GOPOS.ID, GORONTALO – Di bawah sinar lampu dan debu yang menempel di wajah, delapan prajurit TNI berdiri tegak di atas hamparan semen basah.
Mereka bukan sekadar pekerja proyek, tetapi punggawa pengabdian yang mengubah jalan tanah menjadi rabat beton yang kokoh, dan peluh menjadi bukti cinta pada rakyat.
Setiap ayunan sekop, setiap campuran semen dan kerikil, mengandung kisah tentang ketulusan dan semangat juang. Mereka adalah bagian dari Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 1315/Gorontalo, yang kini hampir menuntaskan 80 persen pembangunan rabat beton di Desa Tonala, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.
Mereka Bukan Sekadar Tentara
Delapan prajurit itu merupakan para senior dari Satgas TMMD lainnya, mereka memiliki masing-masing peran dan tugas dalam pelaksanaan TMMD. Namun di Tonala, mereka menyatu dalam satu tekad, membangun untuk rakyat.
“Kalau dulu kami bertempur dengan senjata, sekarang kami bertempur dengan semen dan pasir. Sama-sama demi Indonesia,” ujar Serka Sucipto, salah satu punggawa lapangan yang memimpin pengecoran rabat beton sepanjang ratusan meter itu.
Bagi mereka, rabat beton bukan sekadar infrastruktur. Itu adalah simbol kemanunggalan antara TNI dan masyarakat.
“Kami ingin meninggalkan jejak kebaikan yang bisa dirasakan warga setiap hari,” tambahnya sambil tersenyum di sela-sela istirahat siang.

Peluh dan Tawa di Tengah Lembur
Meski pekerjaan fisik menuntut tenaga ekstra, semangat mereka tak pernah surut. Setiap sore, suara tawa terdengar di antara bunyi molen berputar. Warga desa ikut membantu, ibu-ibu menyiapkan air minum dan kudapan sederhana.
“Rasanya seperti keluarga besar. Kami kerja, mereka bantu. Kadang malam-malam masih ada yang datang bawakan kopi,” kata Seru Lubis Ayuba, sembari membersihkan sisa semen di tangannya.
Hubungan itu tak hanya soal pekerjaan. Mereka berbagi cerita, bercanda dengan anak-anak desa, bahkan ikut membantu warga memperbaiki pagar atau rumah yang rusak.
Dibalik Kerasnya Beton, Ada Hati yang Lembut
Pekerjaan rabat beton memang keras. Namun hati para prajurit itu tetap lembut. Mereka paham, pembangunan bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang menanamkan semangat gotong royong dan harapan baru.
“Ketika nanti kami pulang, kami ingin warga Tonala tetap semangat menjaga hasil kerja ini. Karena ini bukan milik TNI, tapi milik bersama,” tutur Sertu Ma’ruf, dengan nada penuh kebanggaan.
Lebih dari Sekadar Program
Bagi warga Tonala, kehadiran para prajurit ini lebih dari sekadar program TMMD. Mereka datang membawa perubahan nyata bukan hanya jalan yang kini mudah dilalui, tapi juga semangat kebersamaan yang tumbuh di tengah desa.
“Delapan orang itu luar biasa. Mereka kerja tanpa mengeluh, bahkan sering lembur sampai malam,” ungkap Kepala Desa Tonala, penuh haru.
Dan ketika rabat beton itu nanti rampung sepenuhnya, bukan hanya jalan yang menjadi lebih baik, tapi juga kenangan tentang delapan punggawa yang menanamkan makna sejati dari kata pengabdian. (Isno/gopos)








