Fenomena Bayi Dibuang: Faktor Ketidaksiapan dan Hubungan Gelap - gopos.id
Indepth News

Fenomena Bayi Dibuang: Faktor Ketidaksiapan dan Hubungan Gelap

GOPOS.ID, INDEPTHDeretan kasus pembuangan janin dan bayi yang terjadi tiga bulan terakhir cukup meresahkan bagi masyarakat Gorontalo. Hubungan intim di luar nikah serta perselingkuhan alias hubungan gelap (hugel) dinilai menjadi faktor pemicu maraknya kasus janin dan bayi dibuang.

Faktor lainnya, ketidaksiapan orang tua terutama calon ibu untuk menerima hadirnya ‘Karunia Tuhan’ di tengah mereka. Faktor ini membuat sebagian calon ibu mengambil keputusan mengugurkan kandungan (aborsi). Apalagi janin yang dikandungnya dipandang aib akibat hubungan gelap. Faktor ketidaksiapan juga membuat sebagian calon ibu lainnya memilih melahirkan sang anak kemudian menyerahkan kepada orang lain. 

Terkait fenomena maraknya kasus janin dan bayi yang dibuang, Psikolog Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr.Sukma Nurilawati Botutihe,M.Psi mengungkapkan, motif yang dapat melatarbelakangi fenemona tersebut ada dua hal. Yakni faktor internal dan faktor eksternal

“Kalau faktor internal bisa berhubungan dengan kesiapan baik mental maupun fisik dari si ibu. Misalnya, si ibu merasa tidak paham apa dan bagaimana dia harus membesarkan bayinya. Atau rasa sakit hati (bahkan dendam) terhadap pasangan yang sudah menyebabkan kehamilan. Itu bisa juga karena cemas dan panik karena itu terjadi dari hubungan yang terlarang,” ujar Sukma, Senin (29/7/2019).

Baca juga : Bayi Baru Lahir Dibuang di Depan Rumah Warga

Sementara faktor eksternal, Sukma menerangkan, tekanan dari pasangan yang tidak menghendaki lahirnya bayi itu. Selain itu perasaan secara ekonomi tak siap membesarkan anak.

“Bisa karena ancaman hukuman atau sanksi sosial yang tidak bisa menerima. Karena itu (jani/bayi) dilahirkan dari hubungan yang terlarang,” bebernya.

Tidak hanya itu, menurut Sukma masih ada banyak kemungkinan alasan yang melatar belakangi terjadi kasus pembuangan bayi/janin ini.

“Intinya kalau secara psikologis, itu menunjukkan bahwa si ibu mengalami ketidak stabilan secara mental. Sehingga membuat dia rapuh dan cenderung memilih jalan pintas. Jadi daripada aborsi berisiko, lebih baik dilahirkan tapi tanpa dipelihara,” jelas Sukma.

Trauma secara psikologis juga akan terjadi baik kepada si ibu maupun anak kelak. Bagi si ibu, bisa dikejar-kejar rasa takut jika ketahuan. Atau bahkan dikejar-kejar rasa bersalah atau rasa rindu.

Baca juga : Di Boalemo, Orok Bayi Dibuang di Pinggir Sungai

“Untuk anak, jika nanti dia tahu bisa menimbulkan trauma. Merasa tidak diinginkan, dibuang, dan bisa bikin dia jadi tidak percaya diri bahkan dendam,” beber Psikolog yang sangat dekat dengan anak-anak itu.

infografis gopos.id

Hal senada disampaikan, Dokter Ahli Jiwa di Gorontalo, dr. Yancy Lumentut. Faktor ketakutan serta ketidaksiapan seorang perempuan melahirkan anaknya, membuat mereka tega membuang anugerah Tuhan tersebut.

“Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan. Untuk mereka yang terlihat perilaku yang sudah mulai aneh, maka orang tua harus mengontrol itu. Jangan sampai, ada sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman atau bisa saja hamil di luar nikah,” tutur Yancy. (andi/hasan/muhajir/isno/aldi)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − 9 =