GOPOS.ID, JEMBER – Memasuki penghujung musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Jember memperketat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana yang berpotensi terjadi hingga September atau Oktober.
BPBD Jember kini memusatkan perhatian pada kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla), setelah sebelumnya bencana hidrometeorologi mendominasi saat musim penghujan.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, sepanjang semester pertama 2026 tercatat 345 kejadian bencana di wilayah Kabupaten Jember.
“Bencana alam paling banyak karena pada saat itu merupakan musim penghujan, sehingga bencana hidrometeorologi mendominasi,” kata Edy dalam Ruang Diskusi Media, Selasa (1/9/2026).
Dari total kejadian tersebut, sebanyak 274 merupakan bencana alam, sedangkan 71 lainnya masuk kategori bencana non-alam.
Banjir bandang menjadi salah satu kejadian yang mendapat perhatian serius. Dampaknya tercatat di sejumlah kawasan, mulai hulu Sungai Badean hingga Pakis dan Ambulu.
Peristiwa bencana tersebut bahkan menimbulkan korban jiwa. Dua orang dilaporkan meninggal dunia dalam kejadian yang berlangsung di wilayah Pakis dan Curahmalang.
“Mulai dari banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang menyebabkan rumah maupun pohon roboh,” ujar Edy menjelaskan karakter bencana selama musim penghujan.
Kini situasi berubah. Memasuki kemarau, BPBD mencatat kekeringan telah melanda delapan kecamatan hingga 31 Agustus 2026 dengan lebih dari 1.000 kepala keluarga terdampak.
Wilayah terdampak meliputi Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji, dan Patrang yang membutuhkan pasokan air bersih secara berkala.
Untuk membantu warga, BPBD Jember telah menyalurkan sekitar 507.500 liter air bersih. Bantuan tersebut dikirim sebanyak 103 kali berdasarkan hasil asesmen lapangan.
“Bisa jadi ada yang dua hari sekali terkirim, ada yang tiga hari sekali, ada yang empat hari sekali, tergantung dari jumlah KK terdampaknya,” jelas Edy.
Pemetaan kerawanan juga terus diperbarui karena kekeringan mulai muncul di kawasan yang sebelumnya tergolong zona hijau, seperti Banjarsari dan Panduman.
Menghadapi kemungkinan kemarau berkepanjangan, BPBD sudah menempatkan 30 tandon air di sejumlah titik terdampak. Pasokan air dinilai masih aman karena berasal dari enam sumber.
Ancaman lain yang turut diantisipasi adalah karhutla. Hingga akhir Agustus, tercatat kebakaran terjadi pada tiga kawasan hutan dan sepuluh kawasan lahan.
“Untuk mengantisipasi karhutla, kami mengimbau masyarakat, terutama pemilik lahan, tidak melakukan pembakaran selama musim kemarau,” tegas Edy.
Salah satu kebakaran terjadi di kawasan Gunung Watangan, Desa Lojejer, dengan luas terdampak sekitar 6,5 hektare dan ditangani bersama Perhutani, Muspika, relawan, serta unsur terkait.(kur)








