GOPOS.ID, GORONTALO – Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Gorontalo, Sukril Gobel, mengungkapkan proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk tahun 2027. Proyeksi ini menunjukkan bahwa APBD diperkirakan akan mencapai angka 1,27 triliun rupiah, yang merupakan penurunan signifikan dari 1,9 triliun yang tercatat dalam tiga tahun terakhir sejak 2024. Penurunan ini diakibatkan oleh upaya efisiensi anggaran serta kebutuhan untuk mendanai program-program prioritas nasional yang memerlukan alokasi anggaran yang lebih besar.
Dalam presentasinya, Sukril menjelaskan bahwa pendapatan daerah diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 27% dibandingkan tahun 2026. Penurunan pendapatan ini menjadi perhatian serius karena akan berdampak langsung pada berbagai program dan layanan publik yang bergantung pada anggaran tersebut. Dengan belanja daerah yang diproyeksikan sebesar 1,26 triliun, belanja pegawai menjadi komponen terbesar dengan alokasi sekitar 649 miliar rupiah, meskipun mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Sukril juga menyoroti bahwa belanja modal menunjukkan penurunan yang signifikan, yang disebabkan oleh ketidakpastian dalam penantian dana transfer yang diharapkan dapat mendukung berbagai proyek pembangunan. Terdapat alokasi dana transfer ke kabupaten/kota sekitar 152 miliar, yang sebagian besar berasal dari pajak rokok dan bahan bakar. Pajak ini menjadi sumber pendapatan penting bagi daerah, di mana 70% dari pajak bahan bakar akan dibagi dengan kota-kota secara proporsional, memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah.
Dalam upaya untuk menghadapi kemungkinan bencana, pemerintah daerah telah menyiapkan alokasi belanja tak terduga sebesar 5 miliar rupiah. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mempersiapkan diri terhadap situasi darurat yang mungkin terjadi di masa depan, sehingga dapat memberikan respons yang cepat dan efektif.
Sukril juga menjelaskan bahwa pembiayaan daerah mencakup penerimaan dan pengeluaran, di mana proyeksi penerimaan dari Silva 2026 diperkirakan sekitar 11 miliar rupiah, sementara pengeluaran untuk cicilan hutang mencapai 16 miliar rupiah. Meskipun terdapat penurunan dalam pendapatan, Sukril tetap optimis akan adanya harapan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran. Ia menekankan bahwa penting untuk terus mencari cara agar anggaran dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Melihat angka-angka tersebut, Sukril menekankan pentingnya perencanaan yang matang dan kolaborasi antara berbagai pihak untuk mencapai tujuan pembangunan daerah. Dengan APBD yang terus mengalami penurunan, diperlukan strategi inovatif untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada. Hal ini sangat penting agar program-program prioritas nasional tetap dapat terlaksana dengan baik, meskipun dalam kondisi anggaran yang terbatas.
Dengan penekanan pada efisiensi dan kolaborasi, diharapkan pemerintah daerah dapat menghadapi tantangan yang ada dan terus berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gorontalo. (Putra/Gopos)








