GOPOS.ID, GORONTALO – Mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG) 25 Februari lalu mengunjungi Kota Surabaya, Jawa Timur untuk melihat bagaimana ragam peristiwa dan permasalahan hukum yang dialami dalam pelaksanaan lokalisasi kawasan dolly dan pemberdayaannya.
Kegiatan dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan untuk mahasiwa angkatan V/2017 dan angkatan VI/2018 melihat lebih jauh perempuan-perempuan gang Dolly bisa hidup tanpa adanya kejahatan manusia.
Ketua KKL pascasarjana ilmu hukum UNG, Makrun mengungkapkan dari kunjungan tersebut mereka melihat Human trafficking dan sejumlah kejahatan kemanusiaan lain di lokalisasi gang Doly berhasil dihapus.
“Tetapi, warga setempat masih merasakan dampak ekonomi. Karena penutupan gang Doly itu sendiri. Banyak diantara mereka sudah berprofesi seperti itu. Mereka merasa terancam kesejahteraan perekonomian dan sosialnya,” ucapnya.
Namun Pemkot Surabaya rupanya tidak lepas tangan begitu saja. Terbukti di bawah pimpinan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana Kota Surabaya, Nanis Chairani menuturkan bahwa mereka pernah mengalami kendala dan kesulitan untuk menggandeng warga terdampak saat awal membuat pelatihan.
Tetapi sekarang mereka mulai mau bersentuhan langsung dengan pemkot tanpa paksaan. Mereka dengan kesadaran sendiri datang mengikuti pelatihan.

Hampir tiap pekan ada pelatihan dengan peserta 10–30 yang mayoritas kaum perempuan. Setelah pelatihan, mentor sudah berjanji tetap mendampingi. Bahkan peserta pelatihan diberi nomor telepon pendamping itu jika butuh bantuan diakui. Persoalan warga terdampak penutupan lokalisasi Dolly jarak itu masih perlu penanganan lebih lanjut.
Baca juga:Â Rusli Habibie Akan Berikan Sanksi Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan
Masih banyak kaum perempuan warga Dolly yang perlu diberdayakan, tetapi paling tidak pemerintah berharap warga bisa lebih bersemangat untuk terus move on dari dunia malam. Tentu, bisnis baru itu harus dimulai dari yang terjangkau dulu. Sehingga secara simultan kaum perempuan bagi warga Dolly yang terdampak bisa ikut berperan dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Khususnya dan ekonomi pemerintah kota Surabaya umumnya.
Ditempat terpisah, ketua Program studi Ilmu Hukum Pascasarjana UNG, Dr Lusiana Margareth Tijow menuturkan bahwa kegiatan KKL adalah salah satu mata kuliah dari program ilmu hukum pascasarjana UNG. Dimana mahasiswa selain diagendakan dengan kegiatan seminar internasional. Juga turut serta melihat isu-isu nasional yang bisa diterapkan di Provinsi Gorontalo sebagai bakal ilmu mereka. (andi/gopos)