No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

RUU Penyiaran dan Kebebasan Pers

Alexa by Alexa
Jumat 27 Februari 2026
in Perspektif
0
Ilustrasi aksi wartawan menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran. (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)

Ilustrasi aksi wartawan menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran. (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Drs Rusmin Nuryadin MH
(Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi, Deputi Bidang Administrasi, Sekretariat Wakil Presiden)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2022 tentang Penyiaran (UU Penyiaran)  mengatur tentang prinsip-prinsip penyelenggaraan penyiaran yang berlaku di Indonesia.

Isi dari undang-undang ini mencakup asas, tujuan, fungsi, dan arah penyiaran nasional, kemudian tercantum juga pengaturan tentang ketentuan Komisi Penyiaran Indonesia, jasa penyiaran, lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran berlangganan, lembaga penyiaran komunitas, lembaga penyiaran asing, stasiun penyiaran dan jangkauan siaran, sistem siaran berjaringan (baik televisi maupun radio), serta perizinan dan kegiatan siaran.

Wacana revisi UU Penyiaran muncul sejak tahun 2006, yang hingga saat ini tengah dibahas DPR RI, kembali memantik perdebatan publik. Di satu sisi, pembaruan regulasi dianggap penting untuk menyesuaikan perkembangan teknologi penyiaran di era digital. Di sisi lain, sejumlah pasal dalam draf revisi, justru dinilai mengancam kebebasan pers, memperluas kontrol negara terhadap ruang publik, serta berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan antarlembaga.

Di tengah pesatnya transformasi digital dari penyiaran analog menuju digital, masyarakat kini menikmati akses informasi yang semakin cepat, luas, dan beragam.

Penyiaran tidak lagi terbatas pada televisi dan radio, melainkan juga merambah platform digital, seperti YouTube, TikTok, dan berbagai media berbasis user generated content (UGC). Kondisi ini menuntut adanya regulasi yang adaptif, namun regulasi tersebut seharusnya memperkuat demokrasi, bukan justru membatasi kebebasan berekspresi.

Penyiaran dan demokrasi

Secara normatif, penyiaran bertujuan memperkukuh integrasi nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta membangun masyarakat yang demokratis, adil, dan sejahtera. Dalam konteks negara demokrasi, kebebasan pers merupakan pilar utama untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan.

Baca Juga :  Perbandingan Pendidikan Anak Usia Dini/TK Indonesia dan Singapura

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers), khususnya Pasal 8, telah menegaskan pentingnya perlindungan terhadap kerja jurnalistik dan pemenuhan hak publik atas informasi.

UU Pers dan UU Penyiaran memiliki hubungan komplementer. UU Pers sebagai payung utama (lex generalis) yang menjamin kemerdekaan pers dan UU Penyiaran sebagai hukum khusus (lex specialis) yang mengatur industri penyiaran (radio/TV) yang menggunakan frekuensi publik.

Karena itu, setiap regulasi baru di bidang penyiaran harus selaras dengan semangat UU Pers. Jika tidak, maka revisi tersebut justru berpotensi menjadi langkah mundur bagi demokrasi Indonesia.

Pasal-pasal problematis

Sejumlah ketentuan dalam draf revisi UU Penyiaran menuai kritik dari berbagai organisasi masyarakat sipil, seperti LBH Pers dan AJI Jakarta.

Pertama, Pasal 50B ayat (2) huruf C yang melarang penayangan eksklusif jurnalistik investigasi. Ketentuan ini dinilai berbahaya karena dapat melemahkan fungsi pers sebagai “anjing pengawas”.

Jurnalisme investigasi justru merupakan instrumen penting dalam membongkar praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran hukum. Melarang praktik jurnalistik semacam itu sama saja dengan membatasi mekanisme kontrol publik terhadap negara.

Kedua, Pasal 50B ayat (2) huruf K terkait larangan konten yang mengandung penghinaan, pencemaran nama baik, dan sejumlah frasa elastis lainnya. Pasal semacam ini kerap disebut sebagai “pasal karet” karena rentan ditafsirkan secara luas dan digunakan untuk membungkam kritik. Alih-alih mempersempit kriminalisasi terhadap jurnalis, ketentuan ini justru berpotensi memperluasnya.

Ketiga, Pasal 34F ayat (2) huruf E yang mewajibkan verifikasi konten oleh KPI terhadap platform digital. Ketentuan ini tidak hanya menyasar lembaga penyiaran konvensional, tetapi juga kreator konten di berbagai platform digital. Jika diterapkan secara ketat, aturan ini dapat menghambat kreativitas dan mempersempit ruang ekspresi masyarakat di era digital.

Baca Juga :  Menentang Pembungkaman Pers! Koalisi Jurnalis Gorontalo Tolak Pasal Bermasalah RUU Penyiaran

Keempat, Pasal 8A huruf q juncto Pasal 42 yang memberikan kewenangan kepada KPI untuk menyelesaikan sengketa jurnalistik di bidang penyiaran. Ketentuan ini menimbulkan tumpang tindih dengan kewenangan Dewan Pers, sebagaimana diatur dalam UU Pers. Pengalihan mekanisme penyelesaian sengketa dari Dewan Pers ke KPI berpotensi mereduksi independensi pers dan menciptakan ketidakpastian hukum.

Regulasi dan kebebasan

Memang, regulasi dalam penyiaran bukanlah sesuatu yang keliru. Negara memiliki kewajiban melindungi masyarakat dari konten yang mengandung kekerasan, ujaran kebencian, atau disinformasi, namun regulasi tersebut harus proporsional dan tidak mengorbankan prinsip kebebasan berekspresi.

Keseimbangan antara regulasi dan kebebasan pers menjadi tantangan utama. Regulasi yang terlalu longgar dapat memicu penyalahgunaan informasi, tetapi regulasi yang terlalu ketat justru mengarah pada overcontrolling oleh negara. Dalam negara demokrasi, pembatasan terhadap kebebasan berekspresi hanya dapat dilakukan secara ketat, jelas, dan tidak multitafsir.

Melihat berbagai polemik yang muncul, revisi UU Penyiaran seharusnya tidak terburu-buru disahkan. Proses legislasi perlu dilakukan secara transparan dan partisipatif dengan melibatkan Dewan Pers, organisasi profesi jurnalis, akademisi, kreator konten digital, serta masyarakat sipil.

Revisi regulasi penyiaran memang mendesak di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Hanya saja, hal yang lebih mendesak adalah memastikan bahwa regulasi tersebut tidak mengkhianati prinsip demokrasi dan kebebasan pers yang telah diperjuangkan sejak reformasi.

Indonesia sebagai negara demokrasi harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat tidak menjadi alat pembungkaman kritik, melainkan menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas informasi dan integritas ruang publik. Tanpa jaminan kebebasan pers, demokrasi hanya akan menjadi slogan tanpa makna.(ANTARA)

Tags: RUU Penyiaran
Previous Post

Pascaputusan Mahkamah Agung AS, RI Tinjau Ulang Kesepakatan Impor BBM

Next Post

JAGO ASRI: Kapolda Ajak Masyarakat Wujudkan Gorontalo yang Aman dan Bersih

Related Posts

Antrean BBM di Kawasan simpang empat Kota Gorontalo yang mengular hingga area pasar sentral kota Gorontalo.
Perspektif

Antrean BBM Tak Bisa Dijawab Hanya dengan Kalimat “Stok Aman”

Rabu 14 Oktober 2026
Perspektif

Pendidikan Melampaui Pagar Sekolah

Jumat 9 Oktober 2026
Dr. Funco Tanipu
Perspektif

Dua Tahun Wakil Gorontalo di Senayan

Jumat 2 Oktober 2026
Dosen Jurusan Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo Funco Tanipu ST MA, (dok. UNG)
Perspektif

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

Senin 14 September 2026
Perspektif

Indrawati Gobel dan Idah Syahidah, Dua Srikandi di Puncak Politik Gorontalo

Senin 14 September 2026
Nelson Pomalingo
Perspektif

Mengenang Almarhum Rachmat Gobel, Inspirasi, Teladan dan Spirit Perjuangan untuk Gorontalo

Kamis 20 Agustus 2026
Next Post

JAGO ASRI: Kapolda Ajak Masyarakat Wujudkan Gorontalo yang Aman dan Bersih

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Konveyor Batu Bara dan Gedung PLTU Anggrek Dilalap Api

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Masyarakat Kota Gorontalo Minta Kasus Terhadap Walikota Dihentikan Polda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Warga Diimbau Pakai Masker di Luar Ruangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antrean BBM Tak Bisa Dijawab Hanya dengan Kalimat “Stok Aman”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kombes Petrus Silalahi Jabat Dirkrimum Polda Gorontalo, Kombes Teddy Rachesna ke Bareskrim 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.