GOPOS.ID, GORONTALO – Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil mengembangkan media pembelajaran inovatif berbasis web yang memadukan teknologi, matematika, dan kearifan lokal. Dengan memanfaatkan bentuk kuliner khas Gorontalo, sabongi dan ilabulo, mereka menciptakan alat bantu digital untuk membantu siswa slow learners (lamban belajar) di tingkat SMP dalam memahami konsep geometri.
Inovasi bertajuk “Rasa Lokal dalam Sentuhan Digital” ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Tim mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Matematika ini berangkat dari keprihatinan terhadap siswa slow learners yang sering kesulitan memahami konsep geometri yang bersifat abstrak.
Mereka kemudian mengadopsi pendekatan etnomatematika, yang menghubungkan materi pelajaran dengan budaya dan kehidupan sehari-hari. Dipilihlah sabongi dan ilabulo, dua kuliner yang sangat dikenal masyarakat Gorontalo, sebagai objek studi.
Media pembelajaran berbasis web ini dirancang khusus dengan fitur interaktif, latihan soal bertahap yang sesuai untuk slow learners, serta tampilan yang ramah pengguna. Tim ini beranggotakan Pratiwi D. Maku (ketua), Anas Pomanto, Muhamad Fajar Ramadan, Nabilawati N. Kasim, dan Dinda Ireanti, dengan bimbingan dari dosen Jurusan Matematika UNG, Bertu Rianto Takaendengan, S.Pd., M.Pd.

Program ini pun telah diimplementasikan secara langsung di SMP Negeri 1 Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, pada 31 Oktober 2025 lalu. Kegiatan meliputi sosialisasi media kepada guru dan siswa, serta pendampingan penggunaan di dalam kelas untuk mengamati respon siswa.
Sebelum implementasi, tim juga melakukan kunjungan lapangan ke tempat produksi sabongi dan ilabulo di Gorontalo pada 30 Oktober 2025. Kunjungan ini bertujuan mendokumentasikan bentuk, pola, dan nilai budaya dari kedua kuliner tersebut, yang datanya kemudian menjadi dasar visual dan konsep pada media web yang dikembangkan.
Dosen pembimbing, Bertu Rianto Takaendengan, menyampaikan bahwa melalui PKM-RSH ini menjadi wadah bagi mereka dalam menerapkan etnomatematika sabongi–ilabulo berbasis web untuk mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran geometri. Pendekatan ini membantu siswa slow learners memahami konsep matematika melalui konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ke depan, diharapkan inovasi serupa dapat terus dikembangkan dengan mengangkat budaya-budaya lokal Gorontalo, sehingga warisan budaya tetap melekat pada generasi muda melalui pembelajaran matematika yang mendalam dan bermakna.
Program yang berlangsung sejak 13 Oktober hingga 2 November 2025 ini diharapkan memberi dampak nyata. Bagi siswa, proses belajar geometri menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Sementara bagi guru, mereka mendapatkan media ICT baru yang ramah slow learners.
Lebih dari itu, inovasi ini turut mempromosikan kuliner tradisional Gorontalo dalam konteks edukatif.








