yang Mengaku Wartawan di RS Sitti Khadijah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dokter RS Sitti Khadijah Laporkan Jefry Taha yang Diduga Lakukan Penganiayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.