Oleh Muhammad Zulfikar
Siang itu matahari di Desa Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tepat berada di atas ubun-ubun. Sinarnya yang terik terasa menyengat kulit. Namun, semilir angin yang melintasi hamparan sawah dan perbukitan menghadirkan sensasi kedamaian khas pedesaan.
Di salah satu sudut desa, tepatnya di Dusun I Bola, berdiri sebuah sekolah. Bangunannya terbilang sangat sederhana, berbentuk huruf L dengan tiga ruang utama serta lapangan upacara beralaskan tanah berselimut kerikil kecil. Namun, kesederhanaan itu tak menyurutkan semangat dan cita-cita anak-anak Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Alkhairaat Toro.
Tak lama berselang, lantunan azan berkumandang dari pengeras suara masjid di dekat sekolah. Kumandang itu menjadi penanda bagi para siswa dan warga sekitar untuk bersiap menunaikan salat zuhur.
Usai salat berjamaah, satu per satu peserta didik berjalan kembali ke sekolah untuk melanjutkan pelajaran. Siang itu ada yang berbeda; wajah-wajah yang tadinya lelah, seketika berubah ceria dan penuh semangat.
​Mereka diberitahu bahwa mata pelajaran berikutnya tak lagi menatap papan tulis seperti biasa, melainkan menggunakan layar proyektor dengan materi utama seputar literasi digital dan bijak berinternet.
​Bagi mereka dan warga Desa Toro pada umumnya, akses internet serta digitalisasi ibarat sebuah “hadiah”. Bukan tanpa alasan, masyarakat yang bermukim di lembah perbukitan ini baru beberapa tahun terakhir benar-benar menikmati jaringan internet melalui Sekolah Internet Komunitas. Walaupun sebelumnya pernah mendengar tentang internet, pemahaman serta kecakapan mereka dalam memanfaatkannya masih sangat terbatas.
Fitri, koordinator Sekolah Internet Komunitas, menceritakan bahwa edukasi penggunaan internet secara bijak awalnya hendak digelar di sekolah. Namun, di saat bersamaan, dusun mereka mendapat giliran pemadaman listrik.
​Tak hilang akal, perempuan berusia 27 tahun itu bersama beberapa rekannya mendatangi pengurus masjid untuk meminta izin memanfaatkan ruang dan fasilitas tempat ibadah tersebut. Berbekal sebuah laptop dan proyektor, mereka tetap membagikan pemahaman seputar dunia digital kepada anak-anak.
​Beragam materi literasi digital pun disampaikan, mulai dari cara mengenali dan mencegah berita bohong (hoax), panduan berinternet secara aman dan sehat, hingga potensi bahaya jika teknologi tersebut disalahgunakan.
Fitri bercerita Sekolah Internet Komunitas berdiri pada 2024 dari semangat para pemuda setempat yang ingin membangun desa digital di tanah kelahiran mereka. Gagasan inovatif ini tak lepas dari kolaborasi antara Fitri dan rekan-rekannya dengan dua organisasi nirlaba, yaitu Roa Jaga Roa dan Common Room.
​Dari kolaborasi ketiga pihak inilah Sekolah Internet Komunitas resmi terbentuk. Pada awal pendiriannya, delapan pengurus dibekali pengetahuan dasar dan keterampilan teknis, seperti cara mengoperasikan internet hingga melakukan pemasangan kabel jaringan.
Ketika memulai Sekolah Internet Komunitas, Fitri sempat tidak percaya diri. Bagi perempuan, pekerjaan teknis seperti memasang kabel internet kerap diidentikkan dengan kaum laki-laki. Namun, seluruh keraguan itu ia tepis demi satu cita-cita: Desa Toro harus maju dan menjadi percontohan desa digital di Kabupaten Sigi, bahkan Sulawesi Tengah.
Keinginan kuat itu didorong oleh rasa ibanya melihat anak-anak desa yang begitu kesulitan mengakses pengetahuan dan informasi dari dunia luar.
Mirisnya, ketika menghadapi ujian praktik yang membutuhkan komputer atau koneksi internet, anak-anak Desa Toro harus menempuh perjalanan sekitar 85 kilometer menuju Kota Palu. Selain jarak yang jauh, jalur yang harus dilewati pun tergolong ekstrem, penuh lubang, serta menembus lebatnya hutan.
​Atas dasar itulah, Fitri dan anggota Sekolah Internet Komunitas bertekad membawa Desa Toro sejajar dengan desa-desa lain di tanah air, khususnya dalam hal kemajuan internet dan digitalisasi.
Hingga kini, Fitri bersama rekan-rekannya tak hanya berhasil membangun jaringan internet, tetapi juga memberikan dampak luar biasa bagi desanya.
​Ibu-ibu rumah tangga yang dulunya berjualan dari rumah ke rumah, kini makin terampil menjajakan produk mereka melalui marketplace maupun media sosial. Di sektor pendidikan, anak-anak Desa Toro tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Kota Palu untuk mengikuti ujian karena sekolah mereka telah terhubung internet.
​Sektor pariwisata dan kebudayaan pun turut menggeliat. Warga setempat kini bisa leluasa mempromosikan kekayaan alam dan budaya Desa Toro ke mancanegara. Tak hanya itu, para petani juga mulai mahir berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang masa tanam yang tepat, pemilihan pupuk, hingga teknik pertanian modern.
​”Para montir bengkel di sini bahkan terkadang melihat tutorial cara memperbaiki sepeda motor lewat YouTube,” tutur Fitri.
​Menurutnya, berbagai kemajuan ini tak lepas dari pemanfaatan internet yang bijak, aman, dan tepat guna. Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa Desa Toro masih membutuhkan penguatan sarana dan prasarana agar bisa benar-benar mandiri serta merdeka dari area blank spot.
Edukasi Internet
Sebagai salah satu penggagas Sekolah Internet Komunitas, Fitri merasa bertanggung jawab untuk menjaga warga Desa Toro agar aman, terlindungi, dan tidak terjebak dampak negatif penyalahgunaan internet.
Demi mencegah penipuan online, judi online, hingga maraknya konten tak sehat, Sekolah Internet Komunitas menjadikan edukasi internet sebagai salah satu agenda prioritas.
Fitri menceritakan, pada 2025 sejumlah warga sempat menelan kerugian hingga Rp1 miliar akibat penipuan online. Belajar dari kasus tersebut, ia dan para pengurus kian gencar memberikan literasi digital demi menekan munculnya korban baru.
​”Edukasi ini membuahkan hasil. Di beberapa dusun yang sudah kami datangi, kini tidak ditemukan lagi korban penipuan online,” ujar Fitri.
​Kehadiran Sekolah Internet Komunitas pun disambut hangat oleh tenaga pendidik setempat. Nurlia, salah seorang guru di MIS Alkhairaat Toro, mengaku sangat terbantu. Pasalnya, sebelum ada komunitas ini, para guru harus bepergian ke desa tetangga, bahkan ke Kota Palu, hanya untuk mendapatkan koneksi internet yang stabil.
​Menurut Nurlia, salah satu manfaat nyata yang dirasakan adalah kemudahan dalam menyusun bahan ajar serta memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital bagi para siswa.
​Ia juga mengapresiasi ketulusan para pengurus Sekolah Internet Komunitas yang tak kenal lelah mengedukasi anak-anak desa meski tanpa imbalan materi.
Menurut Nurlia, edukasi literasi digital yang disampaikan para pengurus Sekolah Internet Komunitas berdampak besar bagi anak-anak. Berkat pembekalan tersebut, mereka mulai memahami cara memanfaatkan internet secara bijak.
​”Sekarang anak-anak sedikit banyak sudah bisa memilah mana informasi yang baik dan mana yang buruk,” tutur Nurlia.
​Meski demikian, Nurlia menyadari ada bahaya yang tetap mengintai di balik layar kaca. Oleh karena itu, pihak sekolah melarang keras para siswa membawa gawai (handphone) ke sekolah.
​Kendati begitu, untuk kegiatan belajar tertentu, sekolah tetap mengizinkan penggunaan gawai di bawah pengawasan ketat guru. Guna mengoptimalkan perlindungan anak dari dampak negatif internet, pihak sekolah juga mengedukasi orang tua untuk mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah (two-step verification) pada perangkat anak.
​Selain itu, wali murid didorong memanfaatkan aplikasi pemantau (parental control) agar bisa memantau aktivitas digital anak-anak mereka di rumah.
​Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfosantik) Sulawesi Tengah, Wahyu Agus Pratama, menilai Desa Toro sebagai salah satu contoh praktik baik (best practice) penerapan desa digital di wilayahnya.
​Ia menjelaskan, keberadaan Sekolah Internet Komunitas di Desa Toro sejalan dengan program “Berani Berdering”—sebuah kebijakan pemerataan akses internet hingga ke pelosok daerah yang digagas pemerintah provinsi.
​Pada 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10,3 miliar untuk program Berani Berdering. Tahun ini, pemprov menargetkan 150 desa dapat terjangkau program tersebut. Khusus Kabupaten Sigi dan Kabupaten Tojo Una-Una, masing-masing dialokasikan untuk 15 desa, sedangkan kabupaten lain masing-masing mendapat kuota 12 desa.
​Porsi lebih besar untuk Sigi dan Tojo Una-Una diberikan karena kedua daerah tersebut baru saja terlepas dari status kabupaten tertinggal.
​Wahyu berharap program Sekolah Internet Komunitas di Desa Toro terus konsisten memajukan potensi desa, sekaligus berjalan selaras dengan program Berani Berdering.(Antara/gopos)
Sumber: Antara








