GOPOS.ID, GORONTALO – Tidak mudah menjadi wakil kampus dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara. Setiap peserta harus melewati seleksi yang ketat dan bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik yang memiliki prestasi akademik, pengalaman organisasi serta kemampuan kepemimpinan yang mumpuni.
Karena itu, ketika LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo menetapkan dua nama sebagai peserta KKN Nusantara Tahun 2026 di Provinsi Banten, keputusan tersebut bukanlah hasil yang diketik begitu saja. Di baliknya ada proses seleksi yang panjang dan kompetitif.
Dua nama yang berhasil menempati posisi teratas adalah Zulfachry Febriansyah Mohiddin dari Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah serta Deysi Alfinasari Kunsi dari Jurusan Hukum Tata Negara (HTN) Fakultas Syariah.
Keduanya ditetapkan setelah meraih nilai tertinggi dalam seleksi yang digelar LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo pada 29 April 2026 lalu. Mereka berhasil mengungguli sejumlah mahasiswa berprestasi lainnya yang juga memiliki rekam jejak akademik dan organisasi yang tidak kalah membanggakan.
Bagi LP2M, memilih peserta KKN Nusantara tidak hanya soal mencari mahasiswa dengan IPK tinggi. Program ini membutuhkan mahasiswa yang mampu beradaptasi, berkomunikasi, bekerja sama serta menjadi representasi terbaik kampus ketika bertemu dengan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai daerah di Indonesia. Dan pada tahun ini, dua nama itu adalah Zulfachry dan Deysi.
Lalu siapa sebenarnya mereka?
Zulfachry Febriansyah Mohiddin lahir di Gorontalo pada 6 Februari 2005. Berasal dari keluarga sederhana di Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo yang selalu menanamkan nilai kerja keras dan semangat belajar sejak usia dini.
Perjalanan pendidikannya dimulai di SDN 5 Tolangohula sebelum melanjutkan ke MTs Negeri 1 Kota Gorontalo. Kemudian semangat belajar itu membawanya menembus MAN Insan Cendekia Gorontalo, salah satu sekolah paling kompetitif di daerah ini.
Sejak kecil, Zulfachry dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah menyerah. Ketika kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar daerah harus tertunda karena kondisi kesehatan orang tuanya, ia memilih tetap berada di Gorontalo. Keputusan itu tidak membuat mimpinya mengecil. Sebaliknya, dia menjadikan keadaan tersebut sebagai alasan untuk bekerja lebih keras.
Kini, sebagai mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Zulfachry tercatat sebagai penerima Beasiswa Bank Indonesia dan aktif dalam komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI). Dia bahkan dipercaya menjadi Ketua GenBI Komisariat IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Di bidang keagamaan, dia pernah meraih Juara I MTQ Cabang Syarhil Qur’an tingkat kabupaten dan provinsi serta menjadi finalis tingkat nasional. Prestasi tersebut mengantarkannya memperoleh hadiah umrah ke Tanah Suci.
Sementara di bidang akademik, Zulfachry berhasil meraih berbagai medali pada kompetisi tingkat nasional dalam beragam bidang ilmu. Mulai dari biologi, psikologi, teknik, ekonomi, bahasa Inggris hingga matematika.
Namanya juga dikenal di berbagai ajang kompetisi mahasiswa. Dia pernah meraih Juara I Duta Komunikasi dan Penyiaran Islam, Juara III Putra-Putri Islam Berprestasi Gorontalo, serta Juara II Kompetisi Dakwah Ekonomi Syariah tingkat Provinsi Gorontalo.
Namun yang membuatnya berbeda bukan hanya segudang prestasi. Zulfachry juga aktif membina peserta MTQ sebagai pelatih cabang Syarhil Qur’an. Baginya, prestasi tidak akan berarti banyak jika tidak dapat dibagikan kepada orang lain. “Untuk menjadi terang tidak harus menjadi lampu. Menjadi lilin pun sudah cukup untuk menerangi sekitar,” begitu prinsip yang selalu ia pegang.
Jika Zulfachry dikenal melalui prestasi multidisiplin dan dunia MTQ, maka Deysi Alfinasari Kunsi dikenal melalui kemampuan berbicara, berdebat dan memimpin forum.
Lahir di Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, pada 28 Agustus 2005, Deysi dari keluarga yang konsisten menanamkan nilai pendidikan, kedisiplinan dan kerja keras.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 1 Pinolosian. Setelah itu dia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Assalam Manado dan kemudian Pondok Pesantren Hubulo Gorontalo.
Lingkungan pesantren membentuk karakternya. Di sana dia belajar disiplin, keberanian berbicara serta kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik.
Saat ini Deysi tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Syariah. Selain aktif mengikuti perkuliahan, dia juga aktif di berbagai organisasi, mulai dari Himpunan Mahasiswa Jurusan HTN, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga Senat Mahasiswa Fakultas Syariah.
Kemampuannya dalam berargumentasi terlihat dari berbagai prestasi yang berhasil diraih. Dia beberapa kali meraih juara dalam kompetisi debat tingkat kampus. Di antaranya Juara I Debat yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah dan Juara I Debat tingkat Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.
Kemampuan public speakingnya sebenarnya sudah terlihat sejak usia sekolah dasar. Pada tahun 2015, dia berhasil meraih Juara I Pidato tingkat Kabupaten dan Juara III tingkat Provinsi Sulawesi Utara.
Tidak hanya itu, Deysi juga sering dipercaya menjadi moderator, MC dan pemateri dalam berbagai kegiatan organisasi maupun kegiatan kampus. Kemampuannya membangun komunikasi dan mengelola diskusi membuatnya dikenal sebagai sosok yang percaya diri sekaligus terbuka terhadap berbagai pandangan.
Bagi Deysi, prestasi bukanlah tujuan akhir. Prestasi adalah cara untuk terus memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Dia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Terpilihnya Zulfachry dan Deysi menjadi peserta KKN Nusantara 2026 tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Keduanya akan bertemu dan belajar bersama mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai PTKIN di seluruh Indonesia. Mereka akan hadir sebagai wajah kampus yang membawa identitas akademik, budaya dan nilai-nilai keislaman moderat yang selama ini menjadi karakter IAIN Sultan Amai Gorontalo.
KKN Nusantara di Banten akan dilaksanakan bulan bulan. Keduanya akan berkesempatan untuk bertukar pengalaman, membangun jejaring, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa dari Gorontalo mampu berdiri sejajar dengan mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.(kur)








