GOPOS.ID, GORONTALO – Gaji bertambah semestinya membuat ruang finansial lebih longgar. Namun, kenaikan penghasilan tidak selalu berakhir pada bertambahnya tabungan. Ketika pendapatan naik, gaya hidup bisa ikut bergerak naik. Langganan bertambah, cicilan muncul, makan di luar menjadi kebiasaan baru. Pada akhir bulan, sisa uang bisa tetap sama, yakni nol.
Gambaran sederhana itu ditampilkan dalam materi psikologi uang yang disampaikan Psikolog Dr. Sukma Nurilawati Botutihe, S.Psi., M.Psi, dalam sharing session LPS Media Meet Up Gorontalo 2026, Senin(5/10/2026) di Hotel Aston Kota Gorontalo.
Sukma mengungkapkan, kenaikan gaji tidak otomatis mengubah posisi keuangan apabila kenaikan pengeluaran mengikuti kenaikan pendapatan. Ketika gaya hidup mengembang, tambahan penghasilan justru habis terserap untuk mempertahankan pola konsumsi baru.
“Keputusan keuangan kita tidak selalu didasarkan pada perhitungan yang rasional. Emosi, kebiasaan, maupun dorongan untuk mendapatkan kepuasan saat ini dapat memengaruhi cara kita menggunakan uang,” jelas dosen Jurusan Psikolog Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini.
Ketua HIMPSI Wilayah Gorontalo ini menjelaskan sejumlah perilaku yang dapat memengaruhi keputusan keuangan, seperti present bias, lifestyle creep, dan mental accounting. Present bias membuat seseorang memberi bobot lebih besar pada kepuasan yang bisa diperoleh sekarang dibandingkan manfaat keuangan di masa depan. Menabung untuk kebutuhan bulan depan, misalnya, dapat terasa kurang menarik dibandingkan menggunakan uang tersebut untuk memenuhi keinginan hari ini.
“Masalahnya, keputusan semacam itu dapat berulang. Rencana menabung ditunda, sementara pengeluaran terus berjalan,” terang Sukma.
Demikian pula lifestyle creep, yakni kecenderungan menaikkan standar hidup ketika pendapatan meningkat. Kenaikan pendapatan kemudian diikuti peningkatan pengeluaran untuk makanan, langganan, cicilan, atau kebutuhan gaya hidup lainnya.
“Ketika kenaikan gaji seluruhnya terserap oleh pengeluaran baru maka inilah jebakan finansial. Pendapatan bertambah, tetapi ruang untuk menabung tidak ikut membesar,” urai perempuan yang akrab disapa Bunda Sukma.
Tekanan sosial dan FOMO (Fear of Missing Out) atau “takut ketinggalan” juga dapat mendorong pengeluaran di luar kemampuan. FOMO dapat membuat seseorang merasa perlu mengikuti ajakan teman, tren, konser, perjalanan, atau kegiatan sosial meskipun kondisi keuangannya tidak memungkinkan.
“Keinginan untuk tetap diterima dalam kelompok memunculkan rasa takut tertinggal, kemudian mendorong keputusan belanja di luar batas modal keuangan,” kata Sukma.
Karena itu, Sukma menekankan, membangun kebiasaan menabung bukan semata-mata persoalan meningkatkan pendapatan. Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah membuat aturan sederhana dengan pola “jika-maka”. Jika penghasilan masuk, maka sebagian langsung disisihkan ke rekening tujuan.
“Jika tergoda membeli sesuatu di luar rencana, maka barang tersebut dimasukkan lebih dahulu ke daftar keinginan dan keputusan ditunda hingga esok hari,” saran Doktor Psikolog Universitas Padjajaran Bandung ini.
Dalam pandangan Sukma, simpanan juga memiliki makna psikologis. Dana yang disisihkan dapat menjadi sumber rasa aman ketika seseorang menghadapi kondisi darurat maupun ketidakpastian keuangan.
Sejalan dengan hal tersebut, melalui program penjaminan simpanan, LPS memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam menyimpan dan mengelola dana di perbankan sesuai ketentuan yang berlaku. Pemahaman terhadap perilaku keuangan dan perlindungan simpanan diharapkan mendorong masyarakat mengambil keputusan finansial secara lebih bijak, tenang, dan terencana.
LPS Media Meet Up 2026 di Gorontalo dilaksanakan untuk memperkuat sinergi dengan insan media. LPS berharap edukasi mengenai literasi keuangan dan program penjaminan simpanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Meningkatnya pemahaman publik diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan, sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif serta berkelanjutan.(hasan/gopos)








