GOPOS.ID, BONE BOLANGO – Di tengah derasnya arus digital dan semakin jarangnya generasi muda menuturkan bahasa daerah, seorang aparatur sipil negara di Kabupaten Bone Bolango memilih melawan lupa dengan caranya sendiri. Lewat sebuah kamus daring Bahasa Suwawa atau Bahasa Bonda, Risto Gaib menghadirkan jembatan antara warisan leluhur dan dunia modern, agar bahasa yang nyaris tenggelam itu tetap hidup di tengah generasi milenial dan Gen Z.
Berawal dari kegelisahan melihat semakin sedikit masyarakat yang menggunakan Bahasa Suwawa, Risto Gaib perlahan merancang sebuah langkah sederhana namun bermakna besar. Pria 37 tahun yang bekerja sebagai PNS di Kantor Camat Bone itu mulai mengembangkan kamus Bahasa Suwawa berbasis website sejak September 2024.
Baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas budaya yang harus dijaga. Terlebih, Kabupaten Bone Bolango dikenal memiliki dua bahasa daerah, yakni Bahasa Suwawa dan Bulango, yang menjadi warisan penting para leluhur.
“Selama ini yang menggunakan Bahasa Bonda tinggal sedikit. Saya ingin mengenalkan kembali bahasa daerah ini kepada remaja dan generasi muda agar tidak punah oleh perkembangan zaman,”ungkap Risto saat diwawancarai, Senin (18/5/2026).
Dengan memanfaatkan teknologi digital, ia menghadirkan kamus yang dapat diakses secara online https://www.blognateya.com/p/kamus-bahasa-daerah-suwawa-bonda.html melalui telepon genggam maupun laptop. Pengguna cukup mengetik kata dalam Bahasa Indonesia, lalu sistem akan menerjemahkannya secara otomatis ke dalam Bahasa Suwawa.
Meski tampak sederhana, proses penyusunannya tidak mudah. Risto mengaku harus mendatangi sejumlah tokoh masyarakat di wilayah Suwawa untuk menghimpun kosakata yang autentik. Referensi juga diperolehnya dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo. Selama sekitar 10 hari, ia merampungkan tahap awal pembuatan website sambil terus mengumpulkan bahan dan padanan kata.
“Saya membuatnya sendiri sambil mencari referensi kosakata. Alhamdulillah sekarang sudah ada sekitar 500 kosakata yang dimasukkan, mulai dari kata kerja, nama benda hingga kata sifat,”katanya.
Kemampuan Risto berbahasa Suwawa juga menjadi modal penting dalam menyusun kamus tersebut. Lahir di Suwawa dan kini bertugas di Kecamatan Bone, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga bahasa daerahnya tetap hidup.
Perlahan, inovasi itu mulai mendapat perhatian masyarakat. Setelah dibagikan melalui media sosial, website kamus Bahasa Suwawa tersebut telah dikunjungi lebih dari 400 pengguna. Namun bagi Risto, angka itu bukan tujuan akhir. Ia masih ingin terus melengkapi kosakata dan mengembangkan kamus tersebut menjadi aplikasi agar lebih mudah diakses publik.
“Insya Allah ke depan saya ingin membuatnya dalam bentuk aplikasi. Saya berharap kamus ini bisa menjadi inovasi daerah Bone Bolango dalam mendukung pelestarian Bahasa Suwawa atau Bahasa Bonda sebagai warisan budaya,”tuturnya.
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, langkah kecil Risto menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari siapa saja. Bahkan dari sebuah website sederhana, bahasa leluhur dapat kembali menemukan ruang hidupnya di era digital. (Indra/Gopos)








