GOPOS.ID, GORONTALO – Tabir kematian Muhammad Jeksen, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus terkuak. Kali ini datang dari pengakuan rekan korban, Amar. Amar sempat menerima panggilan telepon dari Jeksen sesaat sebelum meninggal.
Amar mengatakan, ia sempat terhubung dengan panggilan telepon seluler (ponsel) milik Jeksen pada Ahad (21/9/2025) malam. Hanya saja saat itu suara dan pembicaraan Jeksen tak terdengar jelas. Tak lama kemudian, Jeksen mengirimkan sebuah pesan singkat.
“Dalam pesan itu, Jeksen meminta saya untuk segera menjemputnya. Jeksen bahkan mengirimkan pesan itu berulang kali. Jeksen mengaku sesak nafas,” kata Amar.
Mendapat pesan itu Amar segera meminjam motor kawannya untuk menjemput Jeksen di Sekretariat Mapala FIS UNG. Sesampainya di sekretariat, Amar mendapati Jeksen dalam keadaan sudah lemas dengan wajah dan leher bengkak.
“Saya langsung bawa dia ke rumah sakit. Saat itu tidak ada sama sekali panitia atau pengurus Mapala yang membawa dia ke Rumah Sakit. Teman-temannya baru datang sekitar 30 menit kemudian setelah Jeksen di RS,” kata Amar.
Jeksen dibawa ke rumah sakit oleh Amar pada pukul 20.00 Wita. Kemudian keesokan harinya pada pukul 07.00 Wita, Amar mendapat kabar bahwa rekannya sudah meninggal dunia. (Abin/Gopos)








