GOPOS.ID, GORONTALO – Laju inflasi tahunan di Provinsi Gorontalo kembali meningkat pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 2,99 persen, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat 2,24 persen.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil mencapai 1,76 persen. “Dalam kelompok ini, tomat menjadi komoditas yang paling dominan dengan andil inflasi sebesar 0,45 persen, disusul beras sebesar 0,38 persen dan bawang merah sebesar 0,36 persen,” terang Agus Sudibyo saat menyampaikan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Gorontalo, Selasa (2/6/2026).
Selain komoditas hortikultura, kenaikan harga ikan juga memberi pengaruh signifikan. Ikan cakalang dan ikan layang masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,18 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi di Gorontalo masih sangat dipengaruhi oleh dinamika harga pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Andil 1,76 persen ini menunjukkan bahwa harga komoditi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau perlu dijaga karena memberikan tekanan yang cukup besar dalam pengeluaran masyarakat,” ungkap Agus Sudibyo.
Di luar sektor pangan, emas perhiasan menjadi komoditas non-pangan yang paling besar mendorong inflasi tahunan Gorontalo. Kenaikan harga emas memberikan andil sebesar 0,51 persen pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang secara keseluruhan mencatat inflasi tertinggi mencapai 7,15 persen pada Mei 2026.
Sektor transportasi juga masih memberikan tekanan terhadap inflasi. Tarif angkutan udara menjadi penyumbang terbesar pada kelompok transportasi dengan andil 0,22 persen. Kenaikan tarif penerbangan ini turut mendorong inflasi kelompok transportasi yang mencapai 2,85 persen secara tahunan.
Selain itu, kenaikan tarif air minum PAM, nasi dengan lauk, sigaret kretek mesin (SKM), serta berbagai produk restoran ikut menambah tekanan terhadap harga-harga konsumen. Pada kelompok penyediaan makanan dan minuman, komoditas nasi dengan lauk menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,08 persen.
Meski demikian, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Cabai rawit menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,36 persen, disusul kopi bubuk, terong, air kemasan, bawang putih, serta daging ayam ras.
“Secara wilayah, Kabupaten Gorontalo mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,67 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,39. Sementara Kota Gorontalo mengalami inflasi 2,19 persen dengan IHK sebesar 108,35,” urai Agus Sudibyo.(hasan/gopos)








