GOPOS.ID, GORONTALO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo terus mematangkan strategi pendataan menuju pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Koordinasi Sensus Ekonomi 2026 yang digelar pada Selasa (28/10/2025) di Hulonthalo Ballroom, Kota Gorontalo.
Dalam forum tersebut, BPS menggandeng berbagai pemangku kepentingan lintas instansi. Hadir perwakilan dari Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengusaha, industri, serta asosiasi dan komunitas pelaku usaha dari sektor industri, konstruksi, perhotelan, restoran, jasa profesional, hingga konten kreator. Turut serta pula BPS kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo, memperkuat sinergi lintas wilayah.
Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menjelaskan bahwa FGD ini menjadi ruang strategis untuk membangun kolaborasi, menyelaraskan komunikasi, dan menghimpun masukan dari berbagai pihak terkait pelaksanaan SE 2026. Ia menyebutkan, SE 2026 akan berlangsung mulai 1 Mei hingga 31 Juli 2026.
“Tujuan utama dari Sensus Ekonomi ini adalah untuk memotret perkembangan dunia usaha selama satu dekade terakhir,” ujar Dwi Alwi Astuti.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan pendataan akan mencakup 18 jenis lapangan usaha. Rentangnya luas—dari UMKM yang berjualan di pinggir jalan hingga perusahaan berskala besar. Namun, usaha di sektor pertanian dan kehutanan tidak termasuk, karena telah memiliki sensus tersendiri, yakni Sensus Pertanian.
Menyesuaikan dengan dinamika zaman, Dwi Alwi Astuti menambahkan bahwa perkembangan ekonomi digital dan ekonomi kreatif juga akan masuk dalam cakupan pendataan SE 2026. Hal ini menjadi langkah penting untuk menangkap wajah baru perekonomian nasional.
Dwi menekankan pentingnya partisipasi aktif dari para pelaku usaha. Ia mengajak mereka untuk memberikan data secara terbuka dan sesuai dengan kondisi riil. Menurutnya, kualitas data yang dihimpun akan sangat menentukan akurasi gambaran usaha yang dihasilkan.
“Kegiatan Sensus Ekonomi ini bukan sekadar menyajikan angka-angka, tetapi menjadi referensi penting bagi arah pembangunan dan pengembangan dunia usaha ke depan,” pangkas ibu murah senyum itu.(hasan/gopos)








