GOPOS.ID, GORONTALO – Pada perayaan Hari Disabilitas Bahasa Isyarat Internasional, Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, mengunjungi SMA Negeri 4 Gorontalo untuk memberikan dukungannya terhadap penyandang disabilitas. Dalam sambutannya, beliau menegaskan betapa pentingnya pengakuan terhadap bahasa isyarat dan peran vital yang dimainkan oleh para pemerhati bahasa isyarat, khususnya Ibu Ellen, yang telah berjuang untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang bahasa isyarat di Provinsi Gorontalo.
Idah Syahidah menyampaikan bahwa sebelumnya, bahasa isyarat sering kali diabaikan dalam masyarakat, tetapi kini telah mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah dan sektor swasta. SMA Negeri 4 Gorontalo menjadi contoh nyata dari sekolah inklusif yang memberikan kesempatan bagi anak-anak disabilitas untuk belajar dan berinteraksi dengan teman-teman mereka. Hal ini tentunya memerlukan guru-guru yang sabar dan memiliki keterampilan khusus untuk memahami kebutuhan anak-anak dengan disabilitas.
Lebih lanjut, beliau mengapresiasi kontribusi pihak swasta, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang implan telinga, yang berperan penting dalam membantu anak-anak dengan gangguan pendengaran. Banyak anak di Gorontalo lahir dengan gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi sejak dini, sehingga pelatihan dan dukungan bagi orang tua sangatlah penting untuk memastikan perkembangan anak-anak tersebut.
Idah Syahidah juga menekankan bahwa dengan adanya bahasa isyarat internasional, anak-anak disabilitas memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan mereka. Meskipun kegiatan ini diselenggarakan dalam skala sederhana setiap tahunnya, semangat dan antusiasme yang ditunjukkan oleh semua pihak sangatlah mengesankan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ellen, Pak Saiful, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam memperhatikan perkembangan bahasa isyarat di Gorontalo.
Kegiatan ini tidak hanya melibatkan pemerintah dan sekolah, tetapi juga didukung oleh donatur dan relawan yang bekerja keras untuk merayakannya. Idah Syahidah berharap agar semua anak disabilitas tidak kehilangan semangat dalam melanjutkan pendidikan dan mencari pekerjaan. Beliau mendorong mereka untuk terus berkarya sesuai dengan hobi dan minat yang dimiliki.
Salah satu inisiatif menarik yang diusulkan oleh Idah Syahidah adalah keberadaan “Kopi Tuli” dan “Cafe Tuli”. Gagasan ini muncul saat kunjungan beliau ke Jakarta dan bertujuan untuk menciptakan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berinteraksi dan berkontribusi dalam masyarakat. Dengan adanya tempat seperti ini, diharapkan anak-anak disabilitas dapat merasa diterima dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri. (Putra/Gopos)








