GOPOS.ID, GORONTALO – Hanya sekitar dua kilometer dari Pulau Dudepo, berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Anggrek di Desa Ilangata, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara. Pembangkit berkapasitas 2 x 25 megawatt (MW) itu telah beroperasi sejak 2019. Namun, kedekatan dengan pembangkit listrik tidak serta-merta membuat masyarakat Dudepo menikmati pasokan listrik PLN selama 24 jam.
Selama bertahun-tahun, warga Desa Dudepo menanti aliran listrik yang dapat memenuhi kebutuhan mereka sepanjang hari. Keterbatasan infrastruktur distribusi dan kondisi geografis menjadi tantangan dalam menghadirkan layanan kelistrikan sebagaimana yang dinikmati masyarakat di daratan. Laut yang memisahkan Dudepo dengan daratan menjadi batas sekaligus tantangan yang harus diatasi.
Upaya menghadirkan listrik ke pulau Dudepo telah dirintis PLN sejak 2018 melalui Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (UID Suluttengggo) dan Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Gorontalo. Pada tahap awal, PLN membangun tiga gardu dan merencanakan penyaluran listrik menggunakan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM).
“Rencananya saat itu pasokan listrik ke Pulau Dudepo akan dibawa menggunakan jaringan SUTM,” ungkap Manajer PLN UP2KL Gorontalo, Nofrianus Majampoh saat ditemui GOPOS.ID, Jumat (6/11/2026).
Namun, setelah setahun berjalan, rencana tersebut tidak dapat direalisasikan. Perairan yang memisahkan Pulau Dudepo dengan Desa Ilangata Barat merupakan jalur pelayaran sekaligus kawasan strategis nasional. Kondisi itu membuat pembangunan bentangan jaringan SUTM di atas laut tidak memungkinkan.
PLN kemudian melakukan kajian lanjutan dengan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah. Kajian tersebut turut menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Hasilnya, diputuskan pasokan listrik menuju Pulau Dudepo disalurkan melalui Saluran Kabel Laut Tegangan Menengah (SKLTM) 20 kilovolt (kV). Kabel sepanjang 1,95 kilometer sirkuit (kms) itu melintasi Selat Anggrek, menghubungkan Gardu Hubung Desa Ilangata dengan Gardu Hubung Pulau Dudepo.
“Persiapan pembangunan SKLTM 20 kV Dudepo dimulai Januari 2026. Setelah diperoleh izin pelaksanaan kegiatan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perhubungan, penggelaran kabel dalam laut dilaksanakan pada awal Juli 2026,” tutur Nofrianus.

Proyek senilai Rp95 miliar tersebut dikerjakan konsorsium PT Persada Energy and Contracting, PT Bangun Prima Semesta, dan Lumintuna Marine Service, dengan pengawasan PLN Pusat Manajemen Proyek (Pusmanpro). PLN menyebut pembangunan ini sebagai infrastruktur SKLTM 20 kV pertama di Pulau Sulawesi.
Pemasangan kabel bawah laut menghadapi tantangan teknis yang tidak sederhana. Kondisi pasang surut, arah angin, serta arus laut di Selat Anggrek menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam setiap tahapan pekerjaan.
Untuk menjaga keamanan jaringan, PLN menggunakan kabel yang dirancang khusus bagi instalasi bawah laut. Kabel ditanam sekitar dua meter di bawah dasar laut guna mengurangi risiko kerusakan akibat aktivitas perikanan, seperti jangkar perahu, maupun benturan dengan material di dasar laut.
Pemasangannya melibatkan penyelam profesional bersertifikat untuk memastikan posisi kabel sesuai jalur yang direncanakan.
“Faktor keandalan dan keamanan benar-benar diperhatikan. Secara konstruksi jaringan SKLTM 20 kV didesain untuk jangka waktu yang lama,” kata Nofrianus.
Jaringan bawah laut SKLTM 20 kV Dudepo dilengkapi tujuh gardu distribusi dengan total kapasitas 400 kilovolt ampere (kVA). Pasokan listrik kemudian disalurkan melalui Jaringan Tegangan Menengah (JTM) udara sepanjang 39,68 kms dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 9,958 kms. Infrastruktur itu dirancang untuk mendukung pasokan listrik 24 jam bagi sekitar 395 kepala keluarga (KK) atau 1.285 jiwa yang tersebar di enam dusun.
Setelah melalui rangkaian pekerjaan, pembangunan jaringan kelistrikan tersebut rampung pada akhir Juli 2026. “Kami bersyukur dan berterima kasih dukungan berbagai pihak senantiasa menyertai. Anggota DPR RI, Pak Rusli Habibie, Pak Gubernur dan Ibu Gubernur Gorontalo, maupun Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara dan stakeholders terus mendukung kami,” ujar Nofrianus.
Listrik Stimulus Ekonomi dan Kualitas Hidup
Pada 3 Agustus 2026, listrik PLN resmi menyala di Desa Dudepo. Penyalaan perdana tersebut dihadiri Anggota Komisi XII DPR RI Rusli Habibie, Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, General Manager PLN UID Suluttenggo Usman Bangun, Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu, Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Thomas Mopili, jajaran PLN, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan masyarakat setempat.
Bagi warga Dudepo, kehadiran listrik bukan sekadar penerangan. Pasokan energi selama 24 jam mulai membuka peluang untuk memperpanjang aktivitas ekonomi, mendukung pendidikan, dan meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
Kepala Desa Dudepo, Rustam Biiya, mengatakan perubahan mulai terasa ketika malam tiba. Aktivitas masyarakat yang sebelumnya terbatas kini dapat berlangsung lebih leluasa.
“Sekarang ini ketika malam hari tidak lagi gelap. Aktivitas masyarakat yang sebelumnya terbatas pada malam hari karena hanya mengandalkan penerangan seadanya, sekarang ini alhamdulillah sudah sangat terbantu dengan adanya listrik dari PLN,” kata Rustam saat dihubungi GOPOS.ID, Kamis (5/11/2026).
Menurut Rustam, jumlah warga yang telah menikmati sambungan listrik terus bertambah sejak penyalaan pada 3 Agustus 2026. Rustam menyebut terdapat 254 rumah dalam pendataan kebutuhan pemasangan. Dari jumlah tersebut, 170 rumah telah memiliki instalasi dan sambungan listrik, 12 rumah melakukan pemasangan secara mandiri, sedangkan 72 rumah masih menunggu penyambungan baru melalui usulan bantuan pemerintah.
“Masih ada sebanyak 72 KK yang masih menunggu untuk penyambungan baru, dan itu sudah saya usulkan lagi ke Pak Rusli Habibie melalui Pak Lukum Diko (Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo),” ujarnya.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum seperti masjid, kantor pemerintahan desa, dan sekolah juga telah menikmati pasokan listrik. Kehadiran energi tersebut turut mendukung aktivitas sosial dan pelayanan masyarakat pada malam hari.
Dampak listrik juga dirasakan masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari sektor perikanan. Sebelum jaringan PLN masuk, keterbatasan es batu menjadi salah satu persoalan nelayan dalam menjaga kualitas hasil tangkapan. Ikan harus segera dijual karena sulit disimpan dalam kondisi segar untuk waktu yang lebih lama.
“Masyarakat Desa Dudepo sekarang sudah ada yang beli kulkas untuk buat es batu yang nantinya dibawa nelayan melaut. Nelayan yang melaut juga sudah tak khawatir, karena hasil tangkapan mereka bisa bertahan dan mereka bisa melaut lebih lama,” kata Rustam.
Perubahan juga terlihat pada kegiatan perdagangan. Sebelum listrik PLN tersedia, sebagian kios dan warung hanya beroperasi hingga pukul 17.00–18.00 Wita. Kini, aktivitas perdagangan berlangsung sampai pukul 21.00 Wita.
“Perputaran ekonomi terasa lebih meningkat dibandingkan sebelum ada listrik dari PLN,” ujarnya.
“Begitu pula para siswa, mereka sekarang bisa belajar malam hari. Jadi ada peningkatan dalam berbagai hal setelah adanya jaringan listrik PLN ini,” tambah Rustam.
Pengalaman serupa disampaikan Safrudin, warga Dudepo yang berprofesi sebagai nelayan. Sebelum jaringan PLN masuk, warga mengandalkan generator dan PLTS yang dipasang di sejumlah rumah. Namun, kapasitasnya terbatas dan sebagian perangkat telah rusak.
Sebagai nelayan, ia merasakan langsung kesulitan mempertahankan kualitas ikan ketika es batu sulit diperoleh. Dalam kondisi tersebut, nelayan kerap harus segera menjual hasil tangkapan, bahkan dengan harga lebih rendah.
“Biar murah kami harus segera menjual, karena tidak ada es batu sehingga tidak bisa tahan lama. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah gampang dapat es batu,” ujarnya.

Elektrifikasi Belum Berhenti di Dudepo
Penyalaan listrik di Desa Dudepo menjadi penanda penting bagi perluasan akses energi di Provinsi Gorontalo. Dengan masuknya Dudepo dalam cakupan layanan kelistrikan, Rasio Desa Berlistrik (RDB) Gorontalo secara resmi mencapai 100 persen.
“Melalui peresmian listrik di Pulau Dudepo, PLN dengan bangga menyatakan bahwa seluruh desa di Provinsi Gorontalo telah 100 persen teraliri listrik. Proyek ini tidak hanya membawa penerangan fisik, melainkan representasi dari tekad kami untuk mewujudkan keadilan sosial serta pemerataan energi bagi seluruh warga,” tutur General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, pada peresmian penyalaan listrik di Desa Dudepo, Senin (3/8/2026).
Rasio Desa Berlistrik yang mencapai 100 persen mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo bersama PLN mempercepat pemerataan akses listrik hingga ke wilayah terpencil.
Manajer PLN UP2KL Gorontalo, Nofrianus Majampoh, menjelaskan PLN masih melanjutkan perluasan jaringan melalui Program Listrik Desa (Lisdes). Pada 2026, program tersebut dilaksanakan di 17 lokasi di Gorontalo, empat di antaranya telah selesai, yakni Dusun Iloheluma di Kabupaten Gorontalo Utara serta Dusun Liyodu, Ilohungayo, dan Tonala di Kabupaten Gorontalo.
“Selain Lisdes, perluasan akses listrik juga dijalankan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, serta Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang bersumber dari Kementerian ESDM,” kata Nofrianus.
Pemprov Gorontalo Dorong Dudepo Jadi Pulau Produktif
Pembangunan jaringan kabel listrik bawah laut menuju Pulau Dudepo tidak berhenti pada perluasan akses kelistrikan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo menyiapkan sejumlah program lanjutan agar kehadiran listrik dapat mendorong aktivitas ekonomi dan meningkatkan pelayanan publik di wilayah kepulauan tersebut.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Gorontalo, Wardoyo M. Pongoliu, mengatakan Pemprov Gorontalo mengambil peran dalam mendukung pembangunan jaringan listrik dari daratan Kecamatan Anggrek menuju Pulau Dudepo,. Dukungan itu mencakup kebijakan, penganggaran, fasilitasi perizinan, penyediaan lahan, serta koordinasi dengan PLN dan pemerintah pusat.
“Pemprov Gorontalo memfasilitasi kebutuhan lokasi gardu, rumah panel, dan fasilitas kelistrikan di daratan maupun pulau. Pemprov juga membantu proses perizinan pemanfaatan ruang laut, pesisir, dan lingkungan sesuai kewenangan, termasuk koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara dan PLN,” ujar Wardoyo secara tertulis kepada GOPOS.ID, Jumat (6/11/2026).
Dukungan lainnya berupa penyediaan akses jalan menuju titik pendaratan kabel dan lokasi gardu, sosialisasi kepada masyarakat, penyelesaian persoalan lahan, serta pengamanan jalur kabel bersama warga.
Menurut Wardoyo, penyalaan listrik perdana menjadi tahap awal pemerataan energi di Dudepo. Selanjutnya, pemerintah mendorong agar seluruh rumah tangga dapat mengakses sambungan listrik PLN, termasuk melalui pendataan warga yang belum memiliki sambungan dan pengusulan bantuan pasang baru listrik (BPBL) bagi keluarga miskin dan tidak mampu.
Pemprov juga berupaya mengintegrasikan pemanfaatan listrik dengan pengembangan ekonomi lokal. Di sektor perikanan, dukungan yang direncanakan meliputi fasilitas penyimpanan ikan berpendingin (cold storage), mesin pembuat es bagi nelayan, serta pengolahan hasil perikanan. Pemanfaatan listrik untuk mendukung peralatan produksi UMKM juga menjadi bagian dari agenda tersebut.
“Ketersediaan listrik perlu diintegrasikan dengan pengembangan potensi ekonomi lokal. Dengan begitu, energi tidak hanya digunakan untuk penerangan rumah, tetapi juga dapat menunjang peningkatan nilai tambah hasil perikanan dan kegiatan usaha masyarakat,” jelasnya.
Selain ekonomi, pemenuhan listrik untuk fasilitas kesehatan, sekolah, penerangan jalan, dan fasilitas umum turut menjadi perhatian. Ketersediaan energi juga diharapkan mendukung jaringan telekomunikasi dan akses internet di pulau tersebut.
Wardoyo menambahkan, keandalan jaringan kabel bawah laut perlu dijaga melalui pemeliharaan berkala, pengawasan jalur kabel dari risiko aktivitas kapal dan jangkar, serta kesiapan penanganan jika terjadi gangguan pasokan.
“Salah satu sasaran jangka panjangnya adalah menjadikan Pulau Dudepo sebagai percontohan pengembangan ekonomi kepulauan berbasis energi listrik,” imbuh Wardoyo.(hasan/gopos)







