GOPOS.ID, WONOSARI – Letaknya yang cukup jauh dari pusat perkotaan, tidak membuat aktivitas di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Wonosari, Kabupaten Boalemo, sepi cerita. Ada kegiatan, prestasi, kreativitas siswa, dan berbagai peristiwa yang setiap hari berlangsung di lingkungan sekolah.
Berbagai cerita itu mendorong sekolah untuk menggali dan mengembangkan minat siswa dalam dunia jurnalistik melalui kegiatan ekstrakurikuler Dewan Redaksi Junarlistik. Melalui kegiatan tersebut, para siswa dilatih dan diberikan ketrampilan melihat, mencatat, dan menyampaikan informasi melalui media informasi sekolah.
Tahun ini, pelatihan ketrampilan dalam bidang jurnalistik SMA 2 Wonosari telah memasuki angkatan ketiga. Berbeda dengan sebelumnya, pelatihan yang berlangsung Kamis-Jumat (24-25/9/2026) di gedung Laboratorium SMA 2 Wonosari tersebut, turut menghadirkan pemateri eksternal, Hasanudin Djadin yang merupakan wartawan media online gopos.id, sekaligus anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Gorontalo.
Pelatihan tidak berhenti pada teori tentang jurnalistik. Siswa diajak mengenal proses kerja jurnalistik sejak menemukan ide berita, mengamati peristiwa, mencari informasi, melakukan wawancara, mencatat fakta, hingga menyusunnya menjadi berita.
“Kemampuan jurnalistik pada dasarnya dimulai dari kepekaan melihat apa yang terjadi di sekitar,” terang Hasanudin dalam pemaparan materinya.
Sebuah kegiatan sekolah, misalnya, tidak harus berhenti sebagai dokumentasi. Di balik kegiatan tersebut bisa terdapat cerita tentang siswa yang berprestasi, proses persiapan, tantangan yang dihadapi, maupun dampak kegiatan bagi lingkungan sekolah.
Karena itu, siswa didorong untuk tidak hanya bertanya “Apa yang terjadi?”, tetapi juga menggali siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa kegiatan dilakukan, serta bagaimana prosesnya.
“Prinsip 5W+1H merupakan dasar dalam peliputan dan penulisan berita,” ujar Hasanudin menekankan.
Dalam materi berkaitan wawancara, siswa diperkenalkan cara menyusun pertanyaan terbuka. Pertanyaan seperti apa, bagaimana, dan mengapa dapat membantu narasumber memberikan jawaban yang lebih lengkap. Mereka juga diingatkan untuk mencatat nama narasumber, waktu, tempat, angka, serta informasi penting lainnya. Sebab, satu kesalahan kecil dalam mencatat fakta dapat mengubah isi berita.
Guru Pembimbing Ekstrakurikuler Dewan Redaksi Jurnalistik SMA Negeri 2 Wonosari, Gusran Ismail, menjelaskan Dewan Redaksi menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengelola informasi sekolah sekaligus mengembangkan kemampuan jurnalistik. Berbagai aktivitas di lingkungan sekolah dapat menjadi bahan bagi siswa untuk berlatih melakukan peliputan. Mulai dari kegiatan ekstrakurikuler, prestasi siswa, kegiatan sekolah, hingga peristiwa di sekitar lingkungan sekolah.
“Melalui bimbingan teknis ini, siswa diharapkan semakin mampu menghasilkan informasi yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan inspirasi,” terang Gusran Ismail.(*/gopos)








