GOPOS.ID, GORONTALO – Kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, ke Provinsi Gorontalo dalam rangka menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Limboto, Kabupaten Gorontalo, turut diwarnai agenda silaturahmi bersama civitas akademika IAIN Sultan Amai Gorontalo, Sabtu (20/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian memberikan tausiyah sekaligus kuliah umum bertajuk “Urgensi Hilirisasi dan Inovasi Terapan Berbasis Ekologi”. Materi yang disampaikan menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam memperkuat program swasembada pangan nasional melalui inovasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada ekologi.
Di hadapan dosen, mahasiswa, dan jajaran akademik IAIN Sultan Amai Gorontalo, Amran Sulaiman menekankan bahwa hilirisasi sektor pertanian menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Usai menyampaikan pemaparannya, Menteri Pertanian menerima cendera mata khusus dari Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Prof. Dr. Ahmad Faisal, M.Ag. Cendera mata tersebut berupa karya tulis dan hasil penelitian dosen yang mengangkat tema pangan lokal dan budaya masyarakat Gorontalo.
Salah satu buku yang diserahkan berjudul “Sepiring Cerita Bersama Jagung–Binthe Molamahu” karya Momi Hunowu, Sunandar Macpal, dan Hatim Badu Pakuna. Buku tersebut dinilai memiliki relevansi kuat dengan program pemerintah di bidang pertanian karena mengangkat jagung sebagai komoditas pangan sekaligus bagian dari identitas budaya masyarakat Gorontalo.
Karya yang diterbitkan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2024 yang dikelola LPDP bersama Kemendikbudristek itu diterbitkan oleh Deepublish Yogyakarta pada tahun 2025. Dalam 348 halaman, buku tersebut mendokumentasikan secara etnografis kehidupan masyarakat Molamahu yang menjadikan jagung atau binthe sebagai sumber pangan utama, sekaligus sebagai bagian dari sistem pengetahuan lokal, pengalaman sosial, dan warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Kajian dalam buku tersebut menempatkan jagung bukan hanya sebagai komoditas pangan, melainkan juga sebagai simbol hubungan erat antara masyarakat, lingkungan, dan tradisi yang membentuk identitas sosial masyarakat Gorontalo.
Gagasan yang diangkat dalam buku itu juga menjadi kelanjutan dari karya dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo sebelumnya yang berjudul “Ritual Mopo’a Huta di Gorontalo: Kajian Fungsional” yang diterbitkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2024. Buku tersebut merupakan salah satu karya terpilih dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN yang mengulas praktik ritual masyarakat petani sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah dan lingkungan sebagai sumber kehidupan.
Melalui kedua karya tersebut, IAIN Sultan Amai Gorontalo menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan kajian yang menghubungkan aspek pangan, budaya, dan lingkungan. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi keagamaan memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan sektor pertanian melalui perspektif sosial, budaya, dan ekologis.
Sementara itu, Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Prof. Ahmad Faisal, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan Menteri Pertanian ke kampus tersebut. Menurutnya, kehadiran Menteri Pertanian tidak hanya memberikan motivasi bagi pengembangan institusi, tetapi juga membuka wawasan civitas akademika mengenai pentingnya hilirisasi pertanian dan ketahanan pangan nasional.
“IAIN Sultan Amai Gorontalo akan terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung program pemerintah, khususnya di bidang hilirisasi pertanian dan ketahanan pangan, melalui pendekatan sosial, budaya, dan keagamaan,” ujar Ahmad Faisal. (Isno/am/gopos)







