GOPOS.ID, GORONTALO – Festival Tumbilotohe yang digelar oleh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) resmi dibuka pada Selasa malam di pelataran Kampus IV UNG, Bone Bolango. Mengusung tema “Tuwoto Lo Tumbilotohe Ja Mo Pate” (bukti cahaya tradisi yang tak pernah padam), kegiatan ini menjadi simbol kuat pelestarian budaya sekaligus ajang kreativitas mahasiswa dalam menyemarakkan Ramadan.
Kegiatan pembukaan dihadiri oleh Wakil Rektor II UNG, Dr. Moh. Hidayat Koniyo, S.T., M.Kom., yang mewakili Rektor, Dekan Fakultas Teknik Prof. Dr. Ir. Sardi Salim, M.Pd., IPU., ASEAN Eng., serta perwakilan DPRD Kabupaten Bone Bolango. Dalam sambutannya, Wakil Rektor II menyampaikan permohonan maaf dari Rektor yang berhalangan hadir, sekaligus mengapresiasi pelaksanaan festival yang dinilai konsisten menjaga tradisi lokal. Ia menegaskan bahwa Tumbilotohe bukan sekadar perayaan, tetapi memiliki makna historis sejak abad ke-15 hingga ke-16 sebagai bentuk syukur dan penerang jalan menuju masjid di akhir Ramadan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Tumbilotohe mengandung nilai filosofis melalui elemen seperti janur kuning, tebu sebagai simbol keramahan, pisang sebagai lambang kesejahteraan, serta semangat mohuyula atau gotong royong. Menurutnya, tradisi tersebut kini telah berkembang menjadi festival yang memadukan nilai budaya dan sentuhan teknologi. Ia juga mendorong mahasiswa teknik untuk menghadirkan inovasi, seperti penggunaan lentera ramah lingkungan atau bahan bakar alternatif hasil rekayasa, tanpa meninggalkan nilai tradisional.
Ketua Panitia, Muhammad Al Jufri Tohopi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen mahasiswa dalam menjaga warisan budaya Gorontalo. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Tumbilotohe tahun 2026 didukung oleh berbagai pihak melalui proposal, donatur, dan usaha dana mahasiswa. Ia juga mengapresiasi kerja sama panitia dari angkatan 2025, serta dukungan Senat Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Jurusan yang turut menyukseskan kegiatan tersebut.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNG, Prof. Sardi Salim, menyampaikan apresiasi atas konsistensi mahasiswa yang telah melaksanakan tradisi ini selama hampir dua dekade sejak sekitar tahun 2006–2007. Ia menyoroti tantangan ketersediaan dan harga minyak tanah, namun mahasiswa tetap mempertahankan penggunaan lampu tradisional demi menjaga keaslian budaya. Ia berharap ke depan kegiatan ini mendapat dukungan lebih luas, termasuk dari pemerintah daerah dan sektor pariwisata. Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta memperkuat identitas budaya Gorontalo di tengah perkembangan zaman. (Laila-Mg/Gopos)








