GORONTALO 3 April 2025 – Masyarakat Indonesia terkhusus Provinsi Gorontalo telah selesai melaksanakan Lebaran IdulFitri 1446 Hijriah. Pelaksanaan kali ini berbeda dengan lebaran tahun-tahun sebelumnya dimana kebutuhan masyarakat setiap tahun makin meningkat dan lonjakan pengeluaran kebutuhan masyarakat saat lebaran mau tidak mau tidak bisa diabaikan.
Beragam kebutuhan seperti pakaian serta kebutuhan rumah tentunya menjadi hal wajib bagi setiap orang. Kebutuhan rumah tangga serta keperluan rumah menjadi hal yang lumrah bagi setiap masyarakat.
Hal ini tentunya memicu meningkatnya pengeluaran masyarakat di berbagai tempat seperti toko-toko, mall dan lain sebagainya demi mengisi keperluan tersebut.
Pelaksanaan mudik, hingga pemberian THR juga hal yang harus disediakan oleh beberapa masyarakat yang mampu memberikan hal tersebut. Pengeluaran lain yang serupa juga bakal membuat masyarakat harus rela merogoh kocek dalam-dalam untuk memenuhi kebutuhan itu.
Kondisi ini bakal parah jika kita tidak menyiapkan simpanan atau tabungan untuk mengalokasikan kebutuhan mendesak. Sering kali kita lupa menyisihkan sedikit uang untuk keperluan serta kepentingan nantinya.
Lebih parahnya lagi jika kita sudah memiliki tunggakan seperti membayar Iuran kesehatan, pekerjaan, cicilan, serta beberapa kebutuhan tak terduga lainnya.
Sebelumnya juga kita sudah mendengar beberapa hal terkait banyaknya PHK massal yang terjadi awal tahun 2025 kemarin. Mengutip suara.com, jaringan berita gopos.id, awal ramadhan kemarin gelombang PHK besar-besaran mengintai sejumlah pihak, ratusan dan ribuan masyarakat kehilangan pekerjaan.
Sritex, raksasa tekstil Indonesia, jadi contoh nyata. Setelah puluhan tahun beroperasi, PT Sri Rejeki Isman Tbk akhirnya bangkrut. Krisis keuangan yang berlangsung selama satu dekade mencapai puncaknya pada Mei 2021, saat Pengadilan Niaga Semarang memutuskan Sritex pailit. Dampaknya, per 1 Maret 2025, sekitar 12 ribu pekerja kehilangan pekerjaan.
Tak sampai disitu seperti yang kita ketahui sejumlah PHK massal juga terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kehilangan pekerjaan tetap tentunya membuat masyarakat kesulitan mencari pekerjaan baru.
Hal ini tentunya bakal sedikit memaksa kita untuk melirik Pinjol (Pinjaman Online) sebagai bagian dari solusi darurat ketika memerlukan kebutuhan mendesak tentunya.
Bagi sebagian orang mungkin pinjol sudah tidak asing lagi, bagi sebagian orang pinjol sudah menjadi hal yang diperlukan ketika tidak memiliki pegangan dalam hal ini uang.
Berdasarkan data dirangkum gopos.id dari berbagai sumber “Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 137 juta masyarakat Indonesia berusia 15 tahun yang memiliki utang. Jumlah utang pinjol masyarakat Indonesia meyentuh angka Rp66 triliun pada September akhir, demikian dilansir dari Nikkei, Senin (9/12). 11 Des 2024.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat memerlukan bantuan Pinjaman Online untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari baik itu keperluan rumah dan lain sebagainya.
Sementara itu berdasarkan data yang dikutip gopos.id melalui CORE (Center of Reform on Economics ) INDONESIA jelang lebaran 2025, kelompok rumah tangga kelas menengah ke bawah semakin terimpit oleh carut marut ekonomi. Awal tahun 2025 ini secara khusus membawa getah kepada rumah tangga kelompok menengah ke bawah.
Gejala anomali konsumsi rumah tangga menjelang lebaran tertangkap dari tren deflasi pada awal tahun 2025. BPS mencatat deflasi pada Februari 2025, baik secara tahunan (-0,09%), bulanan (-0,48%) maupun year to date (-1,24%).
“Jika pelemahan daya beli masyarakat pada Ramadhan dan jelang lebaran 2025 dibiarkan terus menerus, bisa jadi akan menggerus kinerja ekonomi domestik dan menurunkan kualitas hidup masyarakat. Rendahnya pendapatan, secara sosial, juga dapat memicu konflik horizontal di tengah tekanan kebutuhan ekonomi yang semakin mahal,” tulis CORE INDONESIA dalam laporannya.
Ekonomi, keperluan rumah tangga, kebutuhan sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang layak tentunya sangat diidam-idamkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Namun tentunya ada tantangan besar yang harus dilewati oleh setiap masyarakat untuk memenuhi hak tersebut.
Kolaborasi dari kebutuhan, keperluan masyarakat untuk memenuhi hasrat memiliki suatu kebutuhan maupun barang sering kali membuat orang tidak berpikir panjang. Termasuk juga melakukan pinjaman online.
Meningkatkan kreatifitas diri, serta mampu mengambil langkah tegas untuk tidak terpengaruh pinjaman online adalah cara yang bisa ditempuh untuk tidak terdesak pinjaman online.
Pemerintah juga harus mampu melaksanakan edukasi Terhadap masyarakat soal bahaya pinjaman online yang resikonya yang sangat besar terutama kepada masyarakat luas.
Sebab beberapa pinjaman online yang seringkali dikunjungi masyarakat ada yang ilegal bahkan ada yang berkedok penipuan atau bodong.
Mengutip dari berbagai sumber, Januari-Februari 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) memberantas ratusan pinjaman online (pinjol) ilegal. Satgas Pasti menemukan 508 entitas pinjol ilegal di berbagai situs dan aplikasi, serta 28 konten penawaran pinjaman pribadi (pinpri).
Sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, pemerintah daerah juga harus memberikan semacam edukasi kepada masyarakat maupun melaksanakan giat-giat UMKM terhadap masyarakat yang tidak ingin terjebak pinjam online.
Langkah terakhir yang harus ditempuh yakni meyakinkan pinjaman online bukanlah satu-satunya jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan serta mendapatkan penghasilan tambahan bagi masyarakat.
Solusi terbaik yakni dengan mencari pekerjaan sampingan juga merupakan keputusan terbaik dalam menghindari pinjam online. (Putra/Gopos)