GOPOS.ID, KOTA GORONTALO – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan imbauan kewaspadaan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah daerah di Indonesia. Meski demikian, hingga Maret 2026, Kota Gorontalo dipastikan masih aman dan tidak ditemukan kasus campak.
Hal tersebut disampaikan oleh Harson Ahudulu, SKM, MM, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dikes Kota Gorontalo yang menegaskan bahwa sejak Januari hingga Maret 2026 kasus campak di Kota Gorontalo masih aman
“Alhamdulillah sampai dengan bulan Maret ini di Kota Gorontalo masih negatif dari kasus campak,” ujar Harson
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, saat ini terdapat sekitar 11 provinsi dan 29 kabupaten/kota di Indonesia yang terdampak KLB campak. Sementara di Provinsi Gorontalo sendiri, pada tahun 2025 tercatat tiga kabupaten yang sempat mengalami KLB campak, dengan kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Pohuwato .
Menurut standar Kementerian Kesehatan, suatu daerah dapat dinyatakan KLB apabila ditemukan lebih dari tujuh kasus campak. Di Kota Gorontalo sendiri, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 23 kasus.
Namun, jumlah tersebut berhasil dikendalikan melalui berbagai langkah penanganan yang dilakukan pemerintah daerah bersama fasilitas kesehatan.
“Kami langsung melakukan langkah sesuai SOP, termasuk Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah, turun langsung ke wilayah yang ada penderita, serta berkoordinasi dengan sekolah, lurah, camat, dan stakeholder lainnya,” jelasnya.
Upaya tersebut dinilai berhasil menekan penyebaran kasus sehingga tidak berkembang lebih luas. Jika tidak ditangani cepat, jumlah kasus dikhawatirkan bisa meningkat hingga ratusan.
“Kalau terlambat penanganannya, bisa saja kasusnya sampai ratusan. Tapi alhamdulillah di Kota Gorontalo hanya sampai 23 kasus dan bisa dikendalikan,” tambahnya.
Meski saat ini tidak ada kasus, Dinas Kesehatan tetap mengimbau seluruh puskesmas di Kota Gorontalo untuk meningkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan.
Penyuluhan difokuskan kepada para orang tua yang memiliki anak balita, terutama menjelang momen Lebaran yang biasanya diwarnai dengan aktivitas berkumpul dan bersilaturahmi.
Masyarakat juga diingatkan bahwa campak dapat menular melalui droplet atau percikan air liur dari penderita, baik melalui kontak langsung maupun saat berbicara, batuk, atau bersin.
Karena itu, orang tua diminta lebih berhati-hati saat membawa anak ke tempat ramai.
“Kami mengimbau orang tua yang memiliki balita agar lebih berhati-hati, terutama saat Lebaran nanti. Hindari kontak dengan banyak orang karena penularan bisa melalui droplet atau kontak langsung dengan penderita,” pungkasnya (Rama/Gopos)







