GOPOS.ID, JEMBER – Ribuan masyarakat memeriahkan Kirab Pawai Budaya Ancak Agung di Kabupaten Jember, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember”, kirab menjadi ruang memperkuat persaudaraan masyarakat.
Sebanyak 867 peserta ancak ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari OPD, puskesmas, kelurahan, desa, sekolah, hingga lembaga kemasyarakatan.
Keterlibatan berbagai unsur itu memperlihatkan Ancak Agung bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan tradisi bersama yang menyatukan masyarakat.
Ancak yang diarak berisi hasil bumi dan makanan tradisional. Sajian tersebut menjadi simbol rasa syukur atas rezeki sekaligus kekayaan potensi daerah.
Tradisi tersebut juga menggambarkan kreativitas masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya. Semangat gotong royong menjadi bagian penting dalam proses penyusunan hingga pelaksanaan kirab.
Bupati Jember Muhammad Fawait menilai momentum Maulid Nabi dan peringatan kemerdekaan memiliki pesan yang saling berkaitan, terutama mengenai persaudaraan dan kepedulian.
“Maulid Nabi dan kemerdekaan sama-sama mengajarkan kita tentang persaudaraan, kecintaan terhadap tanah air, serta kepedulian terhadap sesama,” ujar Gus Fawait.
Pesan toleransi turut ditampilkan melalui syal bercorak Indonesia dan Palestina yang dikenakan Gus Fawait sepanjang kegiatan.
Ia menegaskan simbol tersebut merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan, bukan representasi kepentingan agama tertentu.
“Ini bukan urusan agama, tetapi ini adalah urusan kemanusiaan. Mudah-mudahan dari Jember untuk Indonesia dan dunia, toleransi tetap kita jaga,” katanya.
Menurut Gus Fawait, semangat tersebut sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hak seluruh bangsa.
Ia juga mengajak masyarakat meneladani Nabi Muhammad SAW dengan menghormati perbedaan dan memberikan ruang bagi pemeluk agama lain menjalankan ibadah.
“Kalau mengaku umat Nabi Muhammad, tidak mungkin akan mengganggu ibadah agama yang lain,” tegasnya.
Gus Fawait berharap Ancak Agung terus berkembang tanpa kehilangan nilai utama berupa tradisi, ukhuwah, toleransi, dan kebanggaan terhadap Jember.
“Ancak Agung mungkin tidak seberapa, tetapi ini membuat kita bahagia karena bisa berkumpul bersama. Mari kita jaga tradisi dan angkat marwah Jember,” pungkasnya.(kur)








