GOPOS.ID, JEMBER – Kabupaten Jember digegerkan dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sedikitnya 18 siswa PAUD dan TK mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari dapur SPPG Kaliwates.
Ketua Satgas MBG Jember, Achmad Imam Fauzi, langsung melakukan inspeksi mendadak ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Al-Mubarok, Kamis (21/5/2026).
Datang tanpa rombongan besar, Fauzi masuk ke area dapur memakai masker dan penutup kepala. Ia memeriksa langsung proses pengolahan makanan serta standar operasional yang diterapkan petugas.
“Faktanya ada korban, itu fakta. Berarti ada sesuatu di hulunya di sini,” ujar Fauzi usai melakukan sidak.
Menurut Fauzi, investigasi penyebab keracunan masih berlangsung. Namun Pemkab Jember memilih mengutamakan keselamatan korban dan keluarga terdampak.
“Bupati berpihak pada korban. Artinya, Bupati minta maaf pada korban dan keluarga korban, dan ini tidak boleh terulang lagi,” katanya.
Dalam pemeriksaan tersebut, Fauzi menemukan dugaan pelanggaran teknis di area dapur. Salah satunya penempatan tabung gas di ruang tertutup yang dinilai berbahaya.
“Saya menemukan ada gas di posisi tempat tertutup. Seharusnya gas itu menurut saya di tempat luar,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti belum adanya penghentian permanen terhadap dapur MBG bermasalah di Jember. Padahal, laporan masyarakat terkait kualitas layanan sebelumnya sudah beberapa kali masuk.
“Hasil diskusi ternyata belum ada di Jember yang disuspen permanen. Padahal policy-nya keselamatan harus diutamakan,” tegas Fauzi.
Sebagai Ketua Satgas MBG daerah, Fauzi mengaku hanya bisa memberikan rekomendasi kepada Badan Gizi Nasional terkait sanksi terhadap dapur penyedia makanan tersebut.
“Nanti akan saya rekomendasikan kepada pengampu policy untuk disuspen atau tidak disuspen. Tetapi faktanya sudah ada korban,” ujarnya.
Fauzi menyebut kasus ini menjadi ironi di tengah ambisi menjadikan Jember sebagai model pelaksanaan MBG nasional. Menurutnya, pengawasan harus diperketat agar kejadian serupa tidak meluas.
“Harus ada satu atau dua yang didisiplinkan supaya tidak menular ke yang lain,” katanya.
Ia menambahkan, laporan masyarakat melalui kanal “Wadul Guse” menunjukkan masih adanya persoalan dalam sistem pengelolaan MBG secara keseluruhan.
“Pengelolaan MBG baik, tapi ada masalah karena ini sifatnya massal dan masif,” pungkasnya.(kur)








