GOPOS.ID, GORONTALO – Baru saja 10 hari berlalu, setahun masa bhakti Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo periode 2024-2029.
Tapi di kurun waktu satu kalender, lembaga wakil rakyat yang berada di puncak Kelurahan Botu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo tersebut dirundung masalah perilaku anggotanya.
Kali pertama, masalah dugaan penipuan haji musim haji 2025 yang mencuat pada Juli 2025. Seorang anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Mustafa Yasin, diadukan ke Polda Gorontalo dengan tuduhan penipuan haji.
Mustafa selaku Direktur Travel Novavil Mutiara Utama disebut gagal memberangkatkan sebanyak 65 orang calon haji melalui jalur haji plus. Padahal para calon jemaah sudah menyetorkan uang hingga ratusan juta Rupiah. Namun saat pemberangkatan haji, para calon haji tak menerima visa dari Pemerintah Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.
Mustafa sempat meluruskan tuduhan dugaan penipuan dengan menyatakan sedang melakukan pengurusan di Arab Saudi. Tapi para calon jemaah kadung kecewa terhadap legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Gorontalo VI (Kabupaten Boalemo-Pohuwato) tersebut. Mereka tetap memilih jalur hukum. Saat ini kasus dugaan penipuan yang dituduhkan ke Musfata Yasin saat ini masih berproses di Polda Gorontalo.
Beselang dua bulan, muncul sebuah rekaman video yang menampilkan anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Wahyu Moridu, yang juga sama dari Dapil Gorontalo VI. Legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini terekam sedang bersama seorang perempuan di dalam mobil. Wahyu sedang menyetir, sementara sang perempuan berada di kursi samping.
Wahyu mengatakan bila dirinya sedang dalam perjalanan dinas di Makassar bersama perempuan yang disebutnya adalah kekasih gelap (hugel). Bahkan tanpa rasa malu, Wahyu mengumbar aksinya yang berduaan di dalam mobil bila dirinya hendak merampok uang negara.
“Kita rampok saja uang negara ini. Kita habiskan aja biar negara ini makin miskin,” ujarnya.
Rekaman video berdurasi 35 detik itu menjadi viral. Beredar luas di jejaring media sosial dan diteruskan berkali-kali. Sadar akan kesalahannya, Wahyu membuat pernyataan permohonan maaf. Ditulis lewat akun media sosial miliknya. Lalu disusul video permohonan maaf berdurasi 1 menit 29 detik. Permohonan maaf disampaikan bersama seorang perempuan, yang secara penampilan memiliki paras berbeda dengan video yang berada di mobil.
Tapi masyarakat sudah terlanjur kecewa. Bukan hanya masalah perilaku bersama seorang kekasih gelap saja, tetapi pernyataan “merampok uang negara”. Wahyu dianggap memperlihatkan arogansinya sebagai pejabat publik. Pejabat yang seharusnya memperlihatkan kelakuan baik di hadapan masyarakat malah sebaliknya. Desakan untuk mencopot Wahyu juga timbul dari berbagai kalangan.
Pihak DPRD Provinsi juga tak tinggal diam dengan desakan tersebut, Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Gorontalo, Fikram Salilama menuturkan bahwa BK akan segera memanggil Wahyu untuk meminta klarifikasi terkait video viral dengan pernyataan-pertanyaan kontroversi tersebut.
“Kita sudah buat undangan, dan Senin 22 September kita panggil yang bersangkutan untuk klarifikasi,” ucap Fikram Jumat 19 september 2025.
“Tidak boleh dibiarkan ini, segera kita panggil. Saya melihat dalam video itu oknum ini diduga dalam kondisi mabuk. Tetapi itu yang harus konfirmasi lagi kondisi tersebut.
Hal senada disampaikan oleh Umar Karim, anggota BK DPRD Provinsi Gorontalo. Dirinya menegaskan akan menindaklanjuti hal tersebut sesuai dengan mekanisme yang ada dan berdasarkan tata tertib DPRD Provinsi Gorontalo.
“Intinya akan segera cepat kita tindaklanjuti,” tutupnya. (Putra/Gopos)








