GOPOS.ID, GORONTALO – Tidak ada satu pun nama dari Gorontalo dalam jajaran direksi Bank SulutGo (BSG) saat ini. Dari enam posisi direksi yang tersedia, baru lima kursi yang terisi dan seluruhnya ditempati figur dari Sulawesi Utara.
Komposisi tersebut tercantum dalam laman resmi BSG. Lima nama yang saat ini mengisi jajaran direksi yakni Revino M. Pepah sebagai Direktur Utama, Mutesa Holdin sebagai Direktur Kepatuhan, Esther C. Rampengan sebagai Direktur Kredit, Joubert R.J. Dondokambey sebagai Direktur Umum, serta Louisa J. Parengkuan sebagai Direktur Operasional.
Satu kursi direksi masih kosong. Kondisi ini menjadi sorotan karena sejumlah pemerintah daerah di Gorontalo tercatat sebagai pemegang saham BSG. Sebelumnya, nama Gorontalo sempat masuk dalam susunan direksi hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BSG yang digelar di Kantor Pusat BSG pada 10 Februari 2026.
Saat itu, Rudiyanto Katili, mantan Kepala Kantor Wilayah BSG Gorontalo, disebut mendapat posisi sebagai Direktur Dana dan Treasury. Namun, keputusan RUPS belum serta-merta membuat seorang calon dapat menjalankan tugas sebagai direksi. Setiap calon direksi maupun komisaris harus terlebih dahulu melewati penilaian kemampuan dan kepatutan atau Fit and Proper Test (FPT) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Proses FPT bagi calon komisaris dan direksi BSG berlangsung di Kantor OJK Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara di Manado, 24-28 Agustus 2026.
Jarak antara RUPSLB dan pelaksanaan FPT memang cukup panjang. Para kandidat harus terlebih dahulu memenuhi sejumlah tahapan, termasuk uji kompetensi dan kelengkapan dokumen. Termasuk proses kelengkapan dokumen. Masing-masing kandidat harus ikut uji kompetensi
Belakangan, beredar informasi bahwa Rudiyanto Katili tidak lolos dalam tahapan FPT tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari BSG maupun OJK yang mengonfirmasi hasil penilaian terhadap Rudiyanto. Karena itu, informasi tersebut belum dapat dipastikan sebagai keputusan final OJK.
Jika nantinya informasi tersebut terkonfirmasi, Gorontalo praktis tidak memiliki keterwakilan dalam jajaran direksi BSG. Padahal, Gorontalo bukan hanya menjadi wilayah operasional BSG, tetapi juga bagian dari daerah yang memiliki kepentingan sebagai pemegang saham.
Kondisi itu sekaligus membuka peluang bagi pemerintah daerah pemegang saham di Gorontalo untuk mengusulkan kandidat lain guna mengisi kursi direksi yang masih kosong.
Pengajuan kandidat baru dinilai penting agar kepentingan daerah tetap memiliki ruang dalam pembahasan dan pengambilan keputusan strategis di tingkat manajemen BSG.
Keterwakilan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan asal daerah seorang direksi. Lebih jauh, posisi tersebut berkaitan dengan bagaimana kepentingan daerah pemegang saham dapat ikut diperhatikan dalam kebijakan bank, mulai dari penyaluran kredit, pengembangan layanan hingga kontribusi terhadap pendapatan daerah melalui dividen.
Gorontalo sendiri dinilai memiliki sumber daya manusia yang dapat dipertimbangkan untuk mengisi posisi tersebut. Selain Rudiyanto Katili, terdapat figur lain dengan pengalaman dan rekam jejak di sektor perbankan yang berpotensi diajukan melalui mekanisme pemegang saham.
Dengan masih tersedianya satu kursi direksi, pilihan kini berada pada pemegang saham. Apakah posisi tersebut kembali diupayakan untuk figur dari Gorontalo atau diberikan kepada kandidat lain akan menjadi bagian dari proses berikutnya sesuai mekanisme tata kelola BSG dan ketentuan OJK.(*/gopos)








