GOPOS.ID, GORONTALO – Pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada awal 2026 diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Namun, di tengah bertambahnya jumlah pekerja, tingkat pengangguran justru ikut meningkat. Hal ini menggambarkan masih adanya ketimpangan antara ketersediaan tenaga kerja dan lapangan pekerjaan.
Data ketenagakerjaan Februari 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, menunjukkan jumlah angkatan kerja di Provinsi Gorontalo meningkat seiring bertambahnya penduduk usia kerja. Pada Februari 2026 jumlah angkatan kerja sebanyak 670.242 orang atau bertambah 35.255 orang dibandingkan Februari 2025. Dari jumlah pertambahan tersebut, yang terserap bekerja sebanyak 33.836 orang, sehingga terdapat sebanyak 1.149 orang pengangguran. Bertambahnya pengangguran baru ini membuat jumlah pengangguran di Gorontalo pada Februari 2026 menjadi sebanyak 21,236 orang.
“Konsep pengangguran adalah tidak terserapnya angkatan kerja yang tersedia dengan lapangan kerja yang ada. Pada Februari 2026 angkatan kerja di Gorontalo ada sebanyak 35 ribu orang. Ternyata yang bisa diserap oleh lapangan kerja sebanyak 33 ribu orang, maka sisanya menjadi penangguran. Itu konsep pengangguran yang kami catat,” ungkap Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, Selasa (5/5/2026).
BPS mendefinisikan pengangguran dalam empat kategori. Yakni orang-orang yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan, serta sudah punya pekerjaan tapi belum mulai bekerja.
Agus Sudibyo menjelaskan, secara persentase tingkat pengangguran terbuka di Gorontalo memang terjadi penurunan dari Agustus 2025 ke Februari 2026. Namun bila dilihat pada Februari 2025, maka persentase tingkat pengangguran terbuka di Gorontalo meningkat di Februari 2026.
“Di Februari 2025 itu 3,12 persen, sedangkan di Februari 2026 persentasenya 3,17 persen. Sementara itu pada Agustus 2025 TPT Gorontalo berada di angka 3,42 persen,” urai Agus Sudibyo.
Sementara itu disparitas terlihat dalam struktur pengangguran. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan cenderung melebar, demikian pula perbedaan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Pada Februari 2026 sekitar 5 dari enam laki-laki usia kerja di Provinsi Gorontalo aktif secara ekonomi (termasuk dalam angkatan kerja). Sementara untuk perempuan hanya tiga dari enam perempuan usia kerja di Provinsi Gorontalo yang aktif secara ekonomi.
“Ini menunjukkan perempuan punya kesempatan kerja lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki, atau terserapnya lebih kecil,” ungkap Agus Sudibyo.
Dari sisi lapangan usaha, struktur ketenagakerjaan Gorontalo masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi sekitar 32–33 persen. Disusul sektor perdagangan yang juga menyerap tenaga kerja 15-27 persen. “Masyarakat kita di Gorontalo memang lebih banyak bekerja di pertanian, kehutanan, dan perikanan,” terang Agus Sudibyo.
Selanjutnya dari status pekerjaan, mayoritas pekerja di Gorontalo bekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai dengan porsi sebesar 36,86 persen. Dibandingkan 2025, angka pekerja yang bekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai pada Februari 2026 mengalami kenaikan sebanyak 23.065 orang.(hasan/gopos)








