GOPOIS.ID, GORONTALO – Kenaikan harga pakan ayam yang terjadi dalam dua bulan terakhir semakin menambah beban biaya produksi peternak di Gorontalo. Dalam periode tersebut, harga pakan disebut telah mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, sementara harga jual ayam dan telur relatif sulit disesuaikan dengan meningkatnya biaya produksi.
Kondisi itu menempatkan peternak pada situasi yang serba sulit. Di satu sisi, kenaikan harga jual berpotensi menekan daya beli masyarakat, sedangkan di sisi lain mempertahankan harga pada tingkat saat ini membuat keuntungan peternak semakin menipis.
Persoalan tersebut turut memunculkan sorotan terhadap Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) yang merupakan wadah perjuangan para peternak. Organisasi tersebut dinilai perlu mengambil langkah lebih tegas dalam menghadapi tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Ketua PINSAR Wilayah Gorontalo sekaligus anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Hi. Suyuti, membantah anggapan bahwa organisasinya lamban dalam merespons persoalan kenaikan harga pakan.
Menurut Suyuti, kenaikan harga pakan bukan persoalan yang hanya dirasakan peternak di Gorontalo. Kondisi serupa juga terjadi pada pelaku usaha perunggasan di berbagai daerah di Indonesia.
“Dalam dua bulan harga pakan sudah tiga kali mengalami kenaikan. Ini bukan hanya terjadi di Gorontalo, tetapi menjadi kondisi di hampir seluruh daerah di Indonesia,” kata Suyuti.
Ia menjelaskan PINSAR telah berulang kali menyampaikan kondisi yang dihadapi peternak kepada pemerintah. Koordinasi dilakukan dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Peternakan sebagai bagian dari upaya mencari solusi terhadap tekanan biaya produksi tersebut.
Selain berkoordinasi di tingkat daerah, PINSAR juga telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah pusat melalui surat yang ditujukan kepada Kementerian Pertanian. Hal itu dilakukan untuk meminta perhatian terhadap persoalan harga sekaligus ketersediaan bahan baku pakan.
“Sudah kami lakukan. Bukan sekali dua kali. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, Dinas Peternakan, bahkan menyurati kementerian,” ujarnya.
Meski berbagai langkah komunikasi telah dilakukan, kondisi yang dihadapi peternak hingga kini belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Harga pakan masih berada pada tingkat tinggi, sementara sejumlah bahan baku pakan juga masih sulit diperoleh.
Suyuti mengakui kondisi tersebut menjadi hal yang mengecewakan bagi peternak. Namun, ia memastikan PINSAR tetap berupaya memperjuangkan kepentingan para pelaku usaha perunggasan di tengah tekanan biaya produksi.
“Sudah cukup kami berjuang, tapi kondisi masih seperti ini. Meski upaya PINSAR sudah cukup, kami tidak putus semangat,” tegasnya.
Ia berharap persoalan kenaikan harga pakan dan ketersediaan bahan baku dapat segera mendapat perhatian lebih serius sehingga keberlangsungan usaha peternak tetap terjaga dan tidak semakin tertekan oleh tingginya biaya produksi. (isno/gopos)








