GOPOS.ID, GORONTALO – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, masyarakat Desa Tolotio, Kecamatan Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango, masih setia mempertahankan tradisi membangunkan sahur dengan cara tradisional yang dikenal dengan koko’o.
Tradisi yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setiap bulan Ramadan.
Dengan menggunakan berbagai alat tradisional sederhana, para pemuda dan masyarakat setempat berkeliling kampung untuk membangunkan warga agar bersiap melaksanakan sahur.
Kegiatan ini dilakukan secara konsisten sejak awal Ramadan hingga menjelang akhir bulan suci. Suara alat tradisional yang dipukul berirama menjadi penanda khas bagi warga bahwa waktu sahur telah tiba.
Menariknya, tradisi ini awalnya hanya dilakukan oleh masyarakat Desa Tolotio. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan tersebut mulai diikuti oleh desa-desa lain di wilayah Kecamatan Bone Pantai, sehingga semakin memperkuat semangat kebersamaan masyarakat dalam menyambut Ramadan.
Keunikan lainnya, tradisi ini dijaga dan didominasi oleh pemuda desa yang masih berusia belia. Mereka sejak dini diajarkan untuk memelihara tradisi ini.
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Femmy Udoki, memberikan apresiasi atas komitmen masyarakat yang terus menjaga tradisi tersebut di tengah arus modernisasi.
Menurut Femmy, tradisi koko’o merupakan bentuk nyata kearifan lokal yang patut dipertahankan karena tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.
“Di tengah perkembangan teknologi saat ini, masyarakat masih memiliki semangat untuk mempertahankan tradisi lama yang sarat nilai kebersamaan. Ini adalah bentuk inovasi sosial yang lahir dari budaya masyarakat sendiri,” ujar Femmy.
Perempuan yang juga merupakan warga Desa Tolotio itu menilai bahwa tradisi koko’o tidak sekadar menjadi cara membangunkan sahur, tetapi juga menjadi simbol kekompakan dan semangat gotong royong masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia berharap tradisi tersebut dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar nilai-nilai budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Saya berharap tradisi ini terus dipertahankan. Ini bukan hanya soal membangunkan sahur, tetapi tentang menjaga identitas budaya dan kebersamaan masyarakat Bone Pantai,” tambahnya.
Bagi masyarakat setempat, koko’o bukan sekadar rutinitas Ramadan, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa di tengah modernisasi, nilai-nilai kearifan lokal masih memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat. (adm-01/gopos)








