GOPOS.ID, GORONTALO — Tepuk tangan memenuhi ruangan Ballroom Fox Hotel Gorontalo, Sabtu (13/6/2026). Para pemilik media siber, pengurus organisasi, dan insan pers tampak larut dalam agenda Musyawarah Daerah (Musda) II Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Gorontalo.
Forum berjalan sebagaimana mestinya. Laporan pertanggungjawaban disampaikan, pandangan anggota mengalir, hingga proses pemilihan ketua berlangsung lancar.
Sesekali tawa dan tepuk tangan pecah, menandai optimisme organisasi menghadapi tantangan industri media yang kian kompleks.
Namun, suasana itu berubah dalam hitungan detik.
Ketika Ketua SMSI Gorontalo terpilih, Irwanto Achmad atau yang akrab disapa Iwan Dije, berdiri menyampaikan sambutannya, ia tiba-tiba mengajak seluruh peserta menundukkan kepala dan mengirimkan doa untuk almarhum Fadli Poli, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gorontalo yang belum lama berpulang.
Mendadak ruangan menjadi hening.
Tak ada lagi suara percakapan. Tak terdengar bunyi telepon genggam. Hanya keheningan yang menyelimuti ruangan ketika Surah Al-Fatihah dipanjatkan bersama.
Di momen itulah, kenangan tentang seorang sahabat, mentor, sekaligus pejuang pers Gorontalo seakan kembali hadir di tengah-tengah mereka.
Usai doa bersama, Iwan mencoba melanjutkan sambutannya. Namun suaranya mulai bergetar. Beberapa kali ia menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang perlahan tak lagi bisa disembunyikan.
Baginya, perjalanan SMSI Gorontalo tidak bisa dipisahkan dari sosok Fadli Poli.
Di balik berdirinya organisasi perusahaan media siber tersebut di Gorontalo, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak sorotan. Salah satunya adalah almarhum.
Dengan mata berkaca-kaca, Iwan mengenang masa-masa awal ketika dirinya dipercaya memimpin SMSI Gorontalo pada periode pertama. Saat itu, banyak hal yang belum ia pahami tentang tata kelola organisasi.
Justru Fadli Poli yang hadir membantu. Mulai dari menjembatani komunikasi dengan Dewan Pengurus Pusat SMSI, mengurus berbagai kebutuhan administrasi, hingga memastikan roda organisasi berjalan sebagaimana mestinya.
“Beliau yang melakukan komunikasi dengan pengurus pusat. Saat itu saya masih banyak belajar dan belum memahami seluruh proses organisasi. Almarhum yang membantu membuka jalan,” kenang Iwan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi sebuah organisasi yang sedang bertumbuh, dukungan tersebut menjadi fondasi yang menentukan arah perjalanan.
Fadli Poli, menurut Iwan, tidak pernah banyak berbicara soal kontribusinya. Ia lebih memilih bekerja dalam diam.
Membantu tanpa perlu disebut.
Menguatkan tanpa harus terlihat.
Kenangan itulah yang membuat Iwan beberapa kali menghentikan sambutannya.
Air matanya tak lagi mampu dibendung ketika mengenang sosok yang selama ini berjalan bersamanya dalam berbagai dinamika organisasi pers di Gorontalo.
Lalu terlontarlah sebuah kalimat yang membuat ruangan kembali terdiam.
“Kalau saat itu saya tidak dibantu almarhum, mungkin saya tidak akan kembali terpilih lagi untuk yang kedua kalinya,” ucapnya dengan suara terbata-bata.
Tak ada tepuk tangan. Tak ada sorak sorai. Yang terdengar hanyalah keheningan panjang yang dipenuhi rasa haru.
Banyak yang hadir memahami makna dari kalimat itu. Sebab mereka tahu, Fadli Poli bukan sekadar pemimpin organisasi pers.
Ia adalah figur yang selama ini berusaha merajut kebersamaan di tengah beragam latar belakang dan kepentingan.
Meski memimpin organisasi berbeda, ia dikenal mampu menjalin komunikasi dengan semua pihak. Baginya, kemajuan pers daerah jauh lebih penting daripada sekat-sekat organisasi.
Ia percaya bahwa media yang kuat lahir dari kolaborasi, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan.
“Beliau selalu berpikir bagaimana organisasi pers bisa tumbuh bersama. Tidak pernah melihat sekat organisasi. Yang beliau pikirkan adalah bagaimana pers Gorontalo bisa maju,” kata Iwan.
Di tengah derasnya perubahan digital, tantangan bisnis media, dan persaingan industri informasi yang semakin ketat, Musda II SMSI Gorontalo seakan menghadirkan pengingat yang sederhana namun mendalam.
Bahwa kemajuan organisasi tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di depan panggung. Tetapi juga oleh orang-orang yang bekerja dengan tulus di belakang layar.
Orang-orang yang mungkin tak selalu disebut namanya, tetapi jejak pengabdiannya terus hidup dalam perjalanan organisasi dan dalam ingatan mereka yang pernah merasakan ketulusannya.
Hari itu, Musda tidak sekadar melahirkan kepengurusan baru atau menetapkan kembali Irwanto Achmad sebagai Ketua SMSI Gorontalo periode 2026–2030.
Musda juga menjadi ruang penghormatan bagi seorang pejuang pers yang telah meninggalkan warisan berharga: semangat persaudaraan, kolaborasi, dan pengabdian untuk kemajuan dunia jurnalistik di Gorontalo.
Dan ketika forum berakhir, tepuk tangan yang mengiringi terpilihnya kembali seorang ketua terasa berbeda.
Di balik kebahagiaan itu, tersimpan kerinduan mendalam kepada sosok yang telah pergi.
Sosok yang mungkin telah meninggalkan dunia ini, tetapi nilai-nilai perjuangannya masih hidup, tumbuh, dan terus menjadi cahaya bagi perjalanan pers Gorontalo. (*)








