GOPOS.ID, GORONTALO – Tiga hari berada di alam terbuka menjadi pengalaman berharga bagi calon anggota Ambalan Pangkalan SMK Bina Taruna Gorontalo. Melalui kegiatan Penerimaan Tamu Ambalan (PTA), peserta tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan kepramukaan, tetapi juga ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri, disiplin, tangguh, dan mampu bekerja sama.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, Rabu–Jumat, 19–21 Agustus 2026, tersebut dipusatkan di Wisata Sungai Botumotolioluwo, Desa Longalo.
Pemilihan alam terbuka sebagai lokasi kegiatan menjadi bagian dari strategi sekolah menghadirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual. Peserta dihadapkan langsung pada berbagai situasi yang mendorong mereka untuk mengatur diri, bekerja dalam kelompok, menyelesaikan persoalan, serta bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.
Kepala SMK Bina Taruna Gorontalo, Karyono, S.Pd., M.Pd., mengatakan PTA dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan perkemahan, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik.
“Kami ingin Penerimaan Tamu Ambalan ini menjadi pengalaman yang benar-benar dirasakan peserta. Ketika mereka berada di alam terbuka, mereka belajar mengatur diri, bekerja bersama, menyelesaikan persoalan, dan memahami bahwa setiap tanggung jawab kecil dalam kelompok memiliki arti,” ujar Karyono.
Menurutnya, nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, solidaritas, dan kepedulian akan lebih bermakna ketika peserta didik mengalaminya secara langsung.
Selama kegiatan, peserta tidak hanya menerima instruksi. Mereka dituntut mengambil peran dalam kelompok, menyelesaikan tugas bersama, membangun komunikasi, serta beradaptasi dengan kondisi yang berbeda dari rutinitas pembelajaran di sekolah.
Pengalaman itu dirasakan langsung salah seorang peserta, Ainun Amelia Dau. Ia menilai kegiatan PTA memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas.
“Saya merasa kegiatan ini bukan hanya tentang berkemah atau mengikuti kegiatan Pramuka, tetapi tentang bagaimana kami belajar lebih mandiri, berkomunikasi dengan teman, dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan selama kegiatan,” kata Ainun.
Dinamika selama perkemahan juga menjadi ruang bagi peserta untuk belajar menghadapi perbedaan karakter dan pendapat. Mereka dituntut mampu berkomunikasi serta mencari solusi agar tugas kelompok tetap dapat diselesaikan.
Ainun mengatakan, pengalaman tersebut membuat dirinya memahami pentingnya mengambil bagian dalam sebuah kelompok.
“Di sini kami lebih banyak berinteraksi dan bekerja sama. Ada saatnya kami berbeda pendapat, tetapi kami belajar bagaimana menyelesaikannya dan tetap menjalankan tugas sebagai satu kelompok,” tuturnya.
Selain pembentukan karakter, lingkungan Wisata Sungai Botumotolioluwo juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Peserta belajar menjaga kebersihan, mengelola perlengkapan, memperhatikan kondisi sekitar, serta memahami tanggung jawab terhadap alam yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan.
Karyono menilai pengalaman berada di alam terbuka dapat mengajarkan peserta untuk beradaptasi sekaligus memahami bahwa kenyamanan yang diperoleh harus diimbangi dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Alam memberikan pelajaran yang berbeda. Anak-anak belajar menjaga kebersihan, menghargai lingkungan, mengelola kebutuhan sendiri, sekaligus memahami bahwa kenyamanan yang mereka dapatkan harus diimbangi dengan tanggung jawab untuk menjaga tempat yang mereka gunakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan kepramukaan diharapkan tidak berhenti pada pengalaman selama perkemahan. Nilai yang diperoleh peserta harus mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Hal tersebut juga menjadi harapan Ainun. Menurutnya, pengalaman selama tiga hari di Botumotolioluwo diharapkan dapat menjadi bekal untuk membangun kebiasaan positif setelah kembali ke sekolah.
“Saya berharap setelah kegiatan ini kami tidak hanya mengingat keseruannya, tetapi juga menerapkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan kerja sama yang kami dapatkan selama perkemahan,” ungkapnya.
Dengan berakhirnya PTA pada Jumat, 21 Agustus 2026, para peserta diharapkan telah memiliki pemahaman awal mengenai kehidupan Ambalan di Pangkalan SMK Bina Taruna Gorontalo.
Bagi sekolah, pengalaman tiga hari di alam terbuka tersebut menjadi fondasi awal untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu mengambil tanggung jawab, bekerja bersama, beradaptasi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
“Harapan kami, mereka pulang bukan hanya membawa cerita tentang perkemahan, tetapi membawa karakter baru yang terlihat dalam cara mereka belajar, bergaul, bertanggung jawab, dan mengambil peran di sekolah maupun di masyarakat,” pungkas Karyono. (Rama/Gopos)







