No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

TIADA BAHASA, BANGSA PUN HILANG

Admin by Admin
Selasa 6 Desember 2022
in Perspektif
0
Magdalena Baga

Magdalena Baga

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

(oleh: Magdalena Baga)

Itu adalah lirik dari puisi “Bahasa, Bangsa” karya Muhammad Yamin, yang dibuat pada sekitar tahun 1921. Lebih dari dua puluh tahun sebelum kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, dan tujuh tahun sebelum Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Jauh sebelum kemerdekaan, bahkan sebelum peristiwa Sumpah Pemuda dikumandangkan, arti bangsa sudah berusaha dimaknai melalui bahasa di dalam puisi Muhammad Yamin. Kita dapat meresapi maknanya melalui larik yang disusun oleh Muhammad Yamin pada puisinya itu.

….

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri.

….

Perasaan serikat menjadi berpadu,

Dalam bahasanya, permai merdu.

….

Lupa ke bahasa, tiadakan pernah,

….

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

 

Tidak seperti pada bangsa lain yang mengalami penjajahan berabad-abad, kemudian merdeka, mereka tidak dapat melepaskan diri dari bahasa tuan penjajahnya. Sebaliknya, masyarakat Indonesia berusaha melepaskan diri dari penjajahan melalui bahasa.

Biar bagaimana pun, bahasa bukan hanya sekedar bunyi, dan kalimat yang diucapkan, akan tetapi di sana menggelayut makna. Bahasa diproduksi karena ada makna yang ingin disampaikan, dan makna itu tidak terlepas dari cara pikir serta budaya yang membangunnya.

Bahasa yang sarat dengan nilai-nilai kolonial akan meletakkan posisi yang berbeda antara pembicara. Hirarki antara yang berbicara dan yang diajak bicara akan terasa dan terlihat.

Namun, Yamin menyatakan dalam puisinya, “Perasaan serikat menjadi berpadu, Dalam bahasanya, permai merdu”. Ini adalah cita-cita bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa yang menunjukkan kesetaraan yang terbentuk karena perasaan yang menyatu. Tidak mungkin perasaan menyatu bila tidak ada kesetaraan.

Baca Juga :  Peran Organisasi Mahasiswa Dalam Bangku Studi, Kota Studi Sorong Papua Barat

Bahasa Indonesia berakar pada bahasa melayu yang dijadikan lingua franca di nusantara. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa komunikasi yang meletakkan antarpembicara berada pada posisi sejajar. Ini menunjukkan bahwa bahasa ini netral, tidak bermuatan nilai-nilai politis yang mempenetrasi kelompok yang akan dikontrol sehingga berakibat pada ketidaksejajaran dalam sosial.

Kenetralan bahasa Indonesia sudah terjadi sejak masih berakar pada bahasa melayu yang hanya semata-mata sebagai bahasa penghubung antardaerah karena terdapat hubungan perdagangan antar mereka. Kemudian, bahasa ini berkembang menjadi bahasa nasional, dan justru kemudian menjadi bahasa pemersatu bangsa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung dan pemersatu, tentu membawa ekspresi makna yang mempersatukan bangsa.

Hal berbeda terjadi pada bangsa-bangsa di sebagian besar negara Eropa, penutur bahasa minoritas tertekan oleh kelompok mayoritas yang bahasanya dijadikan bahasa nasional, atau bahasa resmi. Sementara di Indonesia, bahasa melayu sudah dikenal sebagai bahasa pergaulan sejak sebelum kemerdekaan, sehingga bahasa itu diterima bukan karena dominasi kelompok mayoritas. Akhirnya kemudian, bahasa melayu dalam perkembangannya menjadi bahasa Indonesia, semata-mata karena tidak adanya unsur muatan politis di dalamnya.

Sastrawan almarhum Ajip Rosidi pernah menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu yang egaliter, sebab ia digunakan hanya untuk bahasa pergaulan dan perdagangan.

Seiring berjalannya waktu, bahasa Indonesia mulai disusupi bahasa-bahasa yang menunjukkan tingkatan kelas pembicaranya. Hal ini terjadi mulai zaman orde lama, lalu kemudian dilanjutkan secara intensif pada masa orde baru. Bahkan, banyak pendapat menyatakan bahwa bahasa Indonesia yang netral sudah mulai dimasuki oleh budaya Jawa ketika zaman orde baru. Banyak kosa kata Jawa yang masuk ke dalam bahasa Indonesia, seperti pengejawantahan, aji mumpung, dan lainnya.

Baca Juga :  Penundaan Pemilu dan Kegagalan Pelembagaan Sistem Presidensialisme Demokratis

Hal ini bukan suatu masalah sebenarnya, sebab seperti amanat undang-undang bahasa daerah dipelihara dalam rangka memperkaya bahasa Indonesia, asalkan hal ini berlaku adil. Semua bahasa daerah memiliki kesempatan yang sama memperkaya bahasa Indonesia, sebab tiap bahasa daerah memiliki keunikan dalam mengekspresikan budaya, bahkan alamnya melalui bahasa.

Namun kemudian, bahasa Indonesia menjadi bermuatan dominan budaya tertentu dari suatu daerah di Indonesia, sekaligus seolah-olah meminggirkan bahasa daerah lain dan menciptakan tingkatan pada pembicaranya, tentu saja melanggar cita-cita awal bahasa Indonesia diperjuangkan, bahwa bahasa ini mengekspresikan kesetaraan dan bertujuan menyatukan bangsa.

Dengan demikian, mempertahankan makna egaliter dalam bahasa Indonesia amat sangat penting, sebab itu cita-cita kemerdekaan. Bahasa apa pun dapat masuk ke dalam bahasa Indonesia dalam rangka memperkaya bahasa Indonesia, akan tetapi makna kesetaraan harus tetap dan selalu hadir dalam bahasa Indonesia. Makna yang bermuatan politis harus disingkirkan, bila tidak kita akan menjauh dari cita-cita awal mengapa bahasa ini dibentuk dan dikukuhkan sebagai bahasa bangsa.

 Lupa ke bahasa, tiadakan pernah, seperti kata Yamin. Namun demikian, bahasa akan hilang, bila makna hilang. Tentu saja, yang dimaksud pada kalimat terakhir adalah bahasa Indonesia secara bertutur tidak akan hilang, yang akan hilang adalah makna apabila tidak lagi terikat pada cita-cita awal.

Mengapa? Sebab makna pemersatu bangsa bertindih di dalam bahasa Indonesia. Bila makna cita-cita bangsa yang tertuang di dalam undang-undang dasar tersapu oleh angin zaman, maka akan terjadi Tiada bahasa, bangsa pun hilang. (*)

Tags: Perspektif
Previous Post

Kodim 1304 Gorontalo Gelar Vaksinasi Booster di Empat Titik

Next Post

Realisasi Dana PEN Pohuwato 2022 Mencapai 98 Persen

Related Posts

Perspektif

Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

Rabu 20 Mei 2026
Husin Ali - Antropolog
Perspektif

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Jumat 15 Mei 2026
Perspektif

Biografi Azis Rachman: Meniti Jalan Pengabdian dan Kepemimpinan

Sabtu 2 Mei 2026
Perspektif

Menuju Pengajaran Bahasa Inggris Inklusif: Lepas dari Belenggu “Native-Like”

Jumat 24 April 2026
Perspektif

TRAGEDI KEADILAN DAN PARADOKS NEGARA HUKUM: KETIKA PEMBELAAN DIRI DIPIDANAKAN

Rabu 22 April 2026
Perspektif

RTH Penting, Tetapi Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Basah Korupsi

Sabtu 4 April 2026
Next Post
Wakil Bupati Pohuwato, Suharsi Igirisa, Didampingi Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan, Fikri Adam, Kadis Kominfo-St, Kadir Amran, dan Plt Kadis PUPR Risdiyanto Mokodompit, Menjadi Narasumber Program Acara Pro Aspirasi terkait tindak lanjut dari dana PEN, di Room Meeting Kantor Bupati Pohuwato, Selasa 06/12/2022 (Istimewa)

Realisasi Dana PEN Pohuwato 2022 Mencapai 98 Persen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Polda Gorontalo Amankan 259 Karung dan 2 Pelaku Pertambangan Batu Hitam di Suwawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Driver Kontainer Blokade Simpang Lima Gorontalo Tuntut Penertiban Mafia Solar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahasiswa PGSD UNG Gelar Pameran Seni Rupa “Ru’upia Hilawo”, Wujud Ekspresi dan Pembelajaran Kreatif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penjualan Bendera Mancanegara di Gorontalo Ramai Jelang Piala Dunia 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Bulog Gorontalo Beberkan Kualitas Beras dan Kendala Lapangan saat Kunjungan Anggota DPD RI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.