GOPOS.ID, GORONTALO – Tradisi pembuatan nasi bulu kembali dilaksanakan oleh masyarakat Desa Hutabohu, Kecamatan Limboto Barat, sebagai bagian dari perayaan Lebaran Ketupat. Tradisi ini berlangsung sederhana namun penuh makna, dengan keterlibatan keluarga dan masyarakat sekitar yang datang untuk menikmati hidangan bersama.
Narasumber, Amir, menjelaskan bahwa nasi bulu hanya dibuat satu hari dalam setahun, tepat pada perayaan Lebaran Ketupat. Hidangan ini disiapkan untuk keluarga serta masyarakat yang berkunjung, bahkan terbuka bagi siapa saja yang ingin datang dan menikmati makanan tersebut, terutama bagi tamu yang menginap.
Menariknya, tradisi ini tidak disertai dengan rangkaian acara formal atau doa bersama. Masyarakat setempat lebih menekankan pada kebersamaan dan keterbukaan, di mana siapa pun dipersilakan datang dan makan tanpa syarat tertentu. Hal ini mencerminkan nilai kekeluargaan yang masih kuat di tengah masyarakat Hutabohu.
Proses pembuatan nasi bulu dilakukan dengan cara yang khas, yaitu menggunakan bambu (bulu) sebagai wadah. Sebelumnya, bambu dilapisi daun pisang, kemudian diisi beras yang telah diberi bumbu. Setelah itu, bambu dibakar hingga nasi matang. Teknik memasak ini dipercaya memberikan cita rasa yang khas dan berbeda.
Dalam satu hari pelaksanaan, jumlah nasi bulu yang dibuat tidak menentu, berkisar antara 200 hingga lebih dari 500 buah, tergantung jumlah keluarga dan tamu yang hadir. Menurut Amir, jumlah produksi tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi tersebut. (Laila-Mg)








