GOPOS.ID, GORONTALO – Badan Urusan Logistik (Bulog) Provinsi Gorontalo menegaskan ketersediaan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah masih dalam kondisi aman meski harga beras di pasaran mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Bulog Provinsi Gorontalo, La Ode Sulaiman, memastikan stok beras yang dikuasai Bulog saat ini mencapai sekitar 2.400 ton dan diproyeksikan mencukupi kebutuhan hingga akhir Desember 2026.
“Stok beras Bulog aman hingga akhir tahun. Masyarakat tidak perlu khawatir karena pasokan tetap tersedia,” kata La Ode Sulaiman dalam keterangannya di Kota Gorontalo, Sabtu, (21/72026) saat dihubungi lewat via WhatsApp.
Selain menjamin kecukupan stok, Bulog juga memastikan kualitas beras yang didistribusikan kepada masyarakat merupakan beras produksi dalam negeri dengan kualitas pulen.
“Kita menjual beras dalam negeri yang rasanya pasti pulen. Kalau dulu masyarakat mengeluhkan rasa beras Bulog yang pera atau kering dan cenderung keras, karena tidak pulen, namun saat ini dipastikan beras Bulog adalah beras dalam negeri dengan kualitas pulen,” ujarnya.
Untuk menjaga stabilitas harga pangan, Bulog bersama pemerintah daerah dan dinas pangan terus menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM). Program tersebut tidak hanya menyediakan beras, tetapi juga komoditas strategis lainnya seperti gula pasir dan minyak goreng agar masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Namun, dua hari setelah Bulog menyampaikan jaminan kecukupan stok, muncul penjelasan berbeda dari Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Kumperindag) Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka.
Fayzal menyebut kenaikan harga beras dipengaruhi terganggunya distribusi pasokan, menurunnya produksi akibat kemarau panjang, serta keterlambatan pasokan dari luar daerah yang dipicu keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
“Penurunan pasokan distribusi, jumlah produksi barang pokok, dan adanya kebijakan kenaikan harga dari pihak distributor, khususnya komoditi minyak goreng dan beras yang masuk ke pasar rakyat menyebabkan pedagang mengambil langkah menaikkan harga jual barang pokok,” kata Fayzal dikutip dari read.id.
Informasi yang dihimpun gopos.id berdasarkan proyeksi pemerintah daerah, produksi beras mencapai sekitar 157 ribu ton atau lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat Gorontalo yang diperkirakan sekitar 143 ribu ton per tahun.
Perbedaan penjelasan dari sejumlah instansi tersebut memunculkan perspektif berbeda mengenai kondisi pasokan beras di Gorontalo. Di satu sisi, Bulog memastikan cadangan beras pemerintah dalam kondisi aman dan siap menjaga stabilitas pasokan.
Di sisi lain, Dinas Kumperindag menilai kenaikan harga dipengaruhi hambatan distribusi dan berkurangnya pasokan ke pasar. (isno/gopos)








