GOPOS.ID, GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat internasional kembali mendapat perhatian. Kali ini, dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Dr. Arfiani Rizki Paramata, S.Pi., M.Si., berpartisipasi dalam International Symposium on Sustainable Fisheries and Aquaculture and Blue Transformation di Qingdao, Tiongkok.
Forum ilmiah internasional tersebut berlangsung pada 28–30 Oktober 2026, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan China Fisheries and Seafood Expo 2026 yang dipusatkan di Qingdao Hongdao International Convention and Exhibition Center.
Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pelaku industri perikanan dari berbagai negara untuk membahas perkembangan inovasi dan masa depan sektor perikanan serta akuakultur yang berkelanjutan.
Keikutsertaan Arfiani menjadi salah satu upaya memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.
Salah satu isu penting yang dibahas dalam simposium tersebut adalah konsep Blue Transformation atau transformasi biru. Pendekatan ini mendorong pengembangan sektor perikanan dan akuakultur melalui inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, penguatan ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya perairan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Menurut Arfiani, transformasi biru menjadi pendekatan strategis dalam menjawab tantangan pembangunan sektor perikanan global. Peningkatan produksi perikanan, kata dia, harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
“Melalui pendekatan ini, sektor perikanan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mendukung keberlanjutan sumber daya perairan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Tidak hanya mengikuti simposium, kehadiran Arfiani dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo 2026 juga menjadi kesempatan untuk mengamati perkembangan industri perikanan dunia.
Berbagai inovasi yang diperkenalkan meliputi teknologi budidaya, pengolahan hasil perikanan, pengemasan produk, pengendalian mutu, hingga perkembangan perdagangan komoditas perikanan di pasar internasional.
Pengalaman dan pengetahuan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan dan penelitian di lingkungan FKTP UNG. Terutama dalam memperkaya materi pembelajaran mahasiswa, mendorong inovasi penelitian, serta memperluas perspektif akademik terkait pengelolaan potensi kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.
Arfiani juga menilai partisipasi dalam forum internasional membuka peluang bagi akademisi untuk membangun komunikasi dan menjajaki kerja sama dengan berbagai institusi maupun praktisi dari negara lain.
“Partisipasi dalam forum internasional ini juga menjadi peluang bagi akademisi UNG untuk membangun komunikasi dan membuka kesempatan kolaborasi dengan akademisi maupun praktisi dari berbagai negara,” terangnya.
Melalui keterlibatan dosen dalam forum ilmiah berskala internasional, UNG terus mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing akademisi. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Keikutsertaan Arfiani di Tiongkok diharapkan dapat memperluas kontribusi FKTP UNG dalam mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan, baik di tingkat nasional maupun global, dengan tetap mengedepankan inovasi dan keberlanjutan lingkungan. (Rama/Gopos)








