Enam bulan setelah diluncurkan, Program Magang Nasional merampungkan tahap pertamanya dengan melibatkan hampir 12 ribu lulusan baru. Di balik angka itu, muncul pertanyaan penting: sejauh mana program ini benar-benar mampu membuka jalan karier bagi generasi muda?
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), pengalaman singkat para peserta Magang Nasional Tahap I tersebut ditunjang oleh sebanyak 1.185 perusahaan yang berpartisipasi sebagai penyelenggara magang dan melibatkan sebanyak 5.267 orang mentor.
Peserta yang menyelesaikan program selama enam bulan akan mendapatkan sertifikat magang, sedangkan peserta yang mengikuti lebih dari tiga bulan, tapi jika kurang dari enam bulan akan memperoleh surat keterangan.
Bagi peserta, dokumen ini penting sebagai bekal awal untuk menunjukkan pengalaman dan kesiapan kerja secara lebih meyakinkan.
Dengan berbagai dukungan dari pemerintah kepada peserta meliputi uang saku hingga sertifikat, apakah Magang Nasional berdampak sesingkat durasinya, atau malah memberikan efek yang lebih panjang bagi perjalanan karier para calon angkatan kerja muda kita?
Makna Magang
Bagi Gladys, lulusan Public Relations Universitas Indonesia (UI), pengalamannya menjalani program Magang Nasional di Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Kemnaker RI, merupakan ruang belajar yang baru.
Ia mengatakan, keterampilan baru yang ia petik dari program tersebut antara lain kemampuan public speaking, copywriting, hingga etika bekerja dan membangun relasi dengan para rekan secara profesional.
Hal yang hampir serupa diungkapkan oleh Yasmin, lulusan Psikologi Universitas Padjajaran (Unpad), yang menjalankan magang di Divisi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) LKBN ANTARA.
Yasmin mengatakan, program ini membuka perspektif baru terhadap dunia korporasi media yang ia sebut seru dan tidak membosankan.
“Ini rasanya menjadi starting point aku ke ranah baru. Aku sebelumnya sempat ragu kalau pekerjaan corporate itu akan membosankan, tapi ternyata seru juga. Terutama karena di industri media, jadi lebih menyenangkan, banyak yang bisa dipelajari,” ujarnya.
Di sisi lain, Zahra, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) mengaku senang dapat magang di Lembaga Pendidikan ANTARA (LPA).
Ia bahkan tertarik untuk terjun di dunia media yang ia sebut tidak monoton dan wadah sempurna untuk mengumpulkan ilmu baru dari berbagai tokoh.
Magang agaknya menjadi jendela baru bagi para fresh graduate. Tak hanya untuk mengembangkan kompetensi, tapi juga menemukan passion baru diri sendiri yang mungkin cukup lama terpendam.
Magang Bermakna
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, mengatakan esensi utama dari Magang Nasional yang hampir satu tahun berjalan ini adalah menjadi jembatan antara calon angkatan kerja, dunia akademis, dan dunia usaha/industri.
Namun, dalam pandangan yang lebih luas lagi, Yassierli berharap program Magang Nasional bisa menjadi salah satu upaya mengurangi tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia.
Berdasarkan data terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS), TPT pada November 2025 adalah sebesar 4,74 persen, atau turun 0,11 persen poin dibanding Agustus 2025.
Ia juga menyampaikan harapan para peserta Magang Nasional dapat lebih mudah untuk memasuki dunia kerja yang relevan dengan studi dan pengalamannya setelah program ini selesai dijalani.
Kemnaker pun sedang melakukan penghitungan terkait berapa banyak peserta Magang Nasional yang pada akhirnya direkrut oleh perusahaan atau industri tempatnya melakukan magang selama kurang lebih enam bulan tersebut.
Berdasarkan data terkini Kemnaker, sudah terdapat sejumlah perusahaan yang merekrut 20-30 persen dari peserta Magang Nasional Tahap I.
Setelah Magang, Lalu Apa?
“Terus apa?”, sepertinya menjadi salah satu pertanyaan yang mengiringi anak-anak muda, tak terkecuali para lulusan baru perguruan tinggi yang mengikuti Magang Nasional.
Bagi Gladys, setelah mendapatkan ilmu dan pengalaman yang telah dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan kompetensi untuk kemudian diimplementasikan di lingkungan kerja selanjutnya. Pengalaman ini, lanjut dia, diharapkan menjadi nilai tambah bagi kredibilitasnya secara profesional.
“Dengan bekal yang sudah dimiliki, saya mulai mendapatkan beberapa tawaran kesempatan kerja, yang menunjukkan bahwa pengalaman magang ini memberikan dampak positif dan diakui sebagai pengalaman yang relevan,” ujar Gladys.
Dari sisi pemerintah, Kemnaker telah mempertimbangkan untuk menambah jumlah kuota peserta hingga 150 orang pada pelaksanaan Magang Nasional selanjutnya.
Seiring dengan itu, pemerintah juga menyediakan program sertifikasi kompetensi bagi para peserta yang sudah menyelesaikan program magang tersebut.
Peserta dapat mengikuti uji kompetensi di balai pelatihan Kemnaker maupun Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang bermitra dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Langkah ini kemudian diperkuat dengan upaya Kemnaker mengembangkan platform SiapKerja, termasuk fitur KarirHub yang menyediakan informasi lowongan kerja dari berbagai sektor.
Dinamika pasar kerja dunia saat ini sudah cukup menantang. Tugas pemerintah saat ini adalah bagaimana menjaga anak-anak muda tidak kehilangan semangat, dan tetap optimistis di tengah berbagai gejolak yang tidak bisa mereka kendalikan sendiri.
Jangan sampai generasi penerus bangsa tidak memiliki peluang untuk menyempurnakan ilmu dan talenta yang mereka asah dari kampus, demi menggapai cita-cita mulia.
Siapa tahu, magang menjadi langkah kecil yang bermakna besar bagi perjalanan hidup mereka di masa yang akan datang.(*)
Sumber: Antara








